• PELAYAN KRISTUS YANG BERINTEGRITAS
  • 1 Korintus 4:1-5
  • Lemah Putro
  • 2026-06-07
  • Pdm. Mario Gani
  • Video Ibadah (Youtube): KLIK DISINI
pelayanan-kristus-yang-berintegritas

Shalom, 

Sesuai dengan tema “Pelayan Kristus yang Berintegritas”, terlebih dahulu kita harus memahami apa arti dari kata “integritas” yang menjadi salah satu standar yang dibutuhkan di dalam dunia pekerjaan, perkuliahan bahkan dalam pelayanan. 

Definisi dari intergritas ialah: mutu, sifat, keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh (integer) sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Singkatnya, apa yang ada di dalam hati dan yang keluar dalam perkataan atau apa yang ada di pikiran dan yang dilakukan itu utuh, sama.

Integritas merupakan standar yang tinggi untuk kualitas seseorang di mana maksud hati, perkataan dan perbuatan itu sama. Standart ini sering kita pakai untuk menilai seseorang. Bukankah kita tanpa sadar dalam hitungan menit sudah menilai banyak orang? Contoh: bangun pagi sudah menilai apa yang diperbuat oleh pasangan kita, anak-anak yang sedang ribut, menilai pengendara yang memotong jalur kendaraan kita, bahkan di gereja pun kita menilai pelayanan yang dilakukan oleh para pelayan Tuhan yang bertugas.

Memang penilaian merupakan “SOP” dalam sebuah perusahaan saat menerima karyawan baru untuk mengetahui bagaimana rekam jejaknya, apa tujuan melamar di perusahaan tersebut, mengapa sering pindah pekerjaan dll. Setelah diterima, masih ada masa percobaan untuk menilai apakah dia layak/tidak layak diterima sebagai karyawan tetap dst. 

Ternyata suatu penilaian berkembang menjadi “penghakiman” sebagai keputusan final. Contoh: setelah menilai, perusahaan kemudian memutuskan apakah karyawan di masa percobaan dapat lanjut bekerja atau tidak di perusahaan itu. Juga saat melakukan kontrak kerja di dalam bisnis, kita dapat menilai apakah termin pembayaran selalu dilunasi tepat waktu atau ancang-ancang memutuskan kontrak karena makin lama makin mundur pembayarannya. Begitu pula di dalam pelayanan.

Bagaimana seharusnya pelayan Kristus dinilai menurut 1 Kor. 4:1-2? 

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus (bhs. Yun. huperetes = servant) dan pengelola-pengelola (bhs. Yun. oikonomos = stewards = manager, superintendent) yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah bahwa mereka ternyata dapat dipercayai (bhs. Yun. pistos = trustworthy).”

  • Setara tidak dibeda-bedakan. 

Disini Paulus menegaskan bagaimana seharusnya orang memandang/menilai “kami”, artinya para pelayan Kristus ini setara. Namun benarkah kedudukan para pelayan Kristus seperti gembala dan penatua setara? Atau koordinator bidang pelayan setara dengan anggotanya? Dalam hal apa mereka disamakan atau disetarakan? Rasul Paulus melihat dalam jemaat Korintus terjadi pengelompokan-pengelompokan untuk mengunggulkan idola mereka masing-masing dan merendahkan golongan lain (1 Kor. 1:12). Memang harus diakui mereka (Paulus, Apolos, Kefas) beda orang, jabatan, karunia, kapasitas, posisi termasuk jasa. 

Siapa yang dimaksud “kami”?

    • Paulus (Kis. 18:1-18)

Paulus paling berjasa bagi gereja Korintus karena dia merintis dari nol, dapat disebut sebagai founding father. Dia datang dan tekun mengajar setiap hari Sabat untuk meyakinkan orang-orang Korintus yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Tentu hal ini tidak mudah, diperlukan kesabaran dan ketekunan namun pada akhirnya membuahkan hasil gereja Korintus. Bahkan dikonfirmasi oleh Tuhan sendiri agar dia terus memberitakan Firman sebab Tuhan menyertai dan melindunginya (ay. 8).

    • Apolos (ay. 24-28).  

Apolos datang belakangan, jasanya kalah dibandingkan dengan Paulus. Namun Apolos mempunyai kelebihan sendiri yakni dia fasih bicara, bagaikan motivator hebat tetapi omongannya tidak kosong alias berbobot karena mahir Kitab Suci. Dia pemberani, guru dan apologet yang menjelaskan Firman Tuhan bahkan juga membantah tuduhan orang-orang yang menyerang kekristenan. 

