Pelataran Tabernakel adalah area terbuka berukuran 100 hasta x 50 hasta (45 m x 22,5 m), kira-kira sebesar lapangan futsal indoor (Kel. 27:9-19). Setiap orang yang ingin mendekat kepada Allah harus masuk ke Pelataran ini sebelum ke Tempat Kudus atau Tempat Mahakudus.
Pagar Pelataran bukan tembok tetapi “layar dari lenan halus” putih (Kel. 27:9). Kain ini digantung pada tiang-tiang tembaga dengan kait dan batang perak (Kel. 27:10-11,17). Tiangnya berdiri di atas alas tembaga (Kel. 27:10-11,17-18). Tinggi pagarnya 5 hasta (2,25 meter) (Kel. 27:18) sehingga menjadi dinding kain putih yang kukuh dan rapi.
Dari luar, orang hanya melihat hamparan kain putih tinggi dan barisan tiang tembaga. Semua aktivitas di dalam Pelataran tersembunyi tetapi jika seseorang mengikuti pagar itu, ia akan tiba pada Pintu Gerbang di sisi timur, satu-satunya jalan masuk (Kel. 27:16). Warnanya biru, ungu, kirmizi, dan putih membuatnya menonjol dibandingkan dengan seluruh pagar lenan putih di sekelilingnya.
Pelajaran bagi Gereja
Gereja masa kini pun perlu punya “pagar” seperti itu. Dalam terang Perjanjian Baru, lenan halus dipakai sebagai gambaran perbuatan benar orang-orang kudus (Why. 19:8). Memang, seharusnyalah orang percaya hidup dengan perbuatan benar sehingga orang lain dapat melihat bahwa Allah itu kudus. Namun tujuan utama perbuatan benar bukan untuk memamerkan diri tetapi untuk menunjukkan betapa pentingnya Yesus, Sang Pintu Gerbang, membawa orang kepada Allah.
Karena itu, kita harus berhati-hati. Jangan sampai perbuatan benar kita justru membuat orang menjauh dari Yesus. Ada dua bahaya:
1. Perbuatan kita membuat orang fokus pada diri kita bukan pada Yesus. Mereka kagum kepada kita tetapi tidak mencari Pintu Gerbang.
2. Perbuatan kita ternyata tidak benar. Kita memang tidak mungkin sempurna dalam perbuatan benar kita di dalam dunia ini. Namun di dalam anugerah Allah, kita dimampukan lepas dari hidup yang kotor sehingga orang tidak perlu melihat kita sebagai “pagar kotor,” yang membuat mereka jadi tidak tertarik mengenal Tuhan.
Tujuan hidup benar adalah supaya orang lain semakin mudah menemukan Yesus. Kita hanyalah pagar; Dialah Pintu Gerbang.
Apa saja yang terjadi di Pelataran Tabernakel? Alkitab memberikan sedikitnya empat jawaban.
1. PENDAMAIAN (Im. 1–7; Bil. 28:3–8; Kel. 29:42–43; Im. 16)
Allah menyatakan dengan sangat jelas, “…di depan pintu Kemah Pertemuan… di sana Aku akan bertemu dengan kamu untuk berfirman kepadamu.” (Kel. 29:42–43)
“Depan Pintu Kemah Pertemuan” yang dimaksud adalah area Pelataran, tepat di depan Mezbah Kurban Bakaran. Pusat hadirat Allah memang ada di Tempat Mahakudus tetapi titik perjumpaan antara Allah dan umat adalah di Pelataran yang penuh asap kurban, darah, dan seruan orang yang datang mencari pengampunan.
Seluruh kurban dalam Imamat 1–7 (kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban penebus salah, dan kurban penghapus dosa) semuanya disembelih di Pelataran. Ketika seorang Israel membawa kurban penghapus salah, ia menumpangkan tangan ke hewan kurban itu di Pelataran, mengakui dosanya, dan menyaksikan hewan itu disembelih. Pelataran menjadi saksi betapa serius dosa itu dan betapa Allah menyediakan jalan untuk pendamaian.
Setiap hari, dua kali sehari (pagi dan petang) kurban bakaran harian dipersembahkan di tempat yang sama (Bil. 28:3–8). Rutinitas ini menunjukkan bahwa Pelataran tidak pernah sepi dari tanda pengampunan. Setiap orang Israel yang lewat dapat melihat asap naik ke langit dan mengingat bahwa kasih setia Tuhan itu baru setiap pagi.
Puncak pendamaian terjadi saat Hari Pendamaian (Im. 16). Imam besar memulai ritualnya di Pelataran: menumpangkan tangan pada kambing jantan untuk Azazel (Im. 16:21), mengakui dosa bangsa, dan mengirimnya ke padang gurun sebagai tanda bahwa Tuhan menyingkirkan dosa umat. Dengan demikian, Pelataran adalah tempat Israel melihat bahwa Allah sungguh-sungguh mengampuni tidak secara abstrak tetapi melalui tindakan nyata.
Pelajaran bagi Gereja
Gereja masa kini pun harus menjadi tempat pendamaian. Banyak orang tidak berani mendekat kepada Tuhan karena merasa terlalu kotor. Namun Pelataran Tabernakel mengajarkan bahwa Gereja harus membuka ruang bagi orang yang rindu bertobat, meratapi dosanya, atau terjatuh berkali-kali. Peran Gereja adalah mendamaikan mereka dengan Allah, bukan mengusir mereka.
Seperti asap kurban harian yang naik tiap pagi dan petang, Gereja hari ini dipanggil untuk memancarkan kabar bahwa pengampunan selalu tersedia. Kristus adalah Kurban sejati dan Gereja harus menjadi tempat orang melihat dan mengalami pendamaian itu, bukan tempat yang menutup pintu bagi mereka yang membutuhkan kasih karunia.
2. PENAHBISAN (Im. 8–9)
Ketika Harun dan anak-anaknya ditahbiskan sebagai imam, seluruh prosesi (pemandian tubuh, pemakaian pakaian imam, pengurapan minyak, dan persembahan kurban khusus) semuanya berlangsung di Pelataran (Im. 8). Umat Israel menyaksikan bagaimana orang-orang yang Tuhan pilih dipisahkan untuk pelayanan-Nya. Pelataran menjadi tempat di mana pelayanan kudus dimulai.
Peristiwa yang paling dramatis terjadi pada hari kedelapan. Setelah kurban persembahan dipersembahkan sebagaimana Tuhan perintahkan, Musa dan Harun masuk ke dalam Kemah Pertemuan untuk berdoa. Ketika mereka keluar, “...tampaklah kemuliaan TUHAN kepada segenap bangsa itu. Dan keluarlah api dari hadapan TUHAN, lalu menghanguskan korban bakaran dan segala lemak di atas mezbah....” (Im. 9:23–24)
Umat Israel menyaksikan api Tuhan turun di Pelataran, tepat di atas mezbah. Mereka bersorak dan sujud menyembah. Tuhan menunjukkan kemurahan-Nya bukan di Tempat Mahakudus atau Tempat Kudus tetapi di ruang terbuka, di tengah umat. Pelataran menjadi tempat di mana umat melihat bahwa pelayanan yang benar, sesuai dan taat pada Firman, menghadirkan kemuliaan Allah.
Pelajaran bagi Gereja
Gereja hari ini harus menjadi tempat di mana para pelayan Tuhan dibentuk dalam kenyataan hidup sehari-hari. Mereka belajar setia, belajar taat, belajar melayani, dan belajar hidup di hadapan umat. Pelataran yang terbuka menggambarkan bahwa panggilan itu tidak tersembunyi: umat menyaksikan, mendukung, bahkan menegur bila perlu.
Api Tuhan turun di Pelataran ketika Harun menaati perintah Tuhan. Pesannya bagi Gereja: kuasa Roh Kudus tidak turun pada kepalsuan atau kesombongan melainkan pada ketaatan yang nyata. Pelayanan sejati bukan soal panggung tetapi soal hidup yang dibakar oleh kesetiaan kepada Firman. Setiap pelayan Tuhan dari Gembala Sidang sampai anak remaja yang baru belajar melayani dipanggil untuk memulai perjalanannya di Pelataran di mana tampak nyata hidup mereka diproses dalam kerendahan hati di hadapan Allah dan semua orang.
3. PENGHAKIMAN (Im. 10:1–3; Bil. 16:18–22; 41–50)
Pelataran bukan hanya tempat pendamaian dan penahbisan; Pelataran juga menjadi tempat di mana kekudusan Allah ditegakkan. Dua peristiwa besar mencatat bagaimana Allah menyatakan murka-Nya justru di Pelataran bukan di tempat terdalam Tabernakel.
Peristiwa pertama adalah kematian Nadab dan Abihu (Im. 10:1–3). Mereka mempersembahkan “api asing”, suatu bentuk ibadah yang Tuhan tidak perintahkan. Akibatnya, api Tuhan membakar mereka di Pelataran. Musa memerintahkan agar tubuh mereka diangkat dan dibawa keluar dari Pelataran (Im. 10:4–5). Di hadapan seluruh umat, Tuhan menunjukkan bahwa ibadah yang tidak hormat tidak akan dibiarkan.
Peristiwa kedua terjadi dalam pemberontakan Korah (Bil. 16). Korah dan para pengikutnya berdiri tepat di depan pintu Kemah Pertemuan, yakni di Pelataran sambil mempersembahkan ukupan yang tidak Tuhan perintahkan. Kemuliaan Tuhan tampak, bumi terbelah menelan mereka (Bil 16:31–32), dan api membakar 250 orang yang mempersembahkan ukupan (Bil 16:35). Lagi-lagi, Pelataran menjadi tempat di mana Tuhan membersihkan ibadah-Nya dari pemberontakan dan kepalsuan.
Dalam dua peristiwa ini, Pelataran menjelaskan satu hal: Allah itu pengasih tetapi juga kudus. Dan kekudusan harus dijaga saat umat melangkah masuk ke dalam Pelataran.
Pelajaran bagi Gereja
Allah memerintahkan ritual tetapi perhatian utama-Nya adalah pada hati dan kehidupan pelayan-Nya. Allah tidak hanya menghakimi dosa yang tersembunyi tetapi juga ibadah yang tidak menghormati kekudusan-Nya.
Nadab dan Abihu mempersembahkan api yang Tuhan tidak perintahkan. Gereja pun harus berhati-hati: inovasi liturgi, gaya ibadah, atau pelayanan apa pun harus tetap tunduk pada Firman. Kesombongan rohani, ambisi pribadi, atau ibadah yang mengejar pujian manusia adalah “api asing” yang Tuhan tidak kehendaki.
Pemberontakan Korah mengingatkan bahwa Tuhan menolak kepemimpinan rohani yang tidak diurapi dan umat harus menjaga diri dari semangat melawan otoritas yang Tuhan tetapkan. Gereja dipanggil untuk belajar akan ketertiban rohani bukan pemberontakan.
Bukan berarti semua kreativitas dalam ibadah harus ditolak sebagai “api asing”. Bukan pula semua kritik terhadap pemimpin gereja adalah pemberontakan. Namun yang utama, gereja dan warganya harus selalu memeriksa diri apakah semua bentuk masukan dan pelayanannya dilandaskan pada ketaatan akan Firman Tuhan dan penghormatan akan kekudusan serta kedaulatan Allah.
Pelataran menjadi peringatan keras: kekudusan Allah bukan sekadar teori melainkan realitas yang harus dijaga dalam kehidupan gereja.
4. PEMULIHAN (Im. 12, 14–15)
Meskipun Pelataran menjadi tempat penghakiman, Pelataran juga merupakan tempat pemulihan. Di sinilah orang-orang yang dahulunya najis mendapatkan kesempatan kembali, antara lain:
- Orang yang sembuh dari kusta diperiksa imam di Pelataran dan dipulihkan melalui kurban ibadah (Im. 14:11–13).
- Seorang ibu yang baru melahirkan membawa kurban penahiran di Pelataran (Im. 12).
- Orang yang terkena najis lainnya datang ke Pelataran untuk menerima pemulihan (Im. 15).
Pelajaran bagi Gereja
Pelataran adalah tempat di mana orang-orang yang dahulu terasing bisa kembali mengambil langkah pertama menuju hadirat Allah. Dari tempat najis menuju Tempat Kudus, perjalanan mereka dimulai di Pelataran.
Gereja pun harus menjadi tempat orang-orang terluka, najis, atau hancur hidupnya memulai perjalanan kembali kepada Allah. Pelataran bukan tempat menyembunyikan luka tetapi tempat memperlihatkannya agar dipulihkan.
- Orang kusta mengajarkan kepada gereja: tidak ada orang yang terlalu jauh dari rahmat Allah. Bahkan mereka yang tersisih, dijauhi, atau dipandang menjijikkan oleh masyarakat.
- Wanita yang melahirkan mengajarkan bahwa setiap siklus kehidupan, baik dalam bahagia maupun kesulitan, dapat dibawa ke hadapan Tuhan.
- Ritual pemulihan dari najis mengajarkan bahwa Tuhan tidak ingin umat hidup dalam keterasingan; Ia ingin memulihkan hubungan.Gereja harus menjadi “Pelataran Pemulihan”, yaitu tempat di mana orang berdiri lagi, disembuhkan lagi, diampuni lagi, dan diberi kesempatan baru lagi. Karena Allah tidak membiarkan orang najis selamanya di luar, Ia memanggil mereka pulang masuk Pelataran-Nya.
Pelataran Tabernakel mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah dimulai dari tempat di mana darah ditumpahkan, air mengalir, api Tuhan turun, dan umat bertemu muka dengan realitas dosa dan kasih karunia. Gereja hari ini dipanggil menjadi Pelataran-Nya, menjadi tempat pendamaian dinyatakan, pelayan Tuhan dibentuk, kekudusan ditegakkan, dan pemulihan diberikan kepada semua yang datang.
Kita tidak perlu ragu dan malu untuk datang kepada Tuhan memohon pengampunan
sebesar apa pun dosa dan kesalahan yang sudah kita lakukan.
Datanglah dengan penuh kerendahan hati dan akui semua pelanggaran kita
maka Bapa Surgawi tidak akan menolak
tetapi Ia memberikan kasih karunia-Nya dengan mengampuni dosa kita.
Bahkan Ia memberikatan kekuatan untuk berubah dari orang berdosa
menjadi orang yang berkenan kepada-Nya.