• Topik: Kisah Allah dan Kita
  • MOVE ON DARI KONFLIK
  • Jusak Pundiono

Pendahuluan

Hidup adalah belajar dan selalu dalam proses pembelajaran yang tak pernah berakhir. Kisah Kejadian 14 dan 15 mengajak orang percaya untuk belajar “move on” dari bapa orang percaya, Abraham (Rm. 4:16; Gal. 3:7) bahkan saat namanya masih Abram. “Move on” adalah tindakan progresif melangkah ke arah lebih baik dengan menerima kenyataan sekaligus belajar memiliki sikap baru dan positif terhadap peristiwa masa lalu yang negatif demi membangun diri untuk masa depan yang lebih baik daripada meratapi putus cinta, pasangan hidup dipanggil Tuhan, kerugian dan kegagalan bisnis, dikhianati partner kerja dsb. Jika tidak, kita dapat mengalami gangguan kesehatan fisik dan psikis, produktivitas, hubungan sosial dll. Sebagai orang percaya, anak-anak Abraham, ayolah “move on”.

Move on mengasihi orang penyebab konflik

Pasca konflik dengan Lot, Abram dapat “move on” menjalani negeri yang dijanjikan sesuai Firman TUHAN (13:14-17). Namun ia tidak mementingkan diri, ia “move on” membebaskan Lot yang ditawan, karena raja Sodom di mana Lot menetap, dikalahkan musuh (14:1-12). Panggilan Abram untuk mejadi berkat (12:1-3) harus ditunaikan dengan lebih dahulu menolong Lot, kerabat dekatnya.

Abram pernah gagal menjadi berkat untuk perkawinannya sendiri ketika mengungsi ke Mesir karena takut mati sehingga “membiarkan” istrinya, Sarai, dibawa ke istana Firaun untuk diperisteri Firaun (Kej.12:10-20). Kasihnya kepada istri tidak mampu mengalahkan ketakutan dan kecintaan pada diri sendiri. 

Belajar dari kegagalan tersebut, kini Abram “move on” mengasihi orang yang pernah berkonflik dengannya. Tindakan ini layak dilakukan orang yang memanggil nama TUHAN seperti Abram (13:4), juga sebagai orang yang dipanggil menjadi berkat, yang olehnya semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat, Abram harus menjadi berkat dengan mengasihi orang yang pernah berkonflik dengannya. Natal yang dirayakan dua bulan lalu menyaksikan bahwa Allah mengasihi manusia yang berkonflik dengan-Nya, IA memberikan Yesus lahir sebagai wujud kasih Allah, rela turun dari Surga, mengurbankan diri-Nya menolong manusia yang menyambut kasih-Nya untuk bertobat dari dosa-dosa penyebab konflik dengan Allah. Inilah teladan mengasihi sesama yang harus diterapkan setiap orang yang dosa-dosa konfliknya dengan Allah telah diampuni.

Move on agar menjadi kesaksian

Mengalah adalah demi mencegah konflik berkepanjangan sementara Lot yang mementingkan diri sendiri, tampak tidak berusaha mencegah para gembalanya untuk tidak berkonflik dengan para gembala pamannya. Hidup adalah suatu proses, termasuk dalam meraih kesuksesan, namun tidak bagi generasi instan. Mungkin Lot adalah tipe demikian, tipe yang tidak menjadi kesaksian. Langkah Abram menjadi kesaksian betapa mulia hatinya karena berpegang pada janji Allah. Dengan menolong sang keponakan, kesaksian hidupnya nyata lebih mulia lagi, memberi teladan khususnya bagi para gembala ternaknya yang pernah terlibat konflik hingga adu fisik dengan para gembala Lot (13:6-7a).

“Move on” dengan menolong Lot juga menghapus gosip liar yang bisa timbul dari persepsi negatif bahkan aib karena perkelahian para gembalanya dengan para gembala sang keponakan yang bisa saja menjadi berita viral di antara orang-orang Kanaan dan Feris, penghuni setempat (13:7b).

Mereka melihat kesaksian mulia orang yang menyeru Nama TUHAN dan membuat mezbah di tengah-tengah mezbah-mezbah pemberhalaan di negeri itu (12:7-8; 13:1-4). Kesaksian moral ilahi penyembah Allah yang benar dan ada, yang berbeda dan melebihi standar moral para penyembah berhala. Inilah sepatutnya moral orang percaya, yang ber-TUHAN sebagai Allah yang nyata, bukan Allah imajinatif berbentuk berhala-berhala dengan mezbah-mezbahnya.

