Sejenak kita bayangkan suasana padang gurun dengan ribuan tenda orang Israel tersusun rapi. Di tengah barisan itu berdiri sebuah tenda yang berbeda dari semua tenda lain: Tabernakel. Siang hari tenda itu dinaungi tiang awan, malam hari diterangi tiang api. Pemandangan ini menjadi bukti bahwa Allah hadir di tengah umat-Nya. Tabernakel bukan sekadar tenda ibadah tetapi simbol besar: Allah, Sang Pencipta langit dan bumi, memilih untuk tinggal bersama umat-Nya yang baru saja dibebaskan dari Mesir.
Kisah Tabernakel membawa kita memahami lebih dalam kerinduan Allah untuk dekat dengan manusia. Kata kunci yang dipakai Alkitab adalah kata Ibrani “shakan”, yang berarti diam, tinggal, bersemayam. Dari kata ini lahirlah istilah yang sering kita dengar, Shekinah, yang menunjuk pada kemuliaan Allah yang tinggal bersama umat-Nya.
Allah yang mau dekat
Sebelum Tabernakel didirikan, bangsa Israel sudah mengalami penyertaan Allah. Mereka melihat tiang awan dan tiang api yang menuntun perjalanan, merasakan mukjizat manna bahkan menyaksikan kedahsyatan di Gunung Sinai ketika Allah menurunkan hukum Taurat. Namun semua itu masih terasa jauh dan menakutkan. Umat hanya dapat berdiri dari kejauhan sementara Musa sendirian naik menghadap Allah.
Di sinilah perintah Keluaran 25:8 menjadi sangat penting: “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka.” Kata shakan di ayat ini mengubah cara umat memahami Allah. Ia bukan hanya Allah yang memimpin dari depan atau menampakkan kuasa dari langit, tetapi Allah yang mau membuat “rumah” di tengah-tengah umat-Nya.
Makna kata Shakan
Secara umum, kata shakan muncul lebih dari seratus kali di Perjanjian Lama. Ketika digunakan untuk Allah, maknanya jauh lebih dalam daripada sekadar “tinggal.” Shakan menunjuk pada kehadiran Allah yang menetap, menyertai, bahkan menguduskan.
Kitab Kejadian memakai kata ini untuk menggambarkan orang yang tinggal di suatu tempat, tetapi dalam Keluaran arti itu bergeser: Allah sendiri yang memilih “tinggal” di antara umat-Nya. Kitab Imamat menambahkan bahwa kehadiran itu menuntut kekudusan. Bilangan menekankan kepatuhan pada tanda hadirat Allah sementara Ulangan mengaitkannya dengan komitmen dan kesetiaan umat.
Jadi, shakan bukan hanya soal keberadaan fisik. Ia menyatakan hubungan yang erat antara Allah dan umat-Nya: Allah mau menetap, tetapi umat harus hidup kudus, taat, dan berkomitmen.
Dari Sinai ke Tabernakel
Perjalanan Israel di padang gurun dapat dibagi dua: sebelum dan sesudah Tabernakel.
Sebelum Tabernakel: Allah hadir melalui tanda-tanda dahsyat. Di Gunung Sinai ada petir, guruh, dan awan tebal. Kehadiran Allah menimbulkan rasa takut luar biasa. Umat sadar bahwa Allah itu kudus dan tidak dapat didekati sembarangan.
Sesudah Tabernakel: Allah turun untuk berdiam di tengah-tengah mereka. Kemuliaan-Nya memenuhi Kemah Suci (Kel. 40:34-38). Tabernakel menjadi pusat perkemahan dan pusat penyembahan. Umat dapat datang membawa kurban, imam dapat melayani, dan bangsa itu tahu Allah sungguh menyertai mereka dalam setiap langkah.
Tabernakel mengajarkan keseimbangan: Allah yang transenden (tinggi, agung, kudus) juga adalah Allah yang imanen (dekat, menyertai).
Ilustrasi
Bayangkan sebuah kompleks perumahan. Awalnya, warga hanya tahu ada seorang raja baik hati yang sesekali lewat dengan kendaraan mewahnya. Mereka tahu ia ada, tetapi tetap terasa jauh. Lalu suatu hari sang raja membeli sebuah rumah di tengah kompleks itu dan tinggal di sana. Kehadirannya bukan lagi sekadar kabar melainkan nyata. Warga dapat melihatnya, berbicara dengannya, bahkan merasakan perlindungannya setiap hari.
Begitu pula dengan Tabernakel. Allah, Raja semesta, memilih tinggal di tengah perkemahan Israel. Ia tidak butuh rumah, tetapi umat membutuhkan kepastian bahwa Allah sungguh beserta mereka.
Allah yang Kudus
Namun kehadiran Allah ini bukan tanpa konsekuensi. Tabernakel mengajarkan bahwa Allah yang tinggal di tengah umat adalah Allah yang kudus.
Itu sebabnya banyak aturan ditetapkan. Para imam harus dikuduskan, kurban harus dipersembahkan dengan benar, dan setiap perabotan Tabernakel disucikan. Orang yang najis tidak boleh sembarangan masuk. Kehadiran Allah adalah hak istimewa, tetapi juga tanggung jawab besar.
Kitab Imamat menekankan bahwa bahkan imam besar harus menjalani ritual penyucian sebelum melayani. Kehadiran Allah yang shakan menuntut umat yang kudus. Kedekatan dengan Allah tidak dapat dijalani dengan sikap sembarangan.
Pedoman Kehidupan
Kitab Bilangan menambahkan gambaran indah: perjalanan bangsa Israel selalu bergantung pada tiang awan dan tiang api. Jika awan itu bergerak, mereka harus berangkat. Jika awan itu diam, mereka harus berhenti. Awan itu melambangkan hadirat Allah di Tabernakel.
Dengan kata lain, seluruh kehidupan bangsa Israel diatur oleh kehadiran Allah. Ia bukan hanya Penonton, tetapi Pemimpin yang menuntun langkah mereka. Inilah makna shakan: Allah yang menetap sekaligus memimpin.
Komitmen Umat
Kitab Ulangan kemudian mengingatkan generasi baru Israel: jangan melupakan Allah yang sudah berdiam di tengah mereka. Mereka harus setia hanya kepada Allah dan menyembah-Nya di tempat yang Ia pilih untuk “menempatkan Nama-Nya.” Kehadiran Allah bukan hanya janji, tetapi juga panggilan untuk berkomitmen.
Yesus Kristus Sang Tabernakel
Semua kisah Tabernakel ini menunjuk pada sesuatu yang lebih besar. Yohanes 1:14 berkata: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita.” Kata “diam” di sini berasal dari akar kata yang sama dengan shakan.
Yesus Kristus adalah Tabernakel sebenar-benarnya. Ia bukan sekadar lambang atau tenda sementara, tetapi wujud nyata Allah yang tinggal bersama manusia. Melalui Yesus, Allah tidak lagi hanya berdiam di sebuah tempat melainkan di hati setiap orang percaya. Kehadiran-Nya bukan lagi terbatas oleh tenda, melainkan nyata di dalam hidup kita.
Relevansi untuk Kita
- Allah itu dekat. Ia bukan hanya Allah yang jauh di Surga, tetapi Allah yang mau hadir dalam kehidupan sehari-hari kita.
- Allah itu kudus. Kehadiran-Nya menuntut kita untuk hidup benar dan menjaga kekudusan hidup.
- Allah itu memimpin. Sama seperti tiang awan dan api memimpin Israel, hadirat Allah melalui Roh Kudus menuntun jalan hidup kita.
- Allah itu setia. Dari Eden hingga Sinai, dari Tabernakel hingga Kristus, Allah konsisten menunjukkan kerinduan-Nya untuk tinggal bersama manusia.
Tabernakel Musa bukan hanya tenda kuno di padang gurun. Ia adalah simbol kasih Allah yang ingin tinggal bersama umat-Nya. Kata shakan mengingatkan kita bahwa Allah memilih untuk berdiam, menetap, dan menyertai.
Sebelum Tabernakel, umat hanya melihat tanda-tanda dari jauh. Sesudah Tabernakel, mereka hidup dengan kepastian bahwa Allah ada di tengah mereka. Dan sekarang, melalui Kristus, Allah tinggal di dalam hati kita.
Sudahkah hidup kita menjadi Tabernakel bagi Allah? Apakah hati kita sudah menjadi rumah di mana Allah berkenan tinggal? Sebab Allah masih sama seperti dulu: Allah yang ingin dekat, Allah yang mau tinggal, Allah yang rindu membuat rumah di tengah umat-Nya.