    • Kefas disebut sokoguru jemaat (Gal. 2:9), pemimpin utama di Yerusalem. Dia adalah murid Yesus dan disuruh Yesus menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15-17). Dia termasuk pemimpin senior. 

Tidak dapat dipungkiri masing-masing memiliki kelebihan sendiri-sendiri namun Paulus mau meluruskan penilaian jemaat Korintus. Dia tidak menyangkal adanya perbedaan (1 Kor. 3:6) dan jasanya yang mana dia bekerja lebih keras daripada mereka (1 Kor. 15:10) tetapi dia tetap menekankan “kami” bukan “aku”. Contoh: jemaat gereja terdiri dari aneka ragam latar belakang budaya, pendidikan, usia, pengalaman, karunia, jabatan dll. yang tidak perlu disangkal tetapi di dalam semua perbedaan itu, kita sama dan setara di hadapan Tuhan. 

Kalau begitu apa yang dimaksud dengan kesetaraan? Kesetaraan di sini bukan kesamaan peran tetapi kesamaan status di hadapan Kristus, yakni:

  • Setara karena sama-sama milik Kristus. 

Paulus, Apolos dan Kefas berbeda dalam fungsi dan kontribusi tetapi identitas mereka sama yaitu hamba Kristus. Tidak ada yang menjadi “tuan” atas gereja.

  • Setara karena sama-sama bukan pemilik.

Paulus memakai istilah “hamba” dan “pengelola”. Seorang pengelola diberi tanggung jawab berbeda-beda tetapi semua mengelola miliknya orang lain. 

Gereja bukanlah milik pendeta atau orang penting/berpengaruh di dalamnya tetapi kepunyaan Tuhan semata. Karena kita bukan pemilik, buat apa kita menonjolkan diri merasa lebih dari yang lain? 

  • Setara sehingga tidak layak dikultuskan.

Kita harus menghormati pemimpin-pemimpin rohani tetapi tidak boleh mengkultuskan seorang pun sebab mereka sama-sama hamba bukan pemilik. Dengan demikian jemaat tidak boleh membangun kubu-kubu.

Jadi pelayan Kristus yang berintegritas menyadari bahwa dia setara dengan pelayan-pelayan Tuhan lainnya karena semuanya milik Kristus dan bukan pemilik pelayanan. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk mencari dan menerima pengultusan pribadi. Tidak ada yang menjadi pemilik gereja selain Tuhan sendiri sehingga hanya Dia yang layak dipermuliakan.

  • Tunduk. 

Pelayan (hbs. Yun. diakonos = one who executes the commands of others) di 1 Korintus 3:5 menekankan fungsi dan jenis pelayanan (ay. 6). 

Pelayan (bhs. Yun. huperetes = servant, underrower) di Korintus 4:1 lebih menekankan pada status/posisi sebagai bawahan/asisten/petugas. 

Ilustrasi: seorang petugas partai (bawahan) harus tunduk kepada pemimpin partai. Huperetes (=underrower) → dahulu di bagian bawah dek kapal perang menjadi tempat para pendayung untuk mendayung dengan cepat agar tidak dikejar oleh musuh. Mereka sebagai bawahan harus tunduk pada komando dari atasan. 

Istilah huperetes dipakai oleh Paulus untuk menggambarkan posisi kita adalah di bawah Kristus dan bertanggung jawab penuh menjalankan perintah-Nya. Sebagai pelayan Tuhan, kita harus bekerja sungguh-sungguh di bawah komando Kristus. Oleh sebab itu kita tidak perlu mencari kemuliaan pribadi karena kita hanyalah  bawahan dan pelaksana tugas. Kita adalah hamba tidak berguna yang melakukan apa yang harus dikerjakan (Luk. 17:10).

Jadi pelayan Kristus yang berintegritas tidak dipanggil untuk memimpin kehendaknya sendiri tetapi untuk tunduk pada kehendak Tuhan. 

Apakah dalam posisi sebagai pelayan/pesuruh, kita menjadi tidak mempunyai kreasi dan inisiatif lalu mencari aman ketika ditemui adanya kesalahan dalam menjalankan tugas dengan memberikan alasan “kami hanya menjalankan tugas”? 

Paulus dalam tuntunan Roh Kudus menulis bahwa kita bukan hanya pelayan tetapi juga pengelola-pengelola yang berintegritas. Maksudnya?

  • Tepercaya.

