Setelah kita memperoleh jawaban mengapa mempelajari Tabernakel, kini kita memasuki makna-makna rohani (“teologis”) bagian-bagian Tabernakel yang akan diawali dengan makna rohani Tata Ruang Tabernakel.
Mengutip pernyataan John Flipse Walvoord bahwa kemah sembahyang (Tabernakel) dalam setiap bagiannya berbicara mengenai Kristus dan di masa kini lebih kaya artinya bagi kita dibandingkan bagi orang kudus Perjanjian Lama yang hanya samar-samar mengerti semua gambaran/tipe ini. Untuk memahami Tabernakel ini didasarkan pada pendekatan yang disebut “tipologi” atau pemahaman tentang “tipe-tipe”.
Penjelasan tentang “tipologi” berikut ini mungkin terasa teoretis atau “teologis” bagi pembaca yang menginginkan bacaan praktis namun tetap perlu dijelaskan karena ada pembaca yang menginginkan penjelasan teoretis atau bersifat sedikit akademis untuk menjawab pertanyaan, “Koq bisa diartikan, ditafsirkan seperti itu, metode apa yang digunakan”? Maka diperlukan penjelasan yang diusahakan ringkas, sederhana sebagaimana berikut ini, kiranya dapat dipahami.
Konsentrasi dalam memahami Alkitab dapat terbagi dua, lebih ke Perjanjian Lama (P.L.) atau lebih ke Perjanjian Baru (P.B.) padahal satu Alkitab. Beberapa ahli Alkitab yang meneliti ternyata P.L. dan P.B. sebenarnya tak terpisahkan karena banyak nubuat P.L. digenapi di P.B., banyak penuli P.B. mengutip ayat-ayat P.L., dan beberapa kali Tuhan Yesus menyatakan bahwa Diri-Nya, dalam aspek tertentu, lebih besar dari tokoh-tokoh P.L. (Mat.12:40-42), juga dari Lembaga Ibadah (institusi agama) P.L. (Mat.12:1-8). Paulus menyatakan bahwa Adam secara bertolak belakang adalah gambaran Yesus (Rm.5:14). Yesus sendiri beberapa kali disebut Anak Daud (Mat.9:27; 15:22; 20:30-31; 21:9,15; 22:43; Mrk.10:47-48; Luk.18:38; 18:39).
Contoh-contoh di atas mendukung adanya “tipologi”. Tipologi terdiri dua kata, “tipe” dan logi/logos, artinya pengetahuan tentang “tipe”. Tokoh, lembaga, peristiwa, benda, tempat/lokasi, hukum, peribadatan di P.L. menjadi “tipe” bagi tokoh, lembaga, peristiwa, benda di P.B. yang memiliki kesamaan, kesejajaran, atau bertolak belakang (berlawanan), dalam aspek tertentu.
Selain memahami Tabernakel dan bagian-bagiannya dengan pendekatan “tipologi”, kita perlu memerhatikan arti “simbolis” dari material, warna, dan bentuk. Alasannya, jika Tuhan memerintahkan secara rinci untuk memakai material logam atau kayu, material kain tertentu dengan warna-warna khasnya, juga bentuk tertentu, maka Tuhan memakainya dengan maksud simbolis yang dipahami umat di masa-masa itu. Arti simbolis pada masa itu berbeda dengan arti simbolis di masa kini karena berbeda etnis, negara, sejarah, dan zaman.
Kini marilah kita bayangkan memasuki Tabernakel, kita akan melalui tiga area, yang pertama area Pelataran (Kel. 27:9a) kemudian area Tempat Kudus, dan yang terakhir adalah area Tempat Maha Kudus (Kel.26: 33). Ketiga area tersebut, termasuk setiap bagiannya beserta setiap perabotnya harus dibuat menurut contoh yang ditunjukkan Allah di atas gunung kepada Musa (Kel.25:8-9); jika tidak, maka fungsi Tabernakel sebagai Kemah Pertemuan di mana dilaksanakan pelayanan pendamaian dengan Allah tidak akan pernah terjadi.
Setiap area hanya memiliki satu akses, di mana setiap akses memiliki tirai dan khusus akses ke Tempat Maha Kudus disebut tabir karena menjadi pemisah dengan Tempat Kudus (Kel.26:33) dan penudung bagi Tabut Hukum sebagai satu-satunya perabot Tempat Maha Kudus (Kel.40:1-3). Tabut Hukum adalah perabot di mana di atasnya terdapat Tutup Pendamaian dan di sana TUHAN Allah Israel berdiam dan tidak boleh sembarangan dimasuki meskipun oleh imam besar, pejabat tertinggi ibadah Israel (Im.16:1-2).
Tabir, berbeda dengan tirai akses Pelataran dan Tempat Kudus, memiliki sulaman kerub-kerub (Kel.26:31), merupakan gambaran (“tipe”) dari penjagaan kerub-kerub di akses Timur taman di Eden untuk mencegah manusia berdosa memasukinya. Langkah-langkah atau “pola” pendamaian antara manusia dengan Allah digambarkan (“ditipekan”) melalui ketiga akses Tabernakel ini.
Imam besar akan memasuki akses ke area Pelataran untuk mempersembahkan kurban penghapus dosa bagi umat Allah kemudian darah kurban dibawa masuk melalui akses ke Tempat Kudus sampai menyibakkan tabir dengan sulaman kerub-kerub tersebut dan berdiri di depan Tabut Hukum untuk memercikkan darah kurban penghapus dosa tersebut ke atas Tutup Pendamaian di atas Tabut Hukum dan ke depannya maka apa pun dosa umat, dihapuskan Allah (Im.16:5,7-9,15-16). Disibakkannya tabir dengan sulaman kerub-kerub untuk terlaksananya pemercikan darah kurban penghapus dosa menggambarkan bahwa hanya oleh darah, dosa dapat diampuni (Im.17:11; Ibr.9:22) dan kerub-kerub penjaga akses ke taman di Eden menghentikan sambaran pedang-pedangnya.
Langkah-langkah (pola) pendamaian oleh imam besar manusia ini merupakan “tipe” bagi pola pendamaian Imam Besar Yesus Kristus untuk mendamaikan dosa seluruh orang yang percaya kepada-Nya, pelayanan yang jauh lebih agung dari pelayanan imam besar manusia (Ibr. 8:1-6). Tata ruang Tabernakel dengan tiga area dan akses di setiap area adalah gambaran (“tipe”) pola langkah iman kita yang percaya bersama Imam Besar Kristus untuk dilayani pelayanan pendamaian-Nya (Ibr. 9:6-14) agar setiap dosa yang kita akui kepada-Nya, diperdamaikan dan diampuni-Nya.
Kepada penjahat yang disalibkan bersama Yesus, yang mengakui Yesus sebagai raja, Yesus berkata, “...sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk.2:31-35). Kerub-kerub penjaga akses ke taman di Eden dengan pedang menyambar-nyambar (Kej.3:24) telah diakhiri tugasnya karena kurban sempurna Yesus Kristus yang menggenapi “protoevangelium” (baca Kisah Allah dan Kita di halaman depan).
Hanya dengan memercayai Kristus yang berkurban mati di kayu salib, manusia berdosa apa pun juga dosanya mendapat akses kembali ke Eden setelah diperdamaikan oleh darah-Nya melalui pelayanan-Nya sebagai Imam Besar Surgawi.