Shalom,
Suatu kenyataan bahwa setiap orang pernah sampai pada titik di mana tenaga/semangat bahkan doa terasa habis. Sebagian orang kehabisan kekuatan karena kelelahan fisik tetapi bagi yang lain karena keputusasaan batin. Ada pula yang kehabisan harapan karena doa-doanya tidak juga dijawab, ada yang kehabisan tenaga karena berupaya untuk bangkit tetapi mengalami kegagalan demi kegagalan. Di saat seperti itu sering kita menjerit dalam hati, “Tuhan, di manakah Engkau? Aku sudah tak sanggup lagi!”
Kehabisan kekuatan bukan hanya dialami manusia modern di era kita sekarang ini tetapi pengalaman manusia sepanjang zaman. Tokoh-tokoh besar di dalam Alkitab juga mengalami hal serupa, misal:
- Musa yang dikenal mempunyai kualitas rohani tinggi dan setia keada Tuhan pun akhirnya lelah kehabisan kekuatan menghadapi umat Israel yang berjumlah jutaan minta daging. Musa bingung bagaimana mendapatkan daging sebanyak itu (Bil. 11:14). Kelelahan Musa membuka mata kita bahwa kehabisan tenaga bukanlah tanda kurang iman melainkan bukti bahwa kita adalah manusia terbatas. Namun justru di titik itulah Tuhan sering bekerja bukan untuk mempermalukan kita tetapi untuk menunjukkan bahwa kekuatan yang sesungguhnya datang dari Dia semata.
- Elia ingin mati karena ketakutan dikejar oleh Izebel yang mau membunuhnya (1 Raja 19:1-4).
- Paulus mengalami penderitaan begitu berat di Asia Kecil sehingga dia berputus asa akan hidupnya (2 Kor. 1:8).
- dst.
Singkatnya, kehabisan kekuatan bukan berarti kita sedang membahas kelemahan pribadi yang memalukan melainkan kenyataan iman bahwa kita makhluk yang terbatas dan hanya dapat bertahan oleh kasih karunia Tuhan.
Puncak kelelahan juga dirasakan Daud di masa gelap ketika dia dikejar musuh dan ditinggal orang-orang yang terdekat (Mzm. 143:4). Namun pengalaman Daud tidak berhenti pada keputusasaan karena Mazmur ini berujung pada pemulihan. Pengalaman Daud menjadi pembelajaran bagi perjalanan rohani kita dari kelemahan menuju kehidupan yang dipulihkan.
Bagaimana kita harus menyikapi keadaan saat tidak ada lagi kekuatan dalam menghadapi masalah?
- Ketika kekuatan habis, mulailah dengan pengakuan bukan pembelaan (ay 1-4).
Sebelum Daud berbicara tentang musuh yang mengejar juga keluhan akan kelelahan yang membuat jiwanya stres, Daud berdoa, “Ya TUHAN, dengarkanlah doaku.” Daud datang kepada Tuhan bukan untuk membela diri tetapi memohon belas kasihan. Dia mengawalinya dengan pengakuan yang jujur bukan menuntut pertolongan dari Tuhan seolah-olah Tuhan berutang kepadanya.
Daud tahu harapannya hanya bergantung pada kasih dan kesetiaan Tuhan saja. Dia tidak menonjolkan jasa-jasanya sebagai pahlawan yang dikagumi rakyat atau mengetuk pintu Surga dengan kekuatannya tetapi memohon dengan tangannya yang lemah. Bayangkan seorang raja perkasa, penakluk bangsa-bangsa datang penuh kerendahan hati sebagai hamba yang rapuh! Dia tidak menuntut apa pun dari Tuhan karena tahu satu-satunya dasar imannya hanyalah belas kasihan dan kesetiaan Allah.
Perhatikan, sebelum Tuhan menambahkan atau memberikan kekuatan, Ia lebih dahulu merendahkan hati manusia supaya sadar bahwa hidup tanpa-Nya tidak akan memiliki kekuatan apa-apa bagaikan carang kering yang terpotong dan terbuang. Tuhan menaruh perhatian kepada orang yang lemah bukan karena kelemahannya tetapi karena kejujurannya.
Aplikasi: iman yang benar tumbuh melalui kesadaran akan kelemahan diri. Ketika kekuatan kita habis, ini bukan tanda kita gagal beriman melainkan alarm rohani yang mengingatkan kita untuk berhenti bersandar pada diri sendiri tetapi kembali kepada Tuhan. Kadang Tuhan membiarkan kita sampai di ujung daya agar kita sadar bahwa kita tidak pernah diciptakan untuk berjalan tanpa-Nya. Pengakuan “aku tidak sanggup lagi” justru menjadi pintu kasih karunia Allah bekerja.
Tampak jeritan jiwa Daud menunjukkan dia di ambang keputusasaan – seperti terkubur hidup-hidup, tertelan bayangan gelap yang begitu menakutkan – musuh-musuh mengejar dan mencampakkan nyawanya ke tanah (ay. 3-4). Ungkapan “mencampakkan ke tanah” menunjukkan harga diri dan harapan Daud hancur, dia kehilangan arah dan semangat hidup karena mengalami tekanan berat baik dari luar (konflik, ancaman dan perlakuan ketidakadilan); maupun dari dalam yang menggerogoti batin / internal kita (berupa rasa bersalah, ketidakberdayaan, ketidakmampuan, kekecewaan, kehilangan makna hidup dll.)
Bagaimanapun juga, di tengah kehancuran semacam itu, Daud tidak kehilangan arah doa dan tetap menghadap Tuhan karena dia tahu memang tidak ada tempat lagi untuk mengadu. Dia memilih mencari Tuhan. Sadarlah, kelelahan terbesar bukan ketika tubuh kita lemah tetapi saat kita berhenti mencari Tuhan. Jadi, saat kekuatan habis, datanglah kepada Tuhan dengan hati jujur, akui kelemahan kita dan bersandarlah pada kasih karunia-Nya yang tidak pernah habis. Di situlah kekuatan baru mengalir yang berasal dari kasih Tuhan untuk menjangkau hati yang mengakui ketidakmampuan kita.
- Ketika kekuatan habis, ingat kasih dan kesetiaan Tuhan (ay. 5-6).
Ketika kekuatan habis, Daud memilih untuk mengingat siapa Allah itu. Jujur, saat kekuatan habis, kita cenderung lebih fokus menatap masalah daripada datang kepada Allah bahkan melupakan-Nya. Namun Daud memaksa jiwanya untuk mengingat jejak Tuhan di masa lalu, merenungkan (mencerna lebih dalam hingga menembus hati) pekerjaan-Nya dan memikirkan perbuatan tangan-Nya. Ini merupakan proses rohani yang menghidupkan kembali iman kita. Iman yang letih nan lemah akan bangkit kembali ketika mengingat, merenungkan dan memikirkan karya Tuhan. Jangan kita melulu mengingat masa lalu pribadi sendiri tetapi karya Allah di masa lalu dan Ia tetap bekerja sampai hari ini juga masa mendatang.
Apa kata Daud selanjutnya? “Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus (thirsty, exhausted, weary = haus, letih lesu).” (ay. 6) Tanah yang haus tidak lagi memiliki semangat pertumbuhan, tampak letih lesu seperti digambarkan oleh Nabi Yesaya di Yesaya 32:2, “….seperti naungan batu yang besar d tanah yang tandus ( weary = letih lesu).” Dalam kondisi seperti itu, Daud haus akan pribadi Tuhan. Tanah kering tidak dapat menciptakan hujan dari dirinya sendiri tetapi menunggu hujan turun dari atas. Begitu pula jiwa kita, tanpa hadirat Allah turun atas kita, kita akan tandus, kering, tidak ada pertumbuhan bahkan cenderung mengarah kepada kebinasaan.
Terkadang Tuhan tidak segera mengubah keadaan ketika kita mengalami masalah, penderitaan dan tekanan hidup karena Ia ingin memulihkan jiwa kita terlebih daulu. Sesungguhnya, masalah terbesar kita bukan terletak pada keadaan atau situasi di luar (eksternal) tetapi jarak antara hati kita dengan Tuhan yang terlalu jauh. Ketika hati kita mulai dibuat haus akan Allah, kaki kita akan melangkah mendekat Dia, tangan kita ulurkan mengharapkan pertolongan-Nya. Ini tanda bahwa Tuhan masih bekerja di dalam diri kita ibarat sinyal yang kembali tersambung setelah lama lemah sehingga pemulihan mulai mengalir.
Kembali Daud mengutarakan kejujuran bahwa semangatnya telah habis menghadapi musuh (ay. 7). Walau sudah merasa tidak kuat, Daud tetap menadahkan tangan kepada Tuhan. Memang ada nada putus asa tetapi tetap ada nada iman yang bertahan dalam kelemahan. Jelas sekarang, iman tidak selalu kuat, meledak-ledak, bergairah, penuh semangat tetapi sering kali iman yang murni justru terdengar lirih diucapkan pada detik-detik napas terakhir keluar dari jiwa yang tetap melekat pada Tuhan. Oleh sebab itu miliki iman yang bertahan sampai akhir.
Kemudian Daud mengatakan, "Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi…” (ay 8)
Istilah “pagi” dimaknai sebagai simbol pemulihan seperti tertulis di Ratapan 3:23, “selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-mu!” Daud menantikan suara kasih Allah seperti seseorang menunggu fajar pagi setelah malam yang begitu panjang, Di sinilah letak kekuatan rohani Daud, dia memilih percaya walau pertolongan nyata belum datang.
Aplikasi: ketika kekuatan kita habis dan doa hanya tinggal bisikan sementara mata kita sulit melihat harapan, jangan berhenti menengadah mengingat kesetiaan Tuhan. Jangan biarkan kelelahan membungkam kerinduan kita kepada-Nya! Kita boleh kering, tandus, meretak, letih lesu kehabisan kekuatan tetapi Tuhan tidak akan melepaskan kita. Ilustrasi: ketika menonton video tiba-tiba berhenti karena sinyal yang lemah, masalahnya bukan di video itu tetapi karena koneksi/sinyal. Demikian pula dengan kerohanian kita; ketika hati kita menjauh dari-Nya, kita merasa Tuhan diam. Sebaliknya, saat kita kembali mengingat, merenungkan dan memikirkan, koneksi terbangun kembali dan kasih Tuhan mengalir lagi dalam hidup kita.
- Ketika kekuatan habis, biarkan Roh Tuhan menuntun hidup kita (ay. 9-10).
"Selamatkanlah aku dari musuhku, ya Tuhan. Aku berlindung kepada-Mu….” (NIV)
Doa ini menandai perubahan arah hidup Daud. Ada peningkatan di dalam permohonan, jika sebelumnya Daud meminta tolong supaya Tuhan melepaskannya kini dia memohon diajari oleh-Nya; juga sebelumnya dia hanya menginginkan keluar dari masalah, kini dia ingin mengenal kehendak Tuhan melalui masalah yang dialaminya. Ini menunjukkan kematangan rohani seorang anak Tuhan; kita tidak hanya meminta-minta pembebasan tetapi minta bimbingan menghadapi badai masalah yang tidak tahu kapan berakhirnya. Perhatikan, “tanah yang rata dan datar” bukanlah kehidupan tanpa pencobaan melainkan hati yang tetap tegar di bawah bimbingan Roh Tuhan. Tuhan tidak harus selalu menenangkan badai di sekitar kita tetapi Ia menenangkan badai di dalam hati yang bergemuruh, bergejolak, mengganggu ketenangan hati kita. Di sinilah kita menemukan kekuatan sejati ketika Roh Kudus menuntun kita di jalan yang rata walau penuh berbatu. Ilustrasi: ketika perangkat software lagi di-update, untuk beberapa saat layar monitor menjadi gelap, kita panik, kita pikir perangkat kita rusak padahal sistem sedang dipulihkan supaya bekerja lebih maksimal. Begitu juga dengan kehidupan kita ketika Tuhan tampak diam tidak segera menolong padahal Ia sedang memperbarui sistem hati kita supaya kita lebih maksimal dan efektif berfungsi untuk kemuliaan Tuhan.
