Shalom,
Bagaimana hidup berharga di mata Tuhan? Kata “berharga” secara umum berarti “sesuatu yang ada nilainya”. Contoh: hidup berharga berarti hidup tersebut mempunyai bobot, nilai, berdampak serta bermanfaat.
Bagaimana mungkin hidup kita dikatakan berharga? Bukankah Firman Tuhan sendiri menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23)? Namun mereka yang telah ditebus oleh Kristus menjadi milik-Nya juga menjadi anggota Kristus (1 Kor. 6:15). Jadi tubuh orang yang percaya dan menerima Kristus Yesus sebagai Juru Selamat serta hidup di dalam pertobatan menjadi anggota Kristus yang berharga.
Perhatikan, orang yang percaya kepada Kristus bukan hanya roh dan jiwanya saja tetapi tubuhnya juga mempunyai hubungan dengan Kristus. Oleh karena itu jangan memandang rendah tubuh ini lalu dengan seenaknya mempergunakannya untuk percabulan.
Rasul Paulus menyoroti dengan serius berkaitan dengan tubuh, yakni:
· Tubuh untuk Tuhan atau
· Tubuh untuk percabulan.
Berbicara tentang dosa percabulan dan perzinaan, ini menyangkut kesucian dan kekudusan seks. Jujur topik ini cukup sensitif dan tabu untuk disingkapkan karena dianggap vulgar serta menakutkan dan dapat menyinggung banyak orang. Namun ingat Firman Tuhan disampaikan bukan tanpa maksud, Ia sedang melawat dan mengadakan penyucian terhadap imam-imam hingga jemaat.
Kesaksian Pembicara: beberapa waktu lalu dalam perjalanan pulang ke rumah, Beliau mampir ke warung sate dan memesan sebungkus untuk dibawa pulang. Begitu selesai dan dibungkus, beliau mengambil bungkusan sate langsung bergegas pergi masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba, penjual satenya mengejar sambil membawa pisau lontong mengatakan, “Mas, sampean belum bayar!” Saya kaget bercampur malu, “Aduh Pak, minta maaf, saya tidak sadar kalau belum bayar!” Kemudian jawabnya, “Mas, saya minta maaf ya, tapi lebih baik sampean saya tagih di sini sekarang daripada nanti sampean ditagih di akhirat!”
Pesan moral “jangan keraskan hati kalau menerima teguran! Lebih baik mempertanggungjawabkan kesalahan yang diperbuat sekarang untuk bertobat selagi masih hidup di dunia ketimbang nanti ditagih di akhirat. Jangan tunggu hari esok sebab kita tidak tahu siapa mengubur siapa! Amat disayangkan kalau hari kita tiba dan kita belum sempat bertobat!
Mengapa kita harus peduli dengan tubuh lahiriah/jasmani kita? Waspada, tubuh yang dipakai untuk percabulan akan menjadi satu dengan dosa cabul. Sebaliknya, tubuh yang dipakai untuk Tuhan akan menjadi satu Roh dengan-Nya dan kita menjadi anggota Kristus. Tubuh kita menjadi tempat kediaman Roh Kudus dan kita mempunyai relasi dengan kekudusan.
Kalau begitu bagaimana memperlakukan tubuh ini supaya tubuh ini berharga bagi Tuhan?
- Tidak menyalahgunakan tubuh untuk percabulan (ay. 15-16) atau tidak melakukan tindakan penyimpangan seks. Kata percabulan (bhs. Yun. porne = harlot) mempunyai arti perilaku seks yang menyimpang dari batas-batas seks yang ditetapkan Allah. Memang seks dianugerahkan oleh Tuhan di dalam sebuah pernikahan yang sah dan hanya diperbolehkan bagi sebuah ikatan pernikahan yang kudus.
