Pelataran Rumah Allah Telah Terbuka
Kebenaran Firman Allah ditulis untuk memberikan hikmat dan menuntun manusia kepada keselamatan (2 Tim. 3:15). Pada awalnya Allah menciptakan relasi harmonis dengan umat-Nya namun dosa mengakibatkan manusia jauh dari Allah dan membuat batas pemisah yang tidak dapat ditembus oleh manusia berdosa. Namun oleh kasih dan keadilan-Nya, Allah berinisiatif membuka akses agar manusia dapat kembali berelasi dan bersekutu dengan Pribadi-Nya. Jalan keselamatan dinyatakan secara progresif dan dominan melalui pelayanan dalam Tabernakel yang puncaknya digenapi pada Pribadi dan karya Yesus Kristus. Pola Tabernakel menjadi satu-satunya pola jalan keselamatan yang konsisten dan berkesinambungan di mana manusia dapat kembali masuk ke hadirat-Nya.
Pintu Gerbang Tabernakel senantiasa terbuka menandakan bahwa akses ke hadirat Allah telah tersedia. Setiap umat Allah yang berdosa dapat masuk ke Pelataran bersama imam sebagai pengantara untuk mengadakan pendamaian (Bil. 3:38). Dalam Perjanjian Baru, hadirat Allah dinyatakan melalui Yesus Kristus sebagai Tabernakel Sejati (Yoh. 1:1-18). Oleh karena Pelataran Rumah Allah telah terbuka maka ada harapan bagi manusia untuk kembali menikmati hadirat Allah dan bersekutu dengan-Nya.
Allah Menghendaki Umat Masuk Pelataran Hadirat-Nya
Allah melalui Musa memerintahkan umat Israel membangun Tabernakel sebagai tempat kudus kediaman-Nya sehingga manusia dapat bersekutu dan berelasi dengan-Nya (Kel. 25:8-9,22). Relasi dan persekutuan tersebut dimulai melalui pendamaian yang terjadi di Pelataran Tabernakel. Oleh sebab itu, setelah Tabernakel selesai dibangun dan didirikan, Allah mengundang umat-Nya untuk datang kepada-Nya (Im. 1:1-2) dan setiap orang yang hendak bertemu atau berdamai dengan Allah harus menghadap Allah sesuai ketetapan-Nya, yaitu masuk Pelataran melalui Pintu Gerbang dengan membawa kurban pendamaian (Im. 1-7). Para imam Allah senantiasa siap sedia melakukan pelayanan pendamaian. Orang yang berdosa harus meletakkan kedua tangannya ke atas kepala kurban dan mengakui dosanya sebelum imam mempersembahkannya kepada Tuhan.
Pada masa kini pun, Allah mengundang semua orang masuk Pelataran-Nya untuk menerima pendamaian. Tabernakel maupun Bait Suci fisik saat ini sudah tidak ada namun Tempat Kudus Allah tersebut telah digenapi dalam Yesus Kristus (Ibr. 8:5-6). Oleh sebab itu setiap kita yang ingin diselamatkan - hidup berelasi dan bersekutu dengan Allah – wajib merespons undangan masuk ke Pelataran-Nya dengan iman kepada Yesus Kristus. Pola pelayanan pendamaian dalam Tabernakel menunjukkan bahwa tidak ada akses keselamatan di luar Pelataran Allah sebab di dalamnya, kita dapat merasakan pendamaian dengan Allah, penahbisan sebagai imam-Nya, senantiasa dikuduskan dan makin disempurnakan menuju takhta hadirat Allah. Kegiatan pendamaian di Tempat Kudus Perjanjian Lama tidak hanya berhenti di Pelataran-Nya namun berlanjut masuk ke Tempat Maha Kudus; demikian pula dalam Tempat Kudus Perjanjian Baru, kita semua diajak untuk masuk hingga ke Takhta kasih karunia Allah melalui darah Anak Domba Allah yang disediakan bagi kita (Ibr. 4:14-16; 10:19-25).
Mari Bersama Masuk Ke Pelataran Pendamaian-Nya
Sebagaimana umat Allah masuk ke Pelataran Rumah Allah, saat ini kita juga bersama masuk ke Pelataran-Nya untuk menikmati dan menjadi pelayan pendamaian-Nya. Dalam Tabernakel, umat Israel dan orang asing yang percaya kepada Allah diperkenan masuk ke pelataran Allah (Kel. 12:47-50; Im. 16:29-31; Bil. 15:13-16). Demikian pula masa Bait Suci, bangsa-bangsa lain juga diberi kesempatan masuk ke rumah Allah (2Taw. 6:32-33). Hal ini menunjukkan bahwa Tempat Kudus Allah tidak eksklusif hanya bagi Israel melainkan juga bagi semua orang yang mengakui TUHAN sebagai Allahnya.
Pada masa Perjanjian Lama, hanya imam-imam yang boleh masuk ke ruangan dalam. Namun dalam Perjanjian Baru, melalui pendamaian Yesus Kristus, kita semua dari segala suku bangsa dan bahasa disatukan untuk bersama masuk ke Pelataran Hadirat-Nya (Why. 1:5-6; 5:9-10;7:13-17). Semua orang, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi telah memiliki akses terbuka untuk masuk ke Hadirat Allah melalui Yesus Kristus (Ef. 2:13-22; 3:6-7,12; Rm. 5:2). Untuk itu mari kita bersama masuk ke Pelataran Hadirat Allah. Bagaimana kita masuk ke Pelataran-Nya?
Masuk dengan iman percaya
Masuk hadirat Allah artinya memiliki kehidupan yang berarti dan terlindungi oleh Allah. Umat Allah yang ingin mendapatkan kehidupan bermakna harus memandang Allah yang hadir di Tempat Kudus-Nya. Tabernakel sebagai Tempat Kudus Allah dikelilingi dengan pagar pelataran putih berkilau dengan pintu gerbang yang sangat indah dan mencolok. Hal tersebut menunjukkan Allah yang kudus menyediakan pintu gerbang yang menggambarkan Yesus Kristus sebagai satu-satu pintu keselamatan kepada kehidupan yang bermakna dalam Allah.
Tawaran masuk takhta kasih karunia Allah telah tersedia dan manusia tidak perlu mengusahakan apa-apa kecuali percaya dan beriman kepada Yesus Kristus untuk dapat masuk kedalam pelataran Allah. Mereka yang percaya akan masuk Pelataran untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan Allah. Sebaliknya, barangsiapa tidak percaya akan binasa (Yoh. 3:12-21; 14:6). Kita perlu menyadari keberdosaan dan ketidakmampuan kita dengan iman percaya agar kita dapat masuk bersama-sama ke hadirat Allah (Ibr. 9:24).
Masuk untuk pengampunan dan pengudusan
Iman percaya yang dimiliki harus berlanjut kepada tindakan iman. Setiap umat yang masuk ke dalam Pelataran akan melihat aktivitas pendamaian dan penyucian. Di hadapannya ada kobaran api Mezbah Kurban Bakaran yang terus menyala (Im. 6:8-13) untuk mempersembahkan kurban pendamaian sebab upah dosa adalah maut dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Masuk Pelataran artinya menerima pengampunan dan pendamaian sempurna dari Allah yang senantiasa tersedia bagi kita (1Yoh. 1:9). Penebusan Allah menjadikan kita manusia baru yang mampu untuk tidak tunduk kepada kuasa dosa (1Yoh. 3:6-9; 5:18). Dengan demikian tindakan iman yang dilakukan adalah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah (Rm. 6:11).
Selanjutnya, di Pelataran juga ada Bejana Pembasuhan di mana airnya digunakan untuk penahbisan para imam juga membasuh kaki dan tangan setiap kali memulai dan mengakhiri pelayanan. Ini menggambarkan orang percaya kepada Yesus Kristus telah dikuduskan sekali untuk selama-lamanya dan terus-menerus hidup kudus secara progresif. Orang percaya memiliki pola pikir yang telah diperbarui sehingga nyata melalui ketaatan yang memproklamirkan iman dalam baptisan air dan terus-menerus disucikan oleh kebenaran.
Masuk untuk bersyukur, memuji dan menyembah Allah
Memasuki pelataran hadirat-Nya harus membawa kurban persembahan untuk Tuhan. Kurban persembahan Perjanjian Lama berupa binatang maupun sajian namun dalam Perjanjian Baru, kurban-kurban tersebut digenapi dalam satu kurban sempurna, yaitu Yesus Kristus (Ibr. 10:9-15). Sekarang kita tidak lagi membawa kurban untuk keselamatan tetapi kurban syukur dan pujian kepada Allah (Mzm. 100:4). Kita rindu berada di dalam pelataran rumah-Nya untuk bersekutu dengan Allah dan mempersembahkan ucapan syukur, pujian dan penyembahan kepada-Nya (Mzm. 84).
Selain itu, kita perlu masuk ke pelataran rumah Allah dengan kesungguhan (Mzm. 5:7) bukan seperti sebagian besar bangsa Israel (1Kor. 10). Hal ini disinggung oleh Stefanus bahwa sekalipun mereka melayani dan menikmati pelayanan dalam Tabernakel, hati mereka jauh dari Allah (Kis. 7:35-53). Secara fisik berada dalam Pelataran Allah namun secara spiritual mereka melayani berhala Molokh. Oleh sebab itu biarlah kita menguji hati kita dan senantiasa memohon hati nurani yang murni serta senantiasa hidup dalam ketaatan.
Masuk bersama untuk terus bertumbuh dan melayani Tuhan
Setiap kita dari segala suku bangsa dan bahasa telah ditebus dan dibawa masuk ke Pelataran-Nya untuk menjadi umat Allah. Masing-masing kita adalah Bait Allah dan secara bersama-sama juga dibangun sebagai rumah Allah rohani sehingga kita perlu bertumbuh dan melayani Tuhan. Kita tidak hanya berhenti di Pelataran melainkan berlanjut ke Tempat Kudus-Nya. Dalam Perjanjian Lama, umat hanya sampai di Pelataran kemudian para imam masuk ke ruang yang lebih dalam sebagai pengantara. Sementara dalam Perjanjian Baru, kita dijadikan imam-imam yang melayani dan beribadah kepada Allah oleh Yesus Kristus yang adalah Imam Besar Agung. Kita dapat masuk ke tempat kudus hadirat Allah dan berelasi serta bersekutu dengan-Nya (Ibr. 10:19-20). Hadirat Allah tidak dibatasi ruang dan waktu sehingga kita dapat masuk dan menyembah Dia dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24).
Dalam konteks kehidupan masa kini, orang-orang percaya perlu memiliki kesatuan untuk bersama-sama masuk ke hadirat Allah dan bertumbuh ke arah Kristus. Kita perlu saling memerhatikan, menasihati dalam beribadah dan melayani Allah serta saling mendukung dalam pelayanan pembangunan Tubuh Kristus sembari menanti kedatangan-Nya yang makin dekat (Ibr. 10:19-25; Ef. 4:1-16). Akhirnya, biarlah kita yang adalah umat dan imam-imam-Nya senantiasa berada dalam persekutuan hadirat Allah untuk bertumbuh dan siap sedia terlibat dalam pelayanan pembangunan pembentukan Tubuh Kristus (1Kor. 3:16-17; Ef. 2:21-22). Amin.