• Topik: Rumah Allah dan Kita
  • DARAH YANG BERBICARA: DARI MEZBAH TEMBAGA KE KAYU SALIB
  • Setio Dharma Kusuma
dari-mezbah-tembaga-ke-kayu-salib

Dari Pelataran Menuju Mezbah

Kita telah belajar tentang Pelataran Tabernakel dan memahami bahwa Pelataran adalah area terbuka di mana setiap orang yang ingin mendekat kepada Allah harus memasukinya terlebih dahulu. Juga Pintu Gerbang Pelataran senantiasa terbuka, mengundang setiap orang berdosa untuk masuk dan menerima pendamaian.

Pertanyaan: Setelah melangkah masuk ke dalam Pelataran, apa yang pertama kali kita jumpai? Apa yang menjadi pusat perhatian di ruang terbuka itu?

Alkitab menjawab: Mezbah Kurban Bakaran.

Ketika seseorang memasuki Pintu Gerbang Tabernakel di sisi timur, pandangannya akan langsung tertuju pada sebuah mezbah besar dari tembaga dengan asap mengepul naik ke langit, api yang terus menyala, dan darah yang mengalir di sekelilingnya. Mezbah ini menjadi pusat aktivitas di Pelataran. Sebelum seseorang dapat melangkah lebih jauh menuju Bejana Pembasuhan, apalagi masuk ke Tempat Kudus, ia harus berhenti terlebih dahulu di Mezbah Kurban Bakaran.

Menariknya, saat kita memasuki masa Paskah ini, Mezbah Kurban Bakaran berbicara dengan sangat kuat tentang inti dari karya Kristus di kayu salib. Mari kita merenungkannya bersama.

1. Mezbah Kurban Bakaran: Desain dan Maknanya

a. Spesifikasi Ilahi

Tuhan memberikan perintah yang sangat rinci kepada Musa mengenai pembuatan mezbah ini: "Haruslah engkau membuat mezbah dari kayu penaga, lima hasta panjangnya dan lima hasta lebarnya, sehingga mezbah itu empat persegi, tetapi tiga hasta tingginya. Haruslah engkau membuat tanduk-tanduknya pada keempat sudutnya; tanduk-tanduknya itu haruslah seiras dengan mezbah itu dan haruslah engkau menyalutnya dengan tembaga." (Kel. 27:1-2)

Bayangkan ukuran: 5 hasta x 5 hasta, atau ± 2,25 meter x 2,25 meter, dengan tinggi 3 hasta (1,35 meter). Ini bukan meja kecil! Mezbah ini begitu besar sehingga dapat menampung puluhan hewan kurban setiap harinya. Bentuknya empat persegi, kukuh, dan stabil. Tanduk-tanduk di keempat sudutnya bukan sekadar hiasan melainkan bagian integral dari mezbah itu – tempat di mana darah kurban dioleskan sebagai tanda pengampunan.

Mezbah ini terbuat dari kayu penaga yang disalut tembaga. Kayu melambangkan kemanusiaan sementara tembaga dalam konteks Tabernakel sering dikaitkan dengan penghakiman atas dosa (Bil. 21:9 – ular tembaga). Di sinilah penghakiman Allah atas dosa manusia dijatuhkan.

b. Api yang Tak Pernah Padam

Perintah Tuhan tentang mezbah ini sangat spesifik: "Api harus terus menerus menyala di atas mezbah itu, janganlah dibiarkan padam." (Im. 6:13)

Setiap pagi dan petang, imam menambahkan kayu api, mengatur kurban bakaran, dan membakar lemak lembu sebagai kurban keselamatan. Rutinitas ini bukan sekadar ritual kosong. Asap yang terus mengepul naik ke langit adalah pengingat visual bagi seluruh umat Israel bahwa pengampunan dosa selalu tersedia. Setiap kali seorang Israel melintas di dekat Tabernakel, ia melihat asap itu dan mengingat "Di sana, di mezbah itu, dosaku diampuni."

2. Teologi Mezbah: Penghakiman dan Pengampunan Bertemu

a. Upah Dosa Adalah Maut

Mengapa harus ada mezbah? Mengapa harus ada darah? Mengapa tidak cukup dengan doa atau pertobatan saja?

Jawabannya sederhana namun serius: Allah itu kudus dan dosa manusia sangat serius di mata-Nya. Kitab Imamat menegaskan, "Nyawa makhluk ada di dalam darahnya" (Im. 17:11). Darah melambangkan nyawa. Ketika seseorang berdosa, ia layak mati. Namun Allah dalam kasih-Nya mengizinkan hewan kurban menjadi pengganti. 

Di Mezbah Kurban Bakaran, ribuan hewan disembelih setiap tahunnya. Setiap kali seekor domba atau lembu mati, itu adalah pengingat bahwa "upah dosa adalah maut" (Rm. 6:23). Namun pada saat yang sama, setiap kurban adalah pengingat bahwa Allah menyediakan jalan pengganti. Kitab Ibrani menyatakan, "… tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan" (Ibr. 9:22).

b. Penumpangan Tangan: Identifikasi Dosa

Salah satu momen paling dramatis di Mezbah Kurban Bakaran adalah saat penumpangan tangan. Seorang Israel yang membawa kurban penghapus dosa akan meletakkan kedua tangannya ke atas kepala hewan kurban dan mengakui dosanya (Im. 4:4, 15, 24; 5:5; 16:21).

Bayangkan adegan itu: Seorang petani Israel, mungkin dengan tangan gemetar, meletakkan tangannya di atas kepala domba yang tidak bercacat. Sambil menangis, ia mengakui dosa perzinaan, kebohongan, atau kemarahannya. Dan saat ia mengakui, secara simbolis dosanya berpindah kepada hewan yang tidak berdosa itu. Kemudian hewan itu disembelih di hadapan Tuhan.

Ini bukan sekadar ritual. Ini adalah pengakuan bahwa "aku seharusnya mati tetapi hewan ini mati menggantikan aku." Ini adalah gambaran yang sangat kuat tentang substitusi—penggantian.

3. Tipologi: Mezbah dan Salib Kristus

Seluruh sistem kurban di Mezbah Kurban Bakaran adalah bayangan dari apa yang akan datang sementara realitasnya ada di dalam Kristus (Ibr. 10:1).

a. Kristus sebagai Anak Domba Allah

ketika melihat Yesus, Yohanes Pembaptis berseru, "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia" (Yoh. 1:29). Pernyataan ini penuh makna bagi orang Yahudi yang mendengarnya. Mereka langsung teringat pada domba-domba yang disembelih setiap hari di Mezbah Kurban Bakaran.

Yesus adalah penggenapan sempurna dari semua kurban Perjanjian Lama:

bagan

b. Tanduk-Tanduk Mezbah: Perlindungan dan Pengakuan

Tanduk mezbah memiliki makna khusus. Dalam Perjanjian Lama, orang yang memegang tanduk mezbah mendapatkan perlindungan sementara (1 Raja. 1:50-51; 2:28). Namun darah juga dioleskan di tanduk mezbah sebagai tanda penghapusan dosa.

Ketika Yesus mati di kayu salib, Ia tidak memegang tanduk mezbah untuk menyelamatkan diri-Nya. Justru Ia menjadi kurban itu sendiri. Dan menariknya, salib Yesus memiliki empat ujung—seperti empat tanduk mezbah – menjangkau ke segala penjuru dunia, menawarkan pengampunan kepada semua orang dari segala suku, bangsa, dan bahasa.

c. Api yang Tak Pernah Padam dan Paskah

Dalam konteks Paskah, hubungannya menjadi sangat jelas. Paskah Perjanjian Lama dimulai dengan penyembelihan anak domba dan darahnya dioleskan pada tiang pintu (Kel. 12). Darah itulah yang menyelamatkan Israel dari tulah maut.

Paskah Perjanjian Baru digenapi ketika Yesus, Anak Domba Paskah kita, disembelih di kayu salib. Rasul Paulus menegaskan, "Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus" (1 Kor. 5:7b). Sama seperti darah domba Paskah menyelamatkan Israel dari penghakiman, demikian pula darah Kristus menyelamatkan kita dari hukuman kekal.