Pengelola memiliki tanggung jawab besar bukan sekadar melaksanakan komando dari atasan tetapi juga ikut dalam perencanaan, memikirkan strategi, menghitung anggaran, mengambil tindakan ketika menghadapi kendala dan masalah dll. 

Seorang pengelola dituntut mampu mengurus suatu pekerjaan dan untuk itu harus seorang yang tepercaya dan setia.  

Mengapa seorang pengelola dituntut memenuhi prasyarat yang ditentukan? ilustrasi: jabatan pengelola tidak main-main sebab jatuh-bangunnya suatu perusahaan ada di dalam tangannya. Untuk itu perlu diperhitungkan persyaratan yang harus dipenuhi seperti: cukup pengalaman, jam terbang tinggi, track record baik dll. Seorang manager dan direktur ditarget harus ada pencapaian-pencapaian tidak boleh stagnan apalagi turun omzetnya. Pemilik pasti mengharapkan perusahaannya untung dan berkembang makin maju bukan malah bangkrut. Bukankah banyak terjadi sebuah perusahaan atau pabrik yang sudah perkembang tiba-tiba bangkrut karena pengelola yang dipercayai akhirnya menyeleweng dan mengorupsi uang perusahaan? Demikian pula sebagai imam-imam dan pelayan Kristus, kita pun dituntut agar setia dan dapat dipercaya/diandalkan.  

Umumnya pengelola bekerja tanpa kehadiran pemilik yang mempunyai urusan dan kesibukan-kesibukan lain. Itu sebabnya pengelola harus dapat dipercaya. Jujur, kita sering tidak menyadari kehadiran Tuhan yang mahatahu kemudian kita sebagai pengelola bekerja asal-asalan karena merasa tidak diawasi oleh-Nya. Di sini kita diuji apakah kita adalah pengelola yang berintegritas tetap melakukan kehendak Pemilik walau tanpa pengawasan dari-Nya. Contoh: Yusuf dipercaya sebagai pengelola ketika bekerja di rumah Potifar kemudian terkena kasus dia dipenjara. Di penjara dia dipercaya oleh kepala penjara sampai akhirnya dia dibebaskan dan dipercaya menjadi pengelola seluruh negeri Mesir. Juga perumpamaan 5, 2, 1 talenta yang diberikan kepada hamba-hambanya untuk dikelola kemudian Sang Pemilik pergi. Dari sini terlihat apakah pengelola dapat dipercaya ketika pemiliknya datang. Ternyata 5 berkembang menjadi 10 talenta, yang 2 menjadi 4 tetapi yang 1 tetap 1 berarti hamba ini tidak dapat dipercaya. 

Perhatikan, pengelola-pengelola ini dipercayakan rahasia (mysteries) Allah itulah Injil keselamatan yang “tersembunyi” selama berabad-abad mempertanyakan siapa Mesias hingga terjawab dengan kedatangan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat manusia berdosa. 

Introspeksi: apa yang Tuhan percayakan kepada kita? Tentu tidak semua dari kita menjadi penginjil yang dapat berkhotbah tetapi apa pun pelayanan kita – main musik, ushers, multimedia, dll. – dalam rangka mengelola rahasia Allah, lakukan dengan penuh dedikasi dan setia sebagai orang yang dapat dipercaya baik di dalam maupun luar gereja. Hendaknya predikat pelayan Kristus dan pengelola Injil Allah melekat dalam hidup kita yang terlihat melalui sikap, tutur kata, tindakan dan perilaku kita sehari-hari. Sudahkah kita mencerminkan pelayan Kristus serta pengelola rahasia Allah yang berintegritas? Juga menyadari sekalipun berada di tengah-tengah perbedaan (pendidikan, kekayaan, kedudukan dll.), kita tetap setara dan sama tidak gampang merendahkan orang lain.

Marilah kita menjadi pelayan Kristus serta pengelola rahasia Allah yang berintegritas ditandai dengan: menyadari bahwa kita setara, sama-sama umat Tuhan (bukan pemilik) walau beda latar belakang dan peranan sehingga tidak perlu terjadi pengultusan pribadi. Kita tunduk kepada Allah dan kehendak Firman-Nya serta menjadi pribadi yang tepercaya di dalam melaksanakan dan mengelola tugas pelayanan yang diberikan oleh-Nya hingga ditemukan kita setia dan tetap berkomitmen sampai akhirnya saat Pemilik pelayanan datang menilai hasil pekerjaan kita. Amin.

  • Video Youtube Ibadah: