• BANGUNAN YANG TAHAN UJI
  • 1 Korintus 3:12-15
  • Lemah Putro
  • 2026-05-10
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
bangunan-yang-tahan-uji

Shalom,

Rasul Paulus memetaforakan (membandingkan berdasarkan persamaan) dirinya sebagai ahli bangunan (ay. 10) sementara jemaat Korintus adalah ladang Allah dan bangunan Allah (ay. 10). Dia juga memaparkan adanya dasar bangunan dan konstruksi bangunan di atasnya (ay. 12-15). Yang menarik, disebutkan pula adanya hari Tuhan, api yang menguji setiap pekerjaan, ada upah, ada kerugian karena terbakar, diselamatkan namun seperti dari dalam api (selamat dengan susah payah).

Kita tahu budaya di Korintus sangat menghargai penampilan luar, mereka mengagumi pemimpin/pengkhotbah yang karismatik berakibat timbulnya perpecahan di dalamnya. Namun Tuhan tidak pernah tertipu oleh penampilan luar seseorang maupun bentuk pelayanan hebat apa pun. Itu sebabnya api ujian berbicara tentang kualitas pekerjaan untuk membedakan benda-benda (emas, perak, batu permata) yang tahan uji dan kayu, rumput kering, jerami yang cepat sekali terbakar. 

Paulus sendiri tidak mau dielu-elukan bahkan mengingatkan bahwa dia dan Apolos adalah pelayan-pelayan menurut tugas yang diberikan Tuhan untuk membuat jemaat Korintus menjadi percaya (ay. 5). Mereka adalah kawan sekerja Allah (ay. 9).  

Perlu diperhatikan, setiap orang (bukan komunal) bertanggung jawab memerhatikan bagaimana harus membangun di atasnya (ay. 10b). Tindakan membangun ini berlangsung terus-menerus bukan hanya sesaat tetapi dilakukan setiap hari. 

Kalau begitu aspek apa saja yang harus dibangun supaya bangunan itu tahan uji? P3K, yakni:

  • Pengajaran.

Benarkah pengajaran hanya menjadi tanggung jawab seorang pengkotbah, pendeta, penatua sementara jemaat cukup hanya mendengarkan pengajaran Firman yang disampaikan? Rasul Paulus mengemukakan bahwa dia diutus memberitakan Injil salib Kristus (1 Kor. 1:17) dan memberikan (pengajaran) susu karena jemaat masih belum dewasa dalam Kristus dan makanan keras (pengajaran) (1 Kor.  3:2). Dan yang terpenting ialah tidak ada seorang pun dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus (ay. 11). Jadi, tanpa dasar Yesus Kristus, kita akan menghadapi banyak tantangan dan godaan yang dapat menghancurkan kehidupan nikah, pribadi, iman. Kita akan cepat tersandung dan menjadi batu sandungan jika dasarnya bukan Yesus Kristus tetapi sosok manusia sehebat apa pun. 

Introspeksi: apa dasar kita ke gereja? Mengasihi Tuhan? Atau mengagumi pengkhotbah, pendeta, gembala? Atau ada motivasi lain yang terselubung? 

Ternyata di Korintus ada banyak ajaran palsu bagaikan kayu, jerami dan rumput kering yang mudah terbakar. Bahkan Paulus menegur keras jemaat Galatia yang mengikuti injil lain dan memutarbalikkan Injil Kristus (Gal. 1:6-8). Lebih lanjut Paulus juga mengutuk siapa pun termasuk malaikat dari Surga yang memberitakan injil berbeda dengan Injil yang telah diberitakannya (ay. 9). Untuk itu kita (jemaat) harus berani memeriksa apakah Firman Tuhan yang diberitakan berdasarkan Alkitab. Waspada, pengajaran tidak boleh melebihi apa yang tertulis di Alkitab (1 Kor. 4:6) karena akan bertentangan dengan apa yang tertulis. Faktanya, sekarang khotbah, kesaksian dan “ajaran” macam apa pun dapat diakses dengan mudah di banyak channel Youtube. Pemberitaannya bagus-bagus tetapi kita harus waspada kalau melampaui Alkitab, kita tidak bertumbuh tetapi sedang membangun bangunan dari jerami karena kita hanya senang mendengarkan apa yang cocok bagi kita. Kita harus mencontoh jemaat di Berea yang menerima Firman dengan kerendahan hati serta setiap hari menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui apakah semua yang diberitakan itu benar (Kis. 17:10-11). Jangan pemimpin rohani membuat opini pribadi hingga lari dari kebenaran Alkitab! 

Kita harus mengerti makna dan pesan kisah-kisah yang tertulis di Alkitab agar terhindar dari kesalahan yang diperbuat. Contoh:

    • Abram menikahi Hagar atas inisiatif Sarai, istrinya (Kej. 16) karena Sarai tidak melahirkan anak baginya. Anehnya, ketika Hagar mengandung, Sarai malah marah karena merasa tidak dihargai oleh Hagar. Kenyataannya Alkitab mencatat seperti itu; masalahnya, apakah kita juga akan berbuat seperti Abraham yaitu laki-laki dapat menikah lagi asal istri pertama menyetujuinya?  
    • Daud begitu setia kepada Tuhan saat dalam pergumulan tetapi ketika sudah menjadi raja dan banyak diberkati, dia mulai berbeda. Dia mengambil istri orang lain bahkan membunuh suaminya dengan meminjam tangan orang lain (2 Sam. 11). Namun Tuhan masih berkemurahan dengan mengutus Nabi Natan untk memperingatkan dia melalui perumpamaan orang kaya yang mempunyai banyak kambing domba tetap merampas domba milik orang miskin untuk menjamu tamu (2 Sam. 12). Ternyata perumpamaan itu ditujukan kepada dirinya. Daud menyesal dan bertobat tetapi anaknya meninggal. Dia harus menerima banyak konsekuensi antara lain bila dia meniduri Betsyeba dengan sembunyi-sembunyi, selir-selirnya ditiduri oleh anaknya, Absalom, dengan terang-terangan (2 Sam. 16:22). Apakah kisah ini menginspirasi kita bahwa selingkuh diperbolehkan? 

Cerita Alkitab di atas menjadi pengajaran agar kita tidak boleh membangun opini pribadi. Untuk itu kita perlu membangun pengajaran yang Alkitabiah setiap hari. 

  • Pelayanan. 

Setiap dari kita bertanggung jawab membangun pelayanan sesuai dengan Firman Tuhan. 

Dikatakan dasar bangunan sudah diletakkan yaitu Yesus Kristus, dilanjutkan membangun pengajaran dan pelayanan di atasnya entah dari emas, perak, permata, kayu, rumput kering atau jerami (1 Kor. 3:12). Baik “menanam” maupun “menyiram” sama-sama merupakan bentuk pekerjaan/pelayanan.

Bicara soal pelayanan, jemaat Korintus sangat antusias dengan karunia Roh yang luar biasa tetapi ternyata di dalamnya terjadi persaingan dan membanding-bandingkan. Mereka sedang membangun dengan jerami, rumput kering dan kayu yang mudah sekali terbakar. Sesungguhnya, pelayanan apa pun yang dikerjakan kalau dasarnya bukan kasih, ini adalah gong dan canang yang bergemerincing (1 Kor. 13:1). 

Dikatakan pula ada upah kalau tahan uji karena membangun dengan emas (ay. 14) dan motivasi pelayanannya ialah mengasihi Tuhan dan sesama. Di luar ini mengalami kerugian besar karena terbakar walau orangnya sendiri selamat (ay. 15). Upah di sini bukan berupa keselamatan karena kita telah diselamatkan (sebagai dasar pelayanan) oleh kasih karunia Allah semata. Jadi, pelayanan yang buruk sungguh merugikan; sebaliknya jika kita sungguh-sungguh melayani Dia, jerih payah kita tidak sia-sia (1 Kor. 15:58) dan kita akan beroleh upah mahkota seperti dikatakan Rasul Paulus menjelang kematiannya (2 Tim. 4:6-8). 

Introspeksi:  apa motivasi kita setiap kali mau pelayanan? Apakah karena jadwal tugas yang harus dipenuhi? Atau kita mengasihi Tuhan dan ingin memuliakan-Nya? Atau karena ingin mendapatkan pujian? Atau iming-iming berkat kalau melayani? Ingat, Tuhan kita itu adil. Semua orang diberi kesempatan beroleh keselamatan tetapi untuk membangun di atasnya merupakan tanggung jawab pribadi. Hendaknya kita bekerja/melayani dengan segenap hati seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia karena kita akan menerima upah  (Kol. 3:23-24). Kita tidak perlu berkecil hati kalau pelayanan kita tidak diakui orang. Validasi dari manusia tidaklah penting karena kita melayani Tuhan. Di hari Tuhan, semua akan tampak apakah pengajaran dan pelayanan kita adalah emas atau jerami, perak atau rumput kering. Tuhan tidak mudah ditipu dengan giat dan hebatnya pelayanan yang tampak indah di luar. Jika kita setia dalam pelayanan walau tidak banyak orang tahu, ini adalah emas. Sebaliknya, pelayanan besar yang banyak dilihat orang tetapi motivasinya salah, ini kayu dan jerami. 

  • Pengaruh. 

Teriakan orang-orang yang menyebut golongan Apolos, Paulus atau Kefas pasti memengaruhi orang yang mendengarnya padahal bangunan Allah hanyalah satu (1 Kor. 3:9). Ini menunjukkan gambaran indah tentang persatuan di mana kita (orang banyak) dari latar belakang beda dibangun menjadi satu bangunan. Artinya,  pekerjaan dan pembangunan kita pribadi mempunyai pengaruh terhadap seluruh bangunan. Contoh: omongan seorang koordinator/pemimpin memengaruhi anak buah untuk didengar dan dilakukan. Perkataan dapat menimbulkan pengaruh merusak atau membangun. 

Aplikasi: kalau kita mendapat kepercayaan memimpin satu komunitas pelayanan hendaknya berhati-hati dalam mengeluarkan kata-kata karena berdampak menguatkan atau malah melemahkan iman anggota yang dipimpinnya. Pengaruh perkataan apa yang kita lontarkan kepada keluarga dan orang-orang di sekitar ketika kita menghadapi tantangan dan masalah? Apakah postingan kita di sosmed membangun atau tidak? Memberi pengaruh baik atau malah bernada ejekan merendahkan orang? Hendaknya perkataan pemimpin berpengaruh untuk membawa timnya makin dekat dengan Kristus; ini membangun dari emas, perak, dan batu permata. 

  • Karakter. 

Kita adalah Bait Allah dan Roh Allah diam di dalam kita (1 Kor. 3:16). Roh Allah itu kudus (ay. 17). Identitas jemaat Korintus adalah orang-orang kudus (1 Kor. 1:2). Jadi, kalau Roh Allah berdiam di dalam kita, yang tampak dan terbangun adalah buah Roh (Gal. 5:22-23).

Kita sering mendengar hendaknya kita berkarakter seperti Kristus, apa ukuran karakter Kristus itu? Terbangun dan termanifestasi melalui buah Roh. Sudahkah dalam diri kita ada karakter buah Roh, yakni: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan,kebaikan, kesetaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri? Atau masih ada perselisihan dan iri hati sebagai wujud perbuatan daging yang menimbulkan perpecahan seperti terjadi di jemaat Korintus? 

Karakter merupakan kebiasaan yang dibangun setiap hari. Kita harus membangun karakter Kristus walau masih jatuh bangun. Jangan putus asa karena Tuhan sanggup menolong kita dalam proses membangun karakter kudus ini!  

Untuk menjadi bangunan yang tahan uji, kita harus dibangun oleh pengajaran kebenaran Alkitab. Kita harus dapat menguji setiap ajaran dan doktrin agar tidak mudah terseret dan tergoyahkan oleh ajaran sesat yang tidak Alkitabiah. Motivasi pelayanan kita harus benar yaitu karena mengasihi Tuhan dan sesama bukan karena terpaksa atau ingin pujian. Juga pengaruh yang kita miliki hendaknya berdampak positif, membangun iman orang di sekitar kita bukan malah menjadi batu sandungan. Tak ketinggalan kita membangun karakter Kristus yang terlihat dalam penampilan keseharian hidup sebagai hasil dari buah Roh.  

Pada akhirnya api ujian pasti datang untuk membuktikan apakah kita akan menerima upah atau menderita rugi. Oleh sebab itu mari kita membangun bangunan di atas dasar Yesus Kristus dengan emas, perak dan batu permata yaitu: pengajaran yang benar, pelayanan yang murni, pengaruh yang membangun iman positif, dan karakter yang kudus. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: