Shalom,
Sebagai pusat perdagangan yang sibuk, kota Korintus selalu gemerlapan tidak pernah tidur. Belum lagi pengaruh budayanya; terdapat kuil di mana ada 1.000 pelacur bakti sehingga dosa seks dan percabulan pada masa itu dianggap sebagai aktivitas yang lumrah bahkan menjadi bagian dari upacara keagamaan. Ketika acara keagamaan berlangsung, aktivitas hubungan seks dilakukan di tengah-tengah ibadah itu. Mengapa demikian? Karena saat itu ada satu ajaran yang mengajarkan bahwa tubuh ini tidak berguna. Apa pun yang dilakukan oleh tubuh tidak akan berdampak bagi roh. Mereka beranggapan roh itu suci dan suatu kali akan masuk ke dalam kehidupan kekal sementara tubuh bebas melakukan segala sesuatu berbau dosa dan tidak ada hubungannya dengan roh.
Namun Paulus menyatakan kebenaran bersifat revolusioner dengan mengajukan pertanyaan sangat tajam “Tidak tahukah kamu…”, ditujukan kepada orang yang sudah mengetahui kebenaran tetapi tidak melakukannya. Pertanyaan tersebut menyiratkan bahwa sebenarnya hidup mereka berharga bagi Tuhan tetapi mereka memperlakukan tubuh menuruti kehendak sendiri.
Kalau hidup kita berharga bagi Tuhan dan bukan milik kita sendiri, bagaimana kita seharusnya memperlakukan tubuh kita?
- Kita harus menyadari bahwa tubuh kita adalah anggota tubuh Kristus (ay. 15). Mata, tangan, telinga, mulut semua mempunyai fungsi dan membentuk satu kesatuan tubuh.
Selain milik Kristus, tubuh kita menjadi bagian dari tubuh Kristus sendiri. Ketika seseorang percaya kepada Kristus, dirinya dipersatukan oleh Kristus dan tubuh jasmaninya menjadi milik Kristus. Jangan hanya fokus pada kehidupan rohani kemudian boleh jibar-jibur dalam dosa karena beranggapan tubuh tidak ada kaitannya dengan roh seperti dilakukan oleh jemaat Korintus yang menyerahkan tubuhnya kepada percabulan.
Paulus menegaskan bahwa tubuh (jasmani) kita adalah milik Kristus dan tidak boleh diberikan kepada percabulan. Jadi kita tidak boleh mengambil anggota tubuh Kristus untuk diserahkan kepada dosa (percabulan) dengan melakukan hal-hal yang tidak pantas, misal: pergi ke tempat maksiat, melakukan perbuatan yang memalukan dll. Ilustrasi: kita berniat mencuri tetapi meminjam tangan orang lain untuk mengambil benda curian. Tentu perbuatan semacam ini tidak pantas tetapi jauh lebih tidak pantas ketika kita mengambil anggota tubuh Kristus dan menyerahkannya kepada dosa seksual. Jadi, kalau kita (sengaja) melakukan hal-hal yang tidak suci dan memalukan, kita sedang menyerahkan anggota Kristus kepada dosa.
- Tidak mengikatkan diri (bhs. Yun. kollao = to glue together = merekatkan, menempelkan, menggabungkan dengan erat) pada perempuan cabul (ay. 16).
Mengikatkan diri merupakan satu tindakan penyatuan yang aktif, sadar dan sengaja dilakukan serta keduanya menjadi satu daging. “Menjadi satu daging” sering dipakai ketika seseorang akan menikah (Kej. 2:24). Menjadi satu (bhs. Ibr. echad = one) daging juga dipakai dalam doktrin Allah Tritunggal.
Singkatnya, hubungan seksual bukan sekadar aktivitas fisik tetapi sudah menjadi sebuah penyatuan yang nyata dan mendalam. Sesungguhnya Allah merancang hubungan seksual sebagai suatu ikatan yang terjadi hanya di dalam pernikahan.
Ternyata ada dua jenis aktivitas orang percaya dalam mengikatkan diri, yakni:
- mengikatkan diri kepada percabulan akan menjadi satu daging dengan perempuan cabul
- mengikatkan diri kepada Tuhan akan menjadi satu Roh dengan Dia
Tidak mungkin dan tidak dapat seseorang mengikatkan diri kepada Tuhan sekaligus mengikatkan diri kepada percabulan di saat yang sama.
Ingat kisah Daud yang dengan sengaja dan sadar berzina dengan Batsyeba (2 Sam. 11)? Walau bertobat, Daud tetap harus menanggung konsekuensinya yaitu: anaknya mati (2 Sam. 12:18) juga gundik-gundiknya ditiduri oleh Absalom, anaknya, di depan mata seluruh Israel di sotoh rumah (2 Sam. 16:22).
Faktanya, manusia (Adam) melahirkan keturunan melalui hubungan seks dengan Hawa, istrinya (Kej. 4:1) dalam pernikahan yang kudus. Namun dunia saat ini melecehkan kekudusan nikah; mereka sengaja mempertontonkan diri untuk menarik hasrat seksual laki-laki maupun wanita.
Pertanyaan: kepada siapa kita mengikatkan diri? Apakah kita lebih sering mengikatkan diri pada hal-hal duniawi atau kepada Tuhan? Ingat, kita tidak akan mampu dan tidak dapat mengikatkan diri kepada percabulan sekaligus kepada Tuhan! Namun kenyataannya ada orang Kristen yang berhura-hura dalam percabulan di hari kerja (weekdays) tetapi di hari Minggu melayani musik, menjadi pemimpin pujian, berkotbah di mimbar dll. Waspada, kalau kita mengikatkan diri pada percabulan, kita sedang melepaskan ikatan kita dengan Kristus. Sebaliknya, kalau kita mengikatkan diri kepada Tuhan, kita tidak dapat menjadi satu daging dengan percabulan.
- Menjauhkan diri (bhs. Yun. pheugo = flee away) dari percabulan (ay. 18).
Menjauhkan diri dalam pengertian melarikan diri dari percabulan bukan sekadar menghindar kalau ketemu atau kalau memungkinkan. Kata “melarikan diri’ merupakan perintah yang dilakukan terus menerus menjadi suatu kebiasaan. Melarikan diri dari percabulan harus menjadi gaya hidup orang Kristen, bukan satu kali lari, jatuh lima kali atau jatuh bangun berkali-kali.
Bagaimana tindakan Yusuf menghadapi istri dari Potifar (kepala pengawal raja) yang menggodanya? Ketika perempuan itu memegang baju Yusuf, Yusuf meninggalkan bajunya dan lari ke luar (Kej. 39:12) menjauhkan diri dari percabulan.
Paulus begitu serius terhadap dosa percabulan (ay. 18b). Apa maksud dosa yang dilakukan manusia terjadi di “luar dirinya”? Paulus tidak berbicara tentang efek biologis atau kesehatan tetapi tentang relasi dengan Allah dan fungsinya, bagaimana manusia di hadapan Allah. Memang melanggar perintah Allah itu dosa, misal: orang mencuri benda milik orang lain; akar dosa serakah ada di dalam hati tetapi objeknya (uang, harta) ada di luar tubuh; dosa pembunuhan menyerang nyawa orang lain (di luar). Dosa-dosa semacam ini tidak mengubah fungsi fundamental tubuh pelaku. Beda dengan dosa perzinaan dan dosa percabulan yang justru menyerang ke dalam tubuh pelaku sendiri. Karena apa? Satu-satunya dosa yang mengubah identitas relasi tubuh kita ialah dosa percabulan. Ketika kita berbuat cabul, ini tidak hanya mengganggu kesehatan (tertular penyakit kelamin) tetapi dosa seksual di luar pernikahan menyerang diri kita dan kita menjadi satu tubuh dengan pasangan seksual tersebut. Kita menodai dan menghianati tubuh yang adalah bait Roh Kudus.
Paulus begitu serius terhadap dosa percabulan mengingat hubungan Allah dengan Israel digambarkan sebagai relasi suatu perkawinan di mana Israel dianggap sebagai istri-Nya (Hos. 2:18). Jadi, ketika seseorang berbuat cabul, dia sedang mengambil anggota tubuh Kristus dan menempelkannya kepada pelacur atau pasangan di luar nikah seakan-akan membawa anggota tubuh Kristus ke dalam ranjang percabulan. Waspada, dosa seksual melibatkan secara langsung anggota tubuh Kristus ke dalam penyatuan daging.
Kita tidak pernah tahu di depan kita masih panjang atau pendek perjalanan hidup kita. Namun yang pasti marilah kita sadar bahwa kita telah ditebus dengan darah-Nya yang mahal. Oleh sebab itu kita tidak boleh mempermainkan tubuh kita karena hidup kita berharga bagi Tuhan. Kita adalah milik Tuhan dan menjadi anggota tubuh Kristus. Miliki gaya hidup senantiasa mengikatkan diri kepada Tuhan serta menjauhi/lari dari percabulan yang dapat mengkhianati kasih setia Mempelai Pria Sorga kita. Amin.