Abram “move on” menjadi kesaksian mulia, juga bagi raja Sodom dan masyarakatnya yang terkenal sangat jahat dan berdosa terhadap TUHAN (13:13), yang semoga mendatangkan pertobatan mereka sehingga jika kelak TUHAN memutuskan untuk menghukum kejahatan dan dosa mereka, ada orang-orang yang sudah bertobat seperti harapan Abram (bnd. 18:23).

Kerugian apa pun akibat perlakuan sesama terhadap orang percaya yang terpanggil menjadi berkat menunjukkan standar moral ilahi dalam tindakan mulia, menolong mereka yang telah merugikan (bnd. Luk.6:2-28), menjadi kesaksian mulia bagi sesama orang percaya juga yang belum percaya bahkan bagi para pembenci Yesus Kristus, satu-satunya jalan kepada Allah yang benar dan hidup kekal (Yoh.14:6; 1Yoh.5:20), dan bagi para pembenci orang percaya karena Yesus Kristus (Yoh.15:18-20). Siapa tahu kelak mereka menanggapi anugerah Allah dan diselamatkan melalui kesaksian hidup moral ilahi orang percaya yang dibencinya. Dengan demikian orang percaya adalah anak-anak Abraham, terlebih lagi, anak-anak Allah, Bapa Surgawi (Mat.5:43-45).

Move on agar memuliakan Allah

Raja Kedorlaomer dan sekutunya mengalahkan orang Refaim, Zuzim, Emim, dan orang Hori, kemudian orang Amalek dan orang Amori (14:5-7). Kemenangan yang tidak mustahil jika Allah menghendaki sekalipun mereka penyembah berhala. Setelah mendapat laporan penawanan Lot, Abram mengumpulkan orang-orangnya yang terlatih, mengejar musuh, mengalahkan mereka, dan membawa kembali segala harta benda yang dirampas serta para tawanan, termasuk Lot (Kej.14:13-16).

Kemenangan Abram lebih besar karena mengalahkan kelompok raja pemenang. Di masa depan, keturunan Abram, Israel, atas perintah Allah juga akan memerangi dan mengalahkan orang-orang ini, kelompok orang Amori (Ul.1:5-8; 2:24-25; 3:1-3,8,11-13), mereka mengikuti jejak Abram untuk memuliakan Allah (bnd. Yos.2:8-11). Orang percaya juga mengikuti jejak kemenangan umat Allah, Israel, jejak kemenangan Abram, dan sebagai anak-anak Bapa Surgawi hidup berkemenangan untuk menjadi kesaksian terutama mengalahkan karakter jahat dalam dirinya dan berubah menjadi manusia yang semakin dibarui untuk kemuliaan Allah, Bapa Surgawi.

Orang-orang Amori yang waktu itu teman sekutu Abram (Kej.14:13) beserta orang-orang Abram sendiri (ay.14), rela mengambil risiko kehilangan nyawa untuk membantu Abram (ay.15). Inipun tidak mungkin jika mereka tidak digerakkan Allah karena melihat Abram yang “move on” dan berhati mulia.

Kebersamaan dalam persekutuan orang percaya, anak-anak Abram, untuk bekerja sama dalam pekerjaan Tuhan dengan mengurbankan waktu, tenaga, pikiran, harus dimotivasi kasih pengurbanan Kristus, hidup yang diubahkan, serta yakin akan kehendak Allah sehingga mengandalkan Allah untuk kemuliaan-Nya. 

Melkisedek, raja Salem, imam Allah Yang Mahatinggi datang memberkati Abram dan memuji Allah Yang Mahatinggi dengan menegaskan bahwa kemenangan adalah dari-Nya (Kej.14:17-20). Karena Abram “move on”, Allah dimuliakan di hadapan orang-orang yang belum mengenal Allah. 

Ucapan berkat Melkisedek pasti didengar teman sekutu Abram dan orang-orang mereka apalagi mereka memperoleh bagian jarahan berkat kemenangan dari Allah Yang Mahatinggi (ay.21-24). Sikap Abram yang tidak mengambil satupun jarahan tersebut adalah kesaksian standar moral dan iman yang tinggi sekaligus ilahi oleh sebab Allah Abram adalah Allah Yang Mahatinggi.

Dalam peristiwa ini, mereka mendapat kesempatan mengetahui bahwa ada Allah Yang Mahatinggi, Allah Abram, untuk mengenal-Nya dan bertobat dari perilaku “moral Amori”, dari perilaku “moral Sodom”. Sikap hati selanjutnya tergantung kepada masing-masing. Mengenal Allah, tidak hanya demi berkat jasmani atau menganggap keberhasilan dalam hidup sebagai kemampuan diri sendiri namun percaya, bertobat, “move on” dari perilaku moral “Amori” dan “moral Sodom”, untuk memiliki moral ilahi dengan menanggapi anugerah Allah Yang Mahatinggi yang telah dirayakan dalam Natal dua bulan lalu. 

Move on untuk diteguhkan menghadapi masa depan

Keterangan waktu ‘kemudian’ (Kej.15:1) menunjukkan waktu setelah peristiwa sebelumnya, kemenangan Abram atas pertolongan Allah Yang Mahatinggi karena ia “move on” dari konflik, maka Allah terus bekerja membuat progres pada iman Abram. Firman Allah, “Janganlah takut!” menyiratkan bahwa Allah tidak sekadar menolong Abram mengalahkan musuh tetapi juga menolong Abram mengalahkan musuh dalam diri sendiri – ketakutan – karena kenyataan ia tidak kunjung memiliki anak sebagai awal penggenapan janji masa depannya (15:1-3).

Penggenapan janji-Nya tidak tergantung pendapat Abram tentang keadaannya (15:4-5), dia harus percaya sepenuh untuk diperhitungkan sebagai kebenaran (ay.6). Diawali dengan percaya kepada TUHAN mengenai janji keturunan, TUHAN meneguhkan janji seutuhnya bahwa dia dan keturunannya akan memiliki negeri di mana dia berkemah (ay.7-8). 

Dengan status sebagai orang yang dibenarkan TUHAN, TUHAN menuntut kurban yang benar, yakni menurut standar-NYA (15:9-10), bukan menurut apa yang dia anggap baik, pantas, dan layak, yang selama ini dia kurbankan di mezbah yang dibuatnya. TUHAN menetapkan binatang kurban seperti yang dikurbankan Nuh pasca air bah, dari setiap binatang yang tidak haram dan dari setiap burung yang tidak haram (Kej.8:20). Menyiratkan bahwa TUHAN mau memprogram ulang janji keselamatan kepada Adam-Hawa (protoevangelium) dan umat manusia keturunannya melalui generasi Nuh, yakni Abram dan keturunannya, Israel, yang menjadi standar TUHAN bagi kurban-kurban Israel kelak, binatang dan burung halal (bnd. Im.1:1 – 6:7).

Kurban bagi TUHAN harus dijaga agar tetap utuh, tidak ada bagian yang karena sesuatu, daging kurban tidak terbakar sempurna (Kej.15:11). Kemudian TUHAN menyatakan kepada Abram apa yang terjadi terhadap keturunannya (ay.12-16) namun kurban yang berkenan kepada TUHAN menjamin keselamatan keturunan Abram hingga menerima kegenapan janji-Nya (ay.17-21). Melalui Israel, TUHAN akan menghukum orang Amori yang tidak menggunakan kesempatan “move on” dari moral jahat kepada moral ilahi, sedangkan TUHAN sudah menyatakan diri-Nya sebagai Allah Yang Mahatinggi melampaui “allah-allah” imajinatif Amori.

Memasuki 2026, orang percaya harus “move on”, bangkit dari kelemahan iman walau fakta fisik, kesehatan, si-kon, bisa saja tidak sesuai harapan namun karena kurban sempurna menurut standar Allah, tubuh Yesus Kristus, yang menyempurnakan kurban-kurban binatang, telah terlaksana (Ibr.10:4-9) sehingga menguduskan orang percaya sekali untuk selamanya (ay.10), maka musuh-musuh yang melemahkan perjalanan hidup ke depan sudah, sedang, dan akan, ditaklukkan di bawah kaki Kristus (ay.12-14). Akibatnya orang percaya harus “move on” beriman pada kurban sempurna Yesus Kristus untuk maju terus melewati musim-musim hidupnya sampai kelak memasuki kegenapan janji Allah. Amin.