Pendahuluan
Abram adalah bapa semua orang yang beriman kepada Tuhan. Dia pun tidak lepas dengan permasalahan / konflik seperti layaknya manusia pada umumnya. Sebagai kehidupan yang menerima janji TUHAN, dia mengalami berkat luar biasa walau permasalahan silih berganti menerpanya. Setelah peristiwa yang menegangkan di Mesir di mana hampir saja membahayakan istri dan nikah rumah tangganya, dia dan istri serta rombongan akhirnya keluar dari Mesir oleh sebab campur tangan Tuhan. Namun Abram diperhadapkan dengan satu permasalahan lagi, sebuah konflik menyangkut hubungan kekerabatan. Dari kisah ini kita mencoba merenungkan berkat apa yang Tuhan mau berikan kepada kita.
Konflik harus diselesaikan
Kejadian 13:1 menyebutkan bahwa Abram beserta istri dan rombongan sudah keluar dari Mesir pergi ke Tanah Negeb melanjutkan perjalanan ke tanah Kanaan dan Lot ada dalam rombongan tersebut. Lot juga ikut mengungsi ke Mesir waktu kelaparan terjadi di Kanaan walaupun tidak disebutkan dalam Kejadian 12. Abram sangat diberkati Tuhan dengan ternak melimpah, perak dan emas yang banyak. Lot pun mendapatkan berkat dengan memiliki sejumlah domba, lembu dan kemah (Kej. 13:5). Abram dan rombongan kembali ke titik lokasi di mana dia pernah mendirikan mezbah dan memanggil nama TUHAN di sana itulah Betel (Kej. 13: 3-4). Di tempat ini Abram diingatkan kembali oleh TUHAN tentang komitmennya untuk memercayai janji TUHAN yang akan memberkati dia dan keturunannya (Kej. 12:1-7). Baik Abram dam Lot sama-sama memiliki ternak yang digembalakan oleh masing-masing gembala mereka. Karena tanah penggembalaan yang tersedia bagi keduanya makin menyempit, terjadilah pertengkaran di antara para gembala dari kedua belah pihak. Inti pertengkaran adalah soal tanah penggembalaan. Maka dimulailah konflik di antara para gembala Abram dan gembala Lot. Hal ini menyusahkan hati Abram sehingga dia memanggil Lot dengan maksud menyelesaikan konflik agar tidak berkepanjangan mengingat mereka berada di tengah-tengah orang Kanaan dan orang Feris. Penduduk Kanaan akan mengetahui apa yang sedang terjadi di antara mereka. Alasan utama Abram agar konflik ini cepat teratasi adalah hubungan kekerabatan yang mana Lot adalah keponakannya (Kej. 13:8; bnd. Kej. 11:27-31). Bagi Abram, konflik bukan untuk didiamkan tetapi harus cepat diselesaikan apalagi ini menyangkut hubungan kekerabatan. Persoalan penghidupan dalam hal ini perebutan wilayah untuk penggembalaan jangan sampai membuat hubungan kekerabatan menjadi retak dan hancur. Sikap Abram dalam menyelesaikan konflik berangkat dari semangat keutuhan dalam kesatuan kekerabatan dan dia tidak mau konflik keluarga ini menjadi aib di mata penduduk Kanaan.
Mengalah bukan berarti kalah
Abram adalah sosok paman yang mengasihi keponakannya. Abram yang berinisiatif menawarkan opsi bagi penyelesaian (Kej. 13:9). Opsi diberikan kepada Lot agar dia dapat memilih tempat untuk menggembalakan ternaknya dengan aman. Perpisahan ini bukanlah akhir dari hubungan kekerabatan antara paman dan keponakan. Abram sangat mengasihi dan peduli akan keselamatan keponakannya. Terbukti dengan operasi penyelamatan Lot dan keluarga yang tertawan (Kej. 14:1-16) juga permohonannya kepada TUHAN agar Lot dan keluarga diselamatkan dari Sodom Gomora (Kej. 18:22-33; Kej. 19:29). Abram mengambil inisiatif menawarkan opsi supaya Lot lebih dahulu memilih. Sebagai paman, Abram tidak memakai haknya dengan semena-mena tetapi mengambil sikap mengalah demi kebaikan. Terkadang Tuhan mengizinkan kita mengalami konflik dalam hubungan kekerabatan agar kita belajar mengalah demi kebaikan bersama.
Alasan utama mengapa Abram lebih bersikap mengalah sebab dia tahu TUHAN yang telah memanggilnya keluar tidak pernah ingkar janji. Apalagi lokasi terjadinya konflik itu sama di mana dia pernah membangun mezbah dan mengakui TUHAN yang telah berjanji adalah setia dalam janji-Nya. Dia baru saja mengalami pengalaman pahit di Mesir yang hampir membuat porak poranda rumah tangganya namun oleh sebab kesetiaan TUHAN maka dia dan keluarga dapat dibebaskan, dipulihkan dan dikembalikan ke tanah yang TUHAN janjikan. Dari sisi Lot, tampak dia lebih mementingkan apa yang secara jasmani menguntungkan bagi dirinya. Dia memilih daerah lembah Yordan yang terlihat seperti taman TUHAN dan banyak airnya (Kej. 13:10-11). Istilah “banyak air” menunjukkan daerah yang subur. Lot hanya melihat secara jasmaniah tanpa memahami secara mendalam seperti apa daerah yang dipilihnya. Kelak daerah itu ditunggangbalikkan oleh TUHAN oleh sebab penduduknya sangat jahat dan berdosa kepada TUHAN. Berbeda dengan Abram, dia tidak tergiur akan pemandangan lembah Yordan yang dikatakan seperti taman TUHAN sebab hatinya terpesona dan tertambat kepada TUHAN yang setia dan tidak pernah ingkar akan janji-janji-Nya. Abram merasakan bahwa keberadaan diri dan keluarganya sudah sangat diberkati oleh TUHAN.
Berkat Allah bagi Abram
Setelah peristiwa berpisahnya Lot dengan Abram, Alkitab menuliskan TUHAN berfirman kepada Abram (Kej. 13:14-17). Ini berarti TUHAN tidak pernah meninggalkan Abram menjalani semua seorang diri. Memang secara fisik, daerah yang berair banyak sudah jadi pilihan Lot tetapi pilihan TUHAN yang disediakan untuk Abram jauh lebih berharga. TUHAN memberikan sejauh mana Abram taat menjalani perintah-Nya (ay. 17). Ia memberikan kepada Abram jauh lebih bernilai daripada yang Lot pilih hasil perolehan atas dasar ketaatan dan hati yang mengasihi TUHAN. Abram mendapatkan peneguhan kembali akan janji TUHAN bahwa seluruh negeri yang dilihatnya dari sudut pandang timur, barat, selatan dan utara menjadi miliknya dan keturunannya. TUHAN mengatakan bahwa keturunan Abram akan seperti debu banyaknya. Ini berarti apa yang Abram lakukan dengan mengalah itu berbuahkan kebaikan berlipat ganda. Sering orang lain tidak melihat tindakan dan pengurbanan macam apa yang kita lakukan demi kebaikan hubungan dalam kekerabatan. Bahkan tidak jarang malah menimbulkan kesalahpahaman dan kecaman. Namun seperti dialami Abram, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita yang selalu berpaut kepada-Nya. Pada saat dan penentuan-Nya, Tuhan memberikan berkat-Nya kepada kita yang tetap setia dan taat menjalani kehendak-Nya. Setelah semua yang dilalui oleh Abram, dia mendirikan mezbah bagi TUHAN (Kej. 13:18), artinya Abram senantiasa mengucap syukur atas apa yang dia lalui juga segala berkat yang dia terima dari TUHAN. Ini adalah kebaikan yang Abram terima, kebaikan untuk tetap ingat TUHAN dan bersyukur kepada-Nya.
Berkat dari kisah ini bagi Kehidupan Kristen
1. Permasalahan bukan untuk dihindari tetapi diselesaikan.
Sebagai orang percaya, kita pasti menghadapi permasalahan yang terjadi pada diri sendiri, hubungan dengan pasangan hidup, rumah tangga, orang tua dan anak, sesama rekan kerja dan segala bentuk permasalahan lainnya. Salah satu kunci penyelesaian dari permasalahan tersebut bukan dengan mendiamkan tetapi menyelesaikannya. Seperti dilakukan Abram ketika mendengar adanya pertengkaran di antara para gembala Lot dengan gembalanya, dia mengambil inisiatif melakukan komunikasi secara baik-baik. Terkadang konflik semakin menjadi-jadi oleh sebab tidak ada kesepahaman antara kedua pihak. Komunikasi yang terbuka, jujur dan mengedepankan kebaikan bersama adalah awal yang baik bagi solusi penyelesaian konflik.
2. Sikap mengalah diperlukan untuk kebaikan.
Belajar dari tindakan Abram yang tidak mengutamakan haknya sebagai paman namun mempersilakan Lot untuk memilih leih dahulu, hendaknya kita juga mengambil jalan mengalah demi kebaikan bersama juga hubungan kekerabatan tetap terus berlangsung. Terlebih lagi kita, orang yang percaya Tuhan, pengharapan dan hidup kita bukan kita sandarkan kepada kekayaan atau fasilitas duniawi tetapi kepada Tuhan yang setia akan janji-Nya. Untuk sementara waktu memang kelihatannya apa yang kita ambil disalahpahami bahkan dinilai sebagai suatu kekalahan tetapi belajar dari Abram, apa yang kita lakukan adalah demi kebaikan bukan untuk diri sendiri namun kebaikan bersama (dalam hubungan kekerabatan) yang bernilai plus menjadi kesaksian baik bagi orang di sekitar. Sebagai orang percaya, berkat penghidupan jasmaniah yang dikejar dan dipermasalahkan bukanlah tujuan utama hidup kita sebab yang terlebih penting dari semuanya ialah Tuhan dalam hidup kita. Tujuan hidup kita adalah bagaimana kita memuliakan Tuhan dan menyenangkan hati-Nya dengan apa yang kita kerjakan.
3. Berkat dalam ketaatan kepada Tuhan.
Setelah memilih mengalah demi kebaikan, Tuhan datang dengan berkat-Nya kepada Abram. Hal ini pun tidak mustahil terjadi bagi kita. Tuhan dengan Firman-Nya memberkati kita dalam segala kondisi dan setiap keputusan yang kita ambil. Tuhan senantiasa menyertai dan menguatkan kita melalui Firman-Nya.
Dalam menjalani kehidupan, kita belajar menaati Firman Tuhan sebab di situ letak berkat yang Ia berikan bagi kita, orang percaya. Semakin diberkati bukan semakin sombong; semakin diberkati bukan semakin membusungkan dada dengan memamerkan kita adalah orang yang sangat taat kepada perintah Tuhan. Belajar dari kisah Abram yang tidak lupa membangun mezbah bagi TUHAN setelah diberkati, kita juga harus sadar bahwa semua yang terjadi adalah berkat dan anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Semakin diberkati, semakin kita bersyukur kepada Tuhan dan ini menjadi gaya hidup kita sehari-hari.
Janji Tuhan jauh lebih dapat dipercaya daripada janji manusia siapa pun.
Janji Tuhan adalah kebenaran mutlak, sumber kebenaran utama dalam kehidupan orang percaya.
Oleh sebab itu jangan pernah meragukan janji-Nya.