Apa saja yang termasuk kategori penyimpangan seks? Kitab Imamat 18 menuliskan dengan lengkap tentang kudusnya perkawinan juga kategori penyimpangan seks antara lain: melakukan hubungan seks di luar ikatan nikah yang sah (perzinaan, percabulan), tukar-menukar pasangan, homoseks, lesbian, perselingkuhan, bersetubuh dengan binatang, kecanduan pornografi hingga terobsesi, berfantasi untuk pemuasan diri yang salah dll. Ada banyak penyimpangan seks terjadi dan kita diingatkan untuk berjaga-jaga supaya tidak terjebak. Kalaupun sudah terjebak atau dalam fase pergumulan untuk keluar dari semua penyimpangan dosa seks tersebut, bergumul dan bertobatlah sungguh-sungguh sementara tangan Tuhan masih menanti pertobatan Anda.
Memang tubuh ini fana dan pada akhirnya akan mati tetapi tubuh orang percaya milik Tuhan akan dibangkitkan dalam tubuh kemuliaan untuk hidup kekal bersama-Nya. Sebaliknya, tubuh yang terus-menerus melakukan dosa percabulan tanpa mau bertobat akan mengalami kebinasaan kekal ketika dibangkitkan. Perhatikan, tubuh di dalam kesementaraan hidup ini berdampak pada kekekalan di kemudian hari. Kalau kita pakai untuk hidup dalam pertobatan, hidup kita berharga di mata Tuhan dan membawa pada kemuliaan. Berbanding balik kalau hidup dipakai terus menerus dalam kecemaran, dampaknya adalah kebinasaan kekal.
- Mengikatkan diri dan melekat kepada Tuhan (ay. 17), artinya hidup dalam kesatuan dan selaras dengan kehendak Tuhan. Kalau hidup kita sudah menyatu dengan Tuhan, kita akan menuruti kehendak-Nya yakni rindu untuk hidup benar, hidup kudus dan mengarah pada kesempurnaan seperti Kristus itu sempurna.
Orang tidak akan dapat menyatu dengan Tuhan kalau hatinya tidak rela melepaskan ego dan kehendaknya sendiri. Dan mengikatkan diri kepada Tuhan akan terjadi kalau kita rela mempersembahkan tubuh ini dalam keadaan hidup (Rm. 12:2).
Apa maksudnya dalam keadaan hidup? Hidup ditandai dengan adanya kegiatan dan aktivitas. Dalam tubuh ada nyawa/jiwa dan roh. Kalau roh dan nyawa meninggalkan kita, tubuh berubah nama menjadi jenazah/mayat. Ingat, tubuh yang sudah mati menjadi mayat tidak dapat berbuat apa-apa lagi juga tidak dapat dipersembahkan.
Aplikasi: hendaknya kita beribadah dan melayani Tuhan sekarang selagi masih hidup. Jangan kalau sudah meninggal masuk liang lahat Alkitabnya dimasukkan ke peti karena tubuh yang sudah mati tidak mungkin membaca Alkitab. Juga menjaga hidup dalam kekudusan untuk tidak terus berbuat dosa sengaja dan berlaku kotor di hadapan Tuhan. Ia jijik melihat orang yang sengaja terus menerus berbuat dosa tetapi tetap melayani-Nya bagaikan mempersembahkan roti cemar atau binatang cacat ke atas mezbah-Nya (Mal. 1:7-8). Ilustrasi: tidak ada pramusaji di dunia ini yang tangan kanannya membawa makanan enak dengan aroma lezat sedangkan tangan kirinya membawa kotoran busuk. Namun gereja Tuhan malah menyakitkan hati-Nya karena tampak setia beribadah dan hebat melayani tetapi tetap hidup dalam kenajisan. Dunia saja menghargai persembahan yang tidak cemar dan tidak terkontaminasi apalagi Tuhan! Contoh: kita akan menolak membeli minuman kemasan yang segelnya terbuka atau kemasannya rusak. Kita peduli dengan tingkat higienis serta kualitas minuman sebelum mengonsumsinya.
