Dalam Kejadian 10 – 12, kita membaca banyak nama. Dimulai dengan nama-nama keturunan dari anak-anak Nuh: Sem, Ham, dan Yafet (Kej. 10:1). Nama-nama dalam daftar ini selain menunjuk pada orang-orang tertentu juga merujuk pada bangsa-bangsa dan daerah tempat tinggal mereka. Itulah sebabnya Kejadian 10 disebut juga sebagai “Daftar Bangsa-Bangsa” atau Table of Nations. Daftar ini menunjukkan bahwa TUHAN adalah Allah dari semua bangsa meskipun tidak semua bangsa menyembah-Nya.
Sejarawan Yahudi abad pertama, Flavius Josephus, dalam bukunya Antiquities of the Jews menjelaskan keturunan Yafet dan Ham berdasarkan Kejadian 10. Keturunan Yafet (Kej 10:2) pindah ke arah utara — ke Asia dan Eropa. Misalnya, Gomer dipercaya sebagai nenek moyang bangsa Galatia, Magog bagi bangsa Skit dan Rusia, dan Yawan untuk bangsa Yunani.
Keturunan Ham (Kej 10:6) menetap ke arah selatan — ke daerah Kanaan dan Afrika. Misraim menunjuk pada Mesir, Kush pada Etiopia, dan Kanaan menjadi nenek moyang bangsa-bangsa yang menghuni Tanah Kanaan sebelum Israel kembali dari Mesir.
Sementara itu keturunan Sem (Kej 10:22) melahirkan bangsa Aram dan Asyur. Di ayat 25, muncul nama Eber yang kelak menjadi asal-usul istilah “Ibrani”. Itulah sebabnya Abraham disebut sebagai orang Ibrani, keturunan Eber, dalam Kejadian 14:13. Demikian juga bangsa Israel kelak sebagai keturunan Abraham disebut “orang-orang Ibrani.”
PELEG: PEMISAHAN
Di Alkitab, nama memiliki makna yang dalam. Kata Ibrani untuk “nama” adalah ֵׁשם (shem) bukan sekadar “sebutan” atau “panggilan” tetapi mewakili identitas, ingatan, dan makna hidup seseorang (Strong’s Concordance 8034).
Contohnya Peleg, anak Eber. Di Kejadian 10:25 disebutkan bahwa “dalam zamannya bumi terbagi.” Apa maksudnya? Ada yang berteori pada zaman Peleg daratan mulai terpecah-pecah membentuk benua dan kepulauan seperti yang ada sekarang. Ada pula yang berteori bahwa pada masa itulah mulai muncul kerajaan-kerajaan yang saling bermusuhan.
Nama Peleg (ֶֶּ֗פלֶג ) artinya “terbagi” atau “terpisah”. Akar katanya berkaitan dengan aliran sungai — seperti sungai yang bercabang dua. Berdasarkan pengertian nama ini dan kedekatannya dengan narasi Menara Babel, banyak ahli percaya bahwa peristiwa Menara Babel (Kej. 11) terjadi pada zaman Peleg.
BABEL: KEKACAUAN
Kejadian 11 dimulai dengan situasi yang ideal: satu bahasa, satu tempat, satu tujuan. Mereka berkumpul di dataran Sinear — wilayah subur di antara Sungai Tigris dan Efrat (Kej 11:2). Karena tidak ada batu di daerah itu, mereka membuat bata yang dibakar dan dilapis aspal (bitumen) agar tahan air (Kej. 11:3).
Mereka berkata, “Marilah kita membangun kota, dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi” (Kej. 11:4). Mereka ingin mencari nama — tanda sukses peradaban, teknologi, kecerdasan, dan ideologi mereka. Mereka ingin nama itu dikenal luas menjadi pemersatu seluruh umat manusia.
Apa salahnya dengan pemikiran mereka? Setidaknya ada dua masalah dengan ambisi ini:
Pertama, TUHAN tidak pernah memerintahkan manusia tinggal menetap bersama. Sebaliknya TUHAN perintahkan manusia beranakcucu dan bertambah banyak serta “penuhilah bumi.” (Kej. 9:1). Kata “penuhilah” ( ָמֵׁלא: mala) menunjukkan TUHAN menghendaki manusia bergerak ke seluruh penjuru bumi. Kedua, manusia berusaha mewujudkan ambisinya tanpa melibatkan TUHAN sama sekali. Keberhasilan manusia dalam proyek ini akan membuat manusia menjadi sombong, mengandalkan diri sendiri, dan makin menjauh dari TUHAN.
Oleh karena itu TUHAN “turun” untuk melihat kota dan menara mereka (Kej. 11:5). Ia melihat bahwa kalau dibiarkan, manusia akan menjadi liar (Kej 11:6). TUHAN lalu mengacaukan ( ָבַלל: balal) bahasa mereka sehingga mereka tidak bisa lagi saling mengerti (Kej. 11:7-8).
Menariknya, kata balal bermakna “campur baur” bukan “pecah belah”. Ketika seseorang mendengar bahasa asing yang tidak dimengertinya, semua kata terdengar seperti suara yang tercampur baur — kacau. Atau saat berbagai musik yang tidak harmonis terdengar bersamaan, hasilnya hanya suara kacau tanpa makna, tidak dapat dinikmati.
Demikianlah kekacuan “campur baur” itu menghancurkan persatuan umat manusia. Karena itu kota itu dinamakan Babel, dari akar kata balal. Babel adalah kekacauan, campur baur; tanpa harmoni, hancurlah persatuan.
ABRAHAM: BAPA BANYAK BANGSA
Setelah kisah Babel, Kejadian 11:10–26 mencatat silsilah dari Sem sampai Abram (nama awal Abraham). Di akhir silsilah itu, fokus bergeser ke Abram (Kej 11:26). Di Kejadian 12, TUHAN memanggil Abram untuk meninggalkan negerinya dan pergi ke tanah yang TUHAN akan tunjukkan (Kej 12:1). TUHAN menjanjikan: “Aku akan membuat namamu besar” (ָגַדל : gadal).
Kata gadal berarti “besar”, “mulia”, atau “terkenal”. Yang menarik, kata gadal ini adalah akar kata yang sama dengan kata “menara” dalam bahasa Ibrani: ִמְגָדל (migdal). Jadi menara (migdal) adalah sarana manusia untuk membuat nama mereka gadal — besar. Namun TUHAN justru menjanjikan gadal itu kepada Abram, bukan karena usaha Abram melainkan karena panggilan dan janji-Nya.
Kontras antara Abram dan Babel sangat jelas terlihat.
- Nama besar Babel diusahakan dengan kekuatan manusia. Nama besar Abram diberikan oleh kekuatan TUHAN.
- Babel ingin tinggal menetap bersama-sama seluruh umat manusia. Abram dipanggil keluar dari rumah keluarganya.
- Babel adalah nama bagi kekacauan akibat pemberontakan kepada TUHAN. Abram adalah nama bagi persatuan umat manusia di dalam iman dan ketaatannya kepada TUHAN.
Setelah sampai di Kanaan, Abram membangun mezbah ( ִמְזֵׁבַח : mizbeakh) dan memanggil nama TUHAN (Kej 12:7–8). Istilah “memanggil nama TUHAN” bermakna menyembah-Nya, berseru kepada-Nya, dan menyatakan kebergantungan kepada-Nya.
Nama TUHAN tidak dikenal di Babel. Itu karena manusia sudah merasa aman hidup bersama dan mengandalkan kekuatan sendiri. Namun Nama TUHAN dikenal oleh Abram. Oleh perintah-Nya, Abram mau hidup terpisah dari sanak keluarganya dan hanya mengandalkan kekuatan TUHAN.
Di kemudian hari TUHAN, Sang Pemersatu Sejati, “menyentuh” nama Abram menjadikannya “nama yang mempersatukan” orang percaya. TUHAN meletakkan pada nama Abram satu huruf dari nama-Nya, yaitu huruf H (ה) — dari YHWH. Abram ( ַאְבָָ֑רם ) menjadi Abraham ( ַאְבָרָָ֔הם ) (Kej 17:5), yang berarti “bapa banyak bangsa”, bahkan “bapa semua orang beriman" (Gal. 3:7), termasuk kita yang percaya kepada Kristus.
MEMBANGUN MENARA ATAU MEZBAH?
Dalam Kejadian 10–12, terdapat kontras tajam antara ִמְגָדל (migdal, "menara") dan ִמְזֵׁבַח (mizbeakh, "mezbah"). Akar kata migdal bermakna “kebesaran,” sedangkan mizbeakh bermakna “pengurbanan.”
Gereja sebagai komunitas orang percaya menghadapi pilihan serupa: membangun diri seperti menara Babel — mengejar kebesaran — atau seperti mezbah Abram — hidup dalam pengurbanan dan penyembahan sejati. TUHAN menolak Menara Babel dan mengacaukannya. Sebaliknya, TUHAN berkenan kepada mezbah Abram dan mempersatukan umat-Nya sebagai keturunan Abra(ha)m.
Gereja yang membangun Menara Babel orientasinya kepada nama sendiri. Gereja Babel sibuk membesarkan nama organisasi, nama pemimpin, bahkan nama-nama acara tetapi lupa meninggikan nama TUHAN.
Ada beberapa tanda bahwa gereja sedang membangun Menara Babel:
- Fokusnya adalah pencapaian manusia. Kegiatan, pelayanan, bahkan liturgi dirancang untuk menarik perhatian bukan menyatakan kemuliaan TUHAN.
- Gereja Babel menekankan kesamaan, menghasilkan ilusi kesatuan. Gereja yang sehat bersatu justru di tengah keberagaman karunia dan peran dalam Roh Kudus.
- Gereja Babel takut keluar dari zona nyaman, takut diutus, takut merugi, takut kehilangan orang. Mereka lebih suka mengumpulkan daripada mengutus.
- Gereja Babel membangun tinggi tetapi tak berdasar dalam. Ini adalah gereja yang mengukur keberhasilan dari jumlah gedung, jemaat, atau pengaruh sosial.
- TUHAN “turun” untuk melihat (Kej. 11:5), bukan karena Dia diundang, tetapi karena manusia mengabaikan-Nya. Gereja Babel tidak lagi mengandalkan Tuhan dalam perencanaan.
Sebaliknya, Abram tidak membangun menara. Ia membangun mezbah. Ia tidak mencari nama bagi dirinya tetapi menerima nama baru dari TUHAN: Abraham. Ia tidak tinggal dalam kota bentukan manusia tetapi berjalan mengikuti panggilan Allah mendirikan mezbah di setiap tempat ia tiba — sebagai tanda penyembahan dan kebergantungan kepada TUHAN.
Gereja yang mendirikan mezbah seperti Abram adalah komunitas orang percaya yang berkata seperti Abram: “Di sinilah tempat TUHAN menyatakan diri, di sinilah aku menyembah Dia, dan aku bergantung pada Nya.”
Adapun ciri-cirinya ialah:
- Menjadikan TUHAN pusat dari ibadah, pelayanan, keputusan, dan segala aktivitasnya — bukan nama besar pendetanya, bukan program-program yang megah, bukan kekuatan dana, dan bukan pencitraan diri.
- Menjadikan ibadah sebagai tempat perjumpaan pribadi dan komunal dengan TUHAN. Musik, liturgi, dan khotbah diarahkan untuk memuliakan TUHAN bukan memuaskan selera manusia. Bagi mereka, penyembahan bukan pertunjukan.
- Hidup dari Firman Tuhan dan mau berjalan dalam ketaatan bahkan jika itu menuntut pengurbanan, meninggalkan zona nyaman, atau bertentangan dengan arus zaman.
- Tidak disatukan oleh suku, budaya, atau kepentingan melainkan oleh iman kepada Kristus (Ef. 2:12-22).
- Hadir untuk menjadi terang dan garam — melayani, mengasihi, menjadi berkat, memberi pengaruh kudus bagi masyarakat.
- Berani melangkah dalam iman: berdoa, bermisi, membina, dan menanam tanpa harus melihat hasil instan atau takut rugi secara duniawi.
Kiranya kita tidak membangun menara yang menjulang tetapi mendirikan mezbah yang hidup — tempat TUHAN berkenan menyentuh dan memberi nama kita seperti Abraham. Di dalam nama-NYA gereja, keluarga, dan orang-orang percaya menikmati persatuan yang sejati.