Shalom,
Kita harus sadar bahwa tubuh kita adalah milik-Nya Tuhan dan perlu dirawat baik-baik karena Roh Kudus berdiam dalam kita (1 Kor. 6:19). Jangan tubuh kita dipakai untuk pekerjaan-pekerjaan yang menghina Allah sebab Ia menghargai tubuh kita. Tubuh kita bukan lagi milik kita sebab telah dibeli oleh darah Kristus. Dan jangan lupa jiwa dan roh kita “menumpang” dalam kita. Mereka membutuhkan makanan rohani yang bergizi itulah Firman Allah.
Selain menjaga tubuh (bait Allah) dengan baik, kita juga diminta untuk menjadi pelayan Kristus yang berintegritas. Apa itu integritas? Kejujuran, ketulusan, sukarela, sukacita, ikhlas, benar, ketaatan, tidak berontak dll.
Sebagai pelayan-pelayan Kristus hendaknya kita hidup berintegritas. Biarlah roh kita menyala-nyala dalam melayani Tuhan dan tidak memadamkan Roh Kudus dengan hidup dalam kekudusan.
Harus diakui hidup berintegritas tidaklah mudah untuk dicapai. Saulus, pembenci dan pembunuh pengikut Yesus, berubah total setelah berjumpa dengan Tuhan. Melalui proses untuk pembaruan hidup dia menjadi bapa gereja yang berintegritas. Kita juga akan atau sedang mengalami proses yang sama asalkan kita bersedia diubahkan dan menyadari tubuh kita adalah bait Roh Allah yang kudus.
Bila Allah agama lain begitu jauh tidak tersentuh, Allah kita jauh (transenden) sekaligus dekat (imanen) bertabernakel dalam hidup kita. Oleh sebab itu marilah kita menjaga jiwa di mana terdapat pikiran, perasaan, and kemauan di dalamnya juga perlu diproses.
Setiap dari kita pasti diproses melalui masalah (besar) untuk ditaklukkan bersama Tuhan agar kita muncul sebagai pelayan Kristus yang berintegritas. Contoh: Daud diproses dengan menghadapi raksasa Goliat; dikejar-kejar oleh Raja Saul, mertuanya, untuk dibunuh dsb. Demikian pula kita diproses untuk memiliki karakter setia, taat, tulus, sabar dll.
Introspeksi: apakah kita bersedia memikul salib dapat pengikutan dan pelayanan kita kepada Tuhan? Atau kita tidak mampu memberikan persembahan hidup kita karena lebih tergiur dengan tawaran dunia?
Paulus berani berkurban ketika memberitakan Injil, dia tidak bergantung pada jemaat tetapi bekerja sendiri menjadi tukang kemah (Kis. 18:3).
Kedispilinan dan ketertiban dalam hidup juga termasuk integritas. Kita datang beribadah maupun melayani Tuhan tidak asal-asalan atau semau gue. Selain itu dapat dipercaya dalam perkara keuangan dan perkataan juga termasuk integritas.
Bagaimana reaksi kita saat menghadapi orang-orang yang tidak puas dengan pelayanan kita kemudian menghakimi kita? Walau difitnah kita tetap ramah, dikhianati tetap memberkati mencontoh teladan Yesus yang mengucapkan kata-kata pengampunan saat Ia di atas kayu salib (Luk. 23:34). Siapa yang menyalibkan Dia? Ahli Taurat, orang Farisi, tentara Romawi, orang-orang yang telah disembuhkan oleh-Nya. Mereka tidak mau diproses lebih lanjut untuk memiliki karakter integritas.
Paulus sebagai hamba Kristus yang dipercayakan rahasia Allah sadar adanya cacian dan pujian. Sebagai orang yang berintegritas, dia tidak ingin mencari hormat manusia sebab pujian dan cacian dari manusia tidak konsisten dapat berubah sewaktu-waktu. Rasul Paulus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus, pikirannya tidak menyimpang ke kiri maupun ke kanan sebab dia tahu manusia gampang menghakimi dan sulit memuji.
Aplikasi: kita harus dapat dipercaya dan dalam kondisi apa pun kita mampu menjaga mulut agar tidak mudah mencaci maki atau menghakimi orang karena mulut termasuk anggota tubuh yang menjadi milik Tuhan. Juga dalam pelayanan, dapatkah kita dipercaya tanpa “kehadiran” (fisik) Pemilik bait Allah? Biarlah tubuh, jiwa dan roh kita dapat senantiasa memuji serta memuliakan Tuhan.
Tuhan adalah Hakim yang adil dan Dia memberikan bagian-Nya kepada orang yang mengasihi-Nya (Mzm. 127:2). Agar dapat menjadi orang yang dikasihi-Nya, kita harus hidup dalam kekudusan dan menjaga tubuh kita dari pencemaran jasmani maupun pencemaran rohani. Juga jangan mendukacitakan Roh Kudus yang berdiam dalam kita. Relakan diri untuk mau diproses dengan membuang sifat dengki, iri hati yang dapat menyebabkan pembunuhan seperti dilakukan oleh Kain dan saudara-saudara Yusuf.
Bagaimana langkah kita ke depan? Kita harus sadar bahwa kita “menumpang” di dunia ini; untuk itu pergunakan waktu dan kesematan yang masih ada untuk diproses melawan “raksasa” dari luar dan dalam itulah iri hati dan dengki. Sebagai pelayan Kristus, kita dapat dipercaya di dalam tugas pelayanan. Kita juga komitmen menjaga tubuh, jiwa dan roh kita untuk hidup tertib dan berintegritas tinggi sebab Tuhan menghargai tubuh kita bahkan membelinya dengan darah-Nya sendiri untuk dimiliki-Nya. Amin.