Sudahkah kita mempersembahkan tubuh kita dalam kondisi baik dan berkenan kepada-Nya? Bayangkan sepasang muda/i sedang bertunangan menunggu masa pernikahan namun salah satu pihak jatuh dalam percabulan dan tidak mau bertobat. Pasti pasangannya yang komitmen pada kekudusan tidak akan pernah melanjutkan hubungan ini sampai pada jenjang pernikahan. Oleh sebab itu jaga kekudusan pada masa pacaran maupun pertunangan. Ingat status kita sebagai calon mempelai Tuhan yang sedang dipertunangkan untuk masuk dalam pernikahan kudus dengan-Nya (2 Kor. 11:2).
- Menjauhkan diri dari percabulan (ay. 18).
Kata “jauhkanlah” (bhs. Yun. pheugo = flee away = melarikan diri, menjauhi secepatnya). Ini perintah aktif supaya kita menghindari sejauh mungkin, lari secepatnya dalam upaya tidak tergoda dengan dosa percabulan. Rasul Paulus mengingatkan, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis maka Aku akan menerima kamu.” (2 Kor. 6:17 bnd. Yes. 52:11) Percabulan adalah noda kekafiran dan ini sebuah kenajisan. Kita harus lari menjauh sebagai langkah antisipasi.
Kita harus menjaga kekudusan di masa pacaran maupun masa pertunangan. Hindari tempat-tempat gelap yang berpotensi menimbulkan godaan dan berdoalah sebelum bertemu pacar/tunangan saat berkencan agar tidak gampang jatuh dalam dosa seks sebelum sah menjadi suami-istri. Juga bagi bapak yang sering tugas ke luar kota dengan sekretaris pribadi; jauhi berdua-duaan di kamar kalau dia bukan pasanganmu untuk menghindari perselingkuhan. Waspada, perzinaan dan percabulan terjadi karena unsur kesengajaan dan terencana tidak mungkin terjadi sekonyong-konyong tanpa disengaja. Pasti diawali dengan godaan, kalau tidak segera ditolak akan kebablasan. Jangan main-main kalau sudah tergoda dan mempunyai keinginan maka seseorang akan mewujudkan keinginannya. Perselingkuhan terjadi melalui sebuah proses. Awalnya mungkin cuma godaan lalu terpikat dengan keinginan kemudian mulai mengatur strategi supaya tidak ketahuan pasangan sahnya. Kalau ketangkap berselingkuh malah menyalahkan keadaan, pasangan dll. tetapi tidak pernah menyalahkan diri sendiri. Perselingkuhan bukanlah tindakan khilaf spontan tetapi direncanakan dan disengaja. Kalau tidak sungguh-sungguh bertobat, dosa ini akan mengikat erat sulit dilepaskan.
Perhatikan dosa perselingkuhan dan percabulan adalah dosa yang serius di hadapan Tuhan karena merupakan pengkhianatan besar terhadap pasangan nikah dan pelanggaran berat terhadap janji suci di hadapan Tuhan. Tidak ada lagi cinta dan kasih sayang yang dapat dibangun di atas dasar kebohongan dan pengkhianatan. Tidak ada hubungan yang sehat jika salah satu pasangan dikhianati dan terluka apalagi Tuhan telah menyatukan pernikahan itu. Seharusnya kita sadar bahwa Tuhan menganugerahkan nikah yang sangat sakral. Jika kesakralan dinodai, kita harus siap kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Memang dapat bertobat dan dipulihkan tetapi harus membayar harga mahal karena menerima konsekuensi yang sangat berat seperti telah dialami oleh Daud.
Marilah kita membuka hati terhadap teguran Firman Tuhan yang ingin menyucikan hidup (nikah) kita. Jika mau hidup berharga di mata Tuhan, jangan menyalahgunakan tubuh ini untuk percabulan. Sebaliknya, satukan diri dengan Tuhan dan ambil langkah antisipasi menjauh dari keadaan yang berpotensi godaan. Bagi yang sedang bergumul untuk dapat lepas dari dosa percabulan, bertobatlah sungguh-sungguh selagi masih hidup. Bagi yang belum pernah terjatuh, jangan coba-coba karena berakibat penderitaan bagi diri sendiri, menyakiti pasangan, keluarga, anak-anak terlebih lagi menyakiti hati