Mezbah Kurban Bakaran, dengan api yang tak pernah padam, mengingatkan kita bahwa kurban Kristus berlaku sepanjang masa. Api penghakiman Allah telah turun ke atas Yesus di kayu salib; oleh karena itu kita tidak perlu lagi takut akan penghakiman.

4. Mezbah dalam Perjanjian Baru: Salib Sebagai Pusat Iman

a. Salib: Mezbah Sejati

Penulis Ibrani menjelaskan dengan indah, "Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus." (Ibr. 10:10)

Mezbah Perjanjian Baru bukan lagi dari kayu dan tembaga melainkan salib Kristus. Di atas mezbah itu, Kurban Sejati telah dipersembahkan satu kali untuk selama-lamanya. Tidak perlu lagi kurban berulang-ulang. Tidak perlu lagi darah domba setiap pagi dan petang. Kristus telah menggenapkannya sekali untuk selamanya.

b. Kematian-Nya: Sumber Kehidupan

Ironi terbesar kekristenan adalah bahwa kematian membawa kehidupan. Di mezbah, hewan mati agar pendosa hidup. Di salib, Yesus mati agar kita hidup. Paulus menulis, "Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada kurban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian." (Flp. 2:17)

Hidup Kristen adalah hidup yang terus-menerus "dipersembahkan" di atas mezbah – bukan untuk keselamatan tetapi sebagai respons syukur atas keselamatan yang telah dikerjakan Kristus.

5. Aplikasi Kehidupan Sehari-hari

Setelah memahami semua kebenaran ini, apa artinya bagi kita hari ini? Bagaimana Mezbah Kurban Bakaran berbicara dalam kehidupan kita sehari-hari? Berikut  beberapa aplikasi praktis yang dapat kita lakukan:

a. Datang dengan Kejujuran, Bukan Kepura-puraan

Di Mezbah Kurban Bakaran, orang Israel harus mengakui dosanya secara spesifik. Mereka tidak dapat berkata, "Tuhan, aku berdosa" saja tetapi harus menyebutkan dosa itu sambil menumpangkan tangan.

Praktisnya bagi kita: Datanglah kepada Tuhan dengan jujur. Jangan sembunyikan dosa kita! Jangan tutupi kegagalan kita! Tuhan tahu segalanya, tetapi Ia ingin kita mengakuinya. Seperti kata 
1 Yohanes 1:9, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

Ilustrasi: Seorang anak memecahkan vas bunga berharga milik ayahnya. Jika ia bersembunyi dan berbohong, hubungan dengan ayahnya rusak. Namun ketika ia datang, mengaku dengan jujur, dan minta maaf, sang ayah dengan senang hati akan mengampuninya. Apalagi Bapa Surgawi kita!

b. Tinggalkan Mezbah, lalu Berdamai

Yesus sendiri mengajarkan, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu." (Mat. 5:23-24)

Ini luar biasa! Ibadah yang benar adalah ibadah yang disertai hubungan yang benar dengan sesama. Mezbah mengajarkan kita bahwa tidak mungkin mengasihi Allah sambil membenci saudara.

Praktisnya: Apakah kita menyakiti seseorang? Apakah ada saudara, teman, atau rekan kerja yang menyimpan dendam terhadap kita? Ambil langkah untuk segera berdamai. Telepon, kunjungi, atau kirim pesan. Lakukan apa yang perlu dilakukan. Itu adalah bagian dari ibadah kita.

c. Hidup sebagai "Kurban Persembahan"

Rasul Paulus menasihati, "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Rm. 12:1)

Di Perjanjian Lama, hewan kurban mati di atas mezbah. Di Perjanjian Baru, kita dipanggil menjadi persembahan yang hidup. Artinya, setiap hari kita mempersembahkan seluruh hidup kita – waktu, talenta, tenaga, pikiran, bahkan harta kita untuk kemuliaan Tuhan.

Praktisnya:

  • Di rumah: Melayani suami/istri dan anak-anak dengan sukacita adalah persembahan.
  • Di tempat kerja: Bekerja jujur dan profesional adalah persembahan.
  • Di gereja: Terlibat dalam pelayanan sekecil apa pun adalah persembahan.
  • Di masyarakat: Menjadi berkat bagi sesama adalah persembahan.

d. Jangan Lupakan Pengurbanan Kristus

Api di mezbah terus menyala sebagai pengingat. Demikian pula kita perlu terus mengingat pengurbanan Kristus. Itu sebabnya kita merayakan Paskah dan datang ke meja Perjamuan Tuhan.

Praktisnya: Biasakan untuk merenungkan salib setiap hari, terutama saat menghadapi pencobaan. Ketika godaan datang, ingatlah "Kristus telah mati untuk membebaskanku dari dosa. Masakan aku kembali memperbudak diri dengan dosa?" Ketika rasa bersalah menghantui, ingatlah "Kristus telah menanggung hukumanku. Tidak ada lagi penghukuman bagiku."

e. Mezbah dan Keluarga

Di Israel kuno, keluarga berkumpul di sekitar mezbah membawa kurban bersama, berdoa bersama, dan merayakan hari raya bersama.

Praktisnya: Jadikan keluarga kita masing-masing sebagai "mezbah" kecil. Berdoa bersama, membaca Alkitab bersama, dan beribadah bersama. Saat Paskah tiba, jadikan momen ini untuk mengajarkan anak-anak tentang arti pengurbanan Kristus. Ceritakan dengan bahasa sederhana: "Nak, Yesus mati di kayu salib karena Dia sangat mengasihi kita. Darah-Nya membersihkan dosa-dosa kita."

6. Renungan Paskah: Dari Mezbah ke Meja Perjamuan

Saat kita memasuki masa Paskah, bayangkan Mezbah Kurban Bakaran ini. Bayangkan api yang menyala, asap yang mengepul, dan darah yang mengalir. Itu adalah gambaran yang keras bahkan mengerikan tetapi di balik kekerasan itu tersembunyi kasih yang tak terukur.

Allah tidak perlu melakukan semua ini. Ia bisa saja membiarkan kita binasa dalam dosa tetapi karena kasih-Nya yang besar, Ia menyediakan jalan keluar. Puncaknya ialah ketika Anak-Nya sendiri menjadi Anak Domba Paskah yang disembelih.

Dari Mezbah Kurban Bakaran di padang gurun, kita melompat ke Bukit Golgota di Yerusalem. Di sana, bukan domba atau lembu yang mati melainkan Anak Allah sendiri. Darah yang mengalir bukan darah hewan melainkan darah kudus Juru Selamat dunia.

Dan dari Golgota, kita melangkah ke meja Perjamuan Tuhan. Setiap kali kita memecahkan roti dan minum dari cawan, kita mengenang tubuh-Nya yang terpecah dan darah-Nya yang tercurah. Itulah Paskah kita yang sejati.

Penutup: Undangan untuk Datang

Jika Anda saat ini merasa jauh dari Allah, merasa terlalu kotor karena dosa Anda terlalu besar, datanglah ke Mezbah. Di sana, di kayu salib, Yesus telah menanggung semuanya. Darah-Nya cukup untuk membersihkan dosa sebesar apa pun.

Jika Anda saat ini sedang bergumul dengan dosa sama yang berulang-ulang, datanglah ke Mezbah. Anugerah-Nya cukup untuk menguatkan Anda. 

Jika Anda saat ini sedang kecewa, putus asa, atau patah hati, datanglah ke Mezbah. Di kaki salib, ada penghiburan. Di mezbah itu, Anda akan menemukan bahwa Anda tidak sendirian.

Dan jika Anda saat ini bersukacita, diberkati, dan merasa dekat dengan Tuhan, datanglah ke Mezbah. Bawalah persembahan syukur Anda. Naikkan pujian Anda karena Anak Domba yang disembelih layak menerima hormat dan kemuliaan!

Selamat Paskah! Mari kita masuk ke Pelataran-Nya, berhenti di Mezbah Kurban Bakaran, merenungkan pengurbanan Kristus dan hidup sebagai persembahan yang hidup bagi kemuliaan Nama-Nya. Amin.