• Topik: Rumah Allah dan Kita
  • PEMBAHARUAN HIDUP UNTUK MELAYANI
  • Kis. 2:37-38
  • Jusak Pundiono
pembaharuan-hidup-untuk-melayani

" . . . Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis. 2:37-38)

***

Dari Pertobatan Menuju Pembaharuan Hidup

Masih di Pelataran Tabernakel, setelah mengalami pendamaian oleh darah kurban di Mezbah Kurban Bakaran, selanjutnya seseorang akan menjumpai Bejana Pembasuhan. Jika Mezbah Kurban Bakaran adalah “tipe” (gambaran) salib di mana tubuh Yesus yang tanpa dosa diberikan oleh Allah Bapa ketika Anak-Nya rela masuk ke dunia (Ibr.10:4-7), “tipe” apakah Bejana Pembasuhan ini?

  • Yang pertama, “tipe” pembasuhan seluruh tubuh sebagai bagian prosesi penahbisan imam untuk melayani (Kel. 29:4; Im. 8:4-7), Septuaginta/LXX memakai kata Yunani “louo” yang berarti “mandi” (bnd. Kel. 2:5). Secara tertulis tidak disebut dibasuh dengan air dari Bejana Pembasuhan, tetapi dari prosesi yang terjadi setelah Bejana Pembasuhan ditempatkan, ditaruh air ke dalamnya, diurapi untuk menguduskannya menyiratkan pembasuhan penahbisan imam ini menggunakan air Bejana Pembasuhan. Inilah “tipe” baptisan air di mana seluruh tubuh dibasuh dengan air sebagaimana yang dikhotbahkan Rasul Petrus di hari Pentakosta seperti ayat di atas untuk pengampunan dosa, yaitu mengalami pembaharuan hidup. Karena seluruh tubuh dibasuh, dimandikan, itu sebabnya baptisan air dilakukan dengan cara diselamkan.
  • Yang kedua, imam membasuh tangan dan kakinya dengan air Bejana Pembasuhan jika masuk ke dalam Kemah Pertemuan atau datang ke Mezbah Kurban Bakaran untuk menyelenggarakan kebaktian dan membakar kurban api-apian bagi TUHAN supaya tidak mati (Kel. 30:19-21; 40:30-32). Septuaginta/LXX memakai kata Yunani “nipto”. Inilah “tipe” pembasuhan rutin seorang imam yang melayani Allah untuk perbuatan (tangan) dalam perjalanan hidup (kaki) sehari-hari.

Pembaharuan untuk Menjadi Imam Allah

Di masa Taurat/Perjanjian Lama, Allah menjadikan seseorang menjadi imam bagi-Nya setelah dibasuh seluruh tubuh maka prosesi selanjutnya di Keluaran 40:10-16, imam ditahbiskan melalui kurban-kurban diawali kurban penghapus dosa (Im.8;6,14,18, 22,30). Prosesi ini khusus bagi imam-imam dari kaum Kehat, salah satu kaum suku Lewi, satu dari dua belas suku Israel (Kel.28:1, bnd. Kel.6:15,17, 19,23). Dalam kemurahan Allah, perjanjian dengan Israel, dibaharui (Yer.31:31-34), termasuk janji untuk menjadikan mereka bagi diri-Nya kerajaan imam dan bangsa yang kudus (Kel.19:3-6).

Tampaknya di dalam perjanjian yang dibaharui ini, prosesinya dibalik. Israel harus lebih dahulu menerima Yesus yang mereka salibkan sebagai Tuhan dan Kristus sebagai bukti pertobatan mereka bagaikan datang ke Mezbah Kurban Bakaran (Kis.2:36-38) kemudian seluruh tubuhnya dibasuh dengan dibaptis dalam air, menerima karunia Roh Kudus (Kis.2:36-38). Menerima karunia Roh Kudus berarti menerima tugas pelayanan untuk menjadi imam bagi Allah.

Kemurahan Allah dalam perjanjian baru-Nya dengan Israel ini diperluas kepada bangsa-bangsa bukan Israel supaya yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus, dan disalibkan dalam keadaan-Nya sebagai manusia tanpa dosa untuk menyelamatkan dari dosa lalu bertobat (bnd. Ef.2:11-16) dan dibaptis menjadi manusia baru karena diselamatkan dari dosa-dosanya (Mrk.16:16) untuk menjadi imam yang melayani Allah di dalam keselamatan yang diterimanya.

. . . Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya, dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.” (Why.1:5b-6)

Ayat-ayat ini menunjukkan karya Yesus Kristus yang serentak. Dalam tata bahasa Yunani, kata kerja ‘mengasihi’ dan ‘melepaskan’ adalah kata kerja aoris aktif partisip, dan kata kerja ‘membuat/menjadikan’ adalah kata kerja aoris aktif indikatif. Artinya, setelah Yesus Kristus mengasihi dan melepaskan seseorang dari dosa oleh darah-Nya, di saat itu juga Ia membuat orang itu suatu kerajaan dan imam bagi Allah.

Pembaharuan terus-menerus sepanjang hidup

Tanpa kemurahan Allah, pengampunan dosa tidak mungkin terjadi maka selanjutnya seseorang yang diampuni dosa-dosanya pasti akan termotivasi untuk mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah (Rm.12:1). Persembahan tubuh yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah tersebut melalui proses tidak menjadi serupa dengan dunia, proses berubah oleh pembaharuan budi untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah (ay.2), melayani Tuhan di dalam tubuh Kristus sesuai karunia masing-masing (ay.3-8). Inilah pembaharuan terus menerus untuk melayani sebagai imam Allah.

“Tipe” (gambaran) proses ini di Tabernakel semasa Taurat/Perjanjian Lama adalah bahwa sebelum melayani, imam harus lebih dahulu membasuh tangan dan kakinya (Kel. 30:17-21). Di masa kini, setelah diampuni oleh darah Yesus, dibaptis di dalam air, seorang pelayan Tuhan memiliki hati nurani yang baik (Ibr.9:11-14) sebab baptisan air bukan sekadar upacara agamawi tetapi jawaban permohonan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus (1Petr.3:20-22). Air bah yang menenggelamkan manusia fasik sehingga delapan orang diselamatkan (ay.20) adalah “tipe” (gambaran) bahwa pelaksanaan baptisan air harus memenuhi unsur air yang banyak dan menenggelamkan. Ini juga menjadi alasan mengapa baptisan air dilaksanakan dengan diselamkan.

Dengan hati nurani yang baik, seorang imam akan memiliki kepekaan akan kehendak Allah (Rm.12:2) sehingga menyadari kesalahan perbuatannya di setiap langkah hidupnya sehari-hari untuk membasuhnya dengan air Bejana Pembasuhan. Daud di Mazmur 26:6-7 membasuh tangan tanda tak bersalah sebab ia memiliki kepekaan untuk tidak bergaul dengan perbuatan-perbuatan fasik (ay.4-5) lalu ia mengelilingi mezbah TUHAN untuk mempersembahkan kurban syukur (ay.6-7).

Pembaharuan dengan Air oleh Firman Allah

Secara khusus Bejana Pembasuhan dibuat dari cermin tembaga para pelayan perempuan yang melayani di depan Pintu Kemah Pertemuan (Kel.38: 8) bukan dari tembaga persembahan sukarela suku-suku Israel (Kel.25:1-3). Cermin-cermin ini tersirat dipersembahkan pascapenyembahan lembu emas karena sejak itu para perempuan Israel tidak lagi mengenakan perhiasan-perhiasan (Kel.33:5-6). Musa kemudian membentangkan kemah yang dinamainya Kemah Pertemuan (ay.7) dan ada perempuan-perempuan yang melayani di depan Kemah ini yang nanti setelah Tabernakel/ Kemah Suci yang juga disebut Kemah Pertemuan didirikan (Kel.39:32; 40:2,6,29). perempuan-perempuan ini akan juga melayani di depannya.

Kata Ibrani “cermin” (Ibr. mar’ah) diterjemahkan Septuaginta/LXX dengan “katoptron” sinonim dengan kata Yunani “esoptron” yang terdapat di Yakobus 1:22-25 untuk menggambarkan hukum sempurna, yakni firman Allah yang utuh dari Kejadian sampai Wahyu, yang harus diteliti oleh imam pelayan Tuhan menjadi “esoptron”, cermin, untuk mengoreksi wajah perbuatan di setiap langkah hidupnya sehari-hari. Air juga “tipe” firman Allah untuk memandikan (akar kata Yun. “louo”, membasuh seluruh tubuh) sehingga menyucikan jemaat (Ef.5:25-26). Maka dengan berkaca pada firman Allah bagaikan “esoptron”, cermin, untuk mengoreksi wajah perbuatannya, seorang imam membasuh kesalahannya dengan firman Allah yang juga bagaikan air penyucian untuk menjadi tidak serupa dengan dunia dan dibaharui budinya untuk melayani Allah.

Pembaharuan dalam Pimpinan Roh Allah

Prosesi diurapi untuk menjadi imam di masa Taurat/Perjanjian Lama (Kel.40:13-15) menjadi “tipe” (gambaran) prosesi Ilahi bagi seseorang yang ditahbiskan menjadi imam di masa kini. Ketika seseorang percaya karena mendengar firman Allah, ia dimeterai dengan Roh Kudus (Ef.1:13). Di Kisah Para Rasul peristiwa ini terjadi pada keluarga Kornelius, perwira Romawi, yang bukan orang Israel (Kis.10:43-45) dan menurut Paulus, idealnya harus juga dialami beberapa murid di Efesus (Kis.19:1-2). Ini kemudian menjadi rumusan baku Kekristenan yang ditulis Paulus di Efesus 1:13 tersebut.

Jadi pemeteraian Roh Kudus dilakukan Allah pada saat seseorang menjadi percaya, itulah ketika seseorang memasuki Pintu Gerbang iman kepada Yesus Kristus karena mendengar Injil Keselamatan, bertobat, dosa-dosanya diampuni (Mezbah Kurban Bakaran), dibaptis di dalam air (Bejana Pembasuhan), dan memulai pelayanan sebagai imam Allah dengan diurapi Roh Kudus. Ketika Allah memeteraikan, berarti secara serentak Ia juga mengurapi dan memberikan Roh Kudus (2Kor.1:20-22). Keserentakkan ini dinyatakan dalam tata bahasa Yunani, kata kerja “mengurapi” dan “memberikan” berbentuk partisip aoris aktif, kata kerja “memeteraikan” berbentuk partisip aoris medial. Maka ketika percaya saat mendengar Injil keselamatan dan dimeteraikan dengan Roh Kudus (Ef.1:13), saat itu juga diurapi dengan Roh Kudus.

Anugerah bisa percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Kristus adalah pekerjaan Roh Kudus (1Kor.12:2-3), bertobat adalah dorongan Roh Kudus yang menginsafkan akan dosa (Yoh.16:8); demikian pula dibaptis dan dibasuh dari perbuatan dosa sehari-hari. Setiap langkah orang percaya sebagai imam Allah dimulai oleh Roh dan seterusnya dipimpin oleh Roh; maka pembaharuan hidup terus menerus juga dalam pimpinan Roh.

Pembaharuan Hidup untuk Melayani

Disimpulkan dengan langkah-langkah di mana ia dipimpin Roh Kudus yang dengan jelas di”tipe”kan (digambarkan) melalui Pola Tabernakel,

  1. Masuk ke dalam Pintu Gerbang iman yang menyelamatkan dengan percaya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya Jalan Masuk kepada keselamatan yang membawa kepada Bapa (Yoh.14:6), kemudian Yesus menjanjikan Roh Kudus yang menyertai selama-lamanya (ay.15-17). Oleh karena itu ketika percaya di dalam Kristus, Allah memeteraikan dengan Roh Kudus.
  2. Bertobat, dilepaskan dari dosa, juga dalam pimpinan Roh Kudus, untuk menjadi imam, karena ketika dimeterai dengan Roh Kudus, Allah juga mengurapi, dan berdasarkan “tipe” (gambaran) di Perjanjian Lama, ini adalah pengurapan untuk menjadi imam bagi-Nya, yang melayani-Nya.
  3. Soal pembaptisan, berdasarkan “tipe” (gambaran) di Perjanjian Lama, di Perjanjian Baru hingga masa Gereja, adalah dengan diselamkan di dalam air sehingga seluruh tubuh dimandikan dan ini juga dikerjakan di dalam Kristus.
  4. Maka ketika seseorang secara mandiri, karena percaya, memutuskan untuk dibaptis air, berarti ia juga memutuskan untuk melayani sebagai imam bagi Allah. Selanjutnya, hati nuraninya yang peka akan dosa membuatnya selalu introspeksi diri dengan bercermin firman Allah maka dia juga memutuskan untuk setiap hari membaca Alkitab secara urut dari Kejadian sampai Wahyu karena itulah hukum sempurna yang membasuh kesalahan pikiran, perkataan, dan perilakunya sehari-hari untuk dibaharui terus menerus sepan-jang hidupnya.