Ketika kekuatan habis, Daud tidak meminta Tuhan menambahkan kekuatan tetapi menghidupkan kembali jiwanya yang “mati rasa” demi keadilan-Nya (ay. 11). Daud tahu hanya Tuhan yang mampu memberikan kehidupan baru bagi roh yang mati dan jiwa yang remuk. Ketika Tuhan menghidupkan jiwa, kelemahan kita menjadi penyembahan dan air mata yang dicucurkan menjadi kesaksian kita. Tuhan tidak perlu menghidupkan jiwa melalui keajaiban spektakuler tetapi dengan kasih yang menyentuh bagian terdalam lubuk hati, di tempat tersembunyi. Ia tidak sekadar memulihkan agar kita kuat tetapi supaya kita hidup kembali bagi Nama-Nya – bagaikan sumbu yang patah menjadi sumber terang bagi orang di sekeliling kita.
Puncak pengalaman kekuatan habis dibuktikan dalam kehidupan Yesus Kristus. Kekuatan-Nya habis di Taman Getsemani saat berdoa kepada Bapa-Nya; bukan berarti Ia mau melarikan diri dari penderitaan tetapi menyerahkan diri ke tangan Bapa bahkan menjelang ajal menjemput di kayu salib, Ia menyerahkan nyawa ke dalam tangan Bapa-Nya (Luk. 23:46). Terbukti habisnya kekuatan manusia dipakai Tuhan menjadi saluran kuasa Allah. Karena Yesus rela menjadi lemah, kita mendapat kekuatan baru; karena Yesus tetap taat dalam gelapnya malam penderitaan, kita menerima terang pengampunan dari-Nya.
Jujur, kita sering kehabisan kekuatan bukan karena beratnya tekanan hidup tetapi karena dosa yang belum diakui untuk diselesaikan sebab tidak ada seorang pun hidup benar di hadapan-Nya (ay. 2).
Daud tahu dosa mengeringkan sukacita, memutuskan aliran kekuatan dan berkat-berkat rohani; oleh sebab itu dia memohon Tuhan mendengarkan doanya, memerhatikan teriakannya meminta ampun (“listen to my cry for mercy”) dalam kesetiaan dan kebenaran-Nya (ay. 1; NIV). Dosa yang belum diakui menghalangi doa; bila diselesaikan kita akan menemukan penghiburan bukan penghukuman.
Introspeksi: apakah kelelahan kita karena terlalu banyak bekerja? Atau beratnya penderitaan dan tekanan beban hidup lebih disebabkan karena terlalu lama kita menjauh dari Tuhan? Hati yang tidak diampuni sulit untuk beristirahat tenang, tetapi kasih karunia Yesus lebih besar daripada rasa bersalah, dosa, dan kejahatan kita. Ia tidak hanya menghapus dosa tetapi juga memulihkan kekuatan batin kita. Di hadapan salib, kita beroleh pengampunan untuk masa lalu dan kekuatan untuk hari ini supaya esok kita menghadapi pencobaan dengan tangguh di dalam kasih karunia Tuhan.
Ingat, ketika habis kekuatan kita, datanglah kepada Tuhan dan akui dengan jujur permasalahan kita; ingat akan kasih dan setia-Nya untuk memulihkan kita serta biarkan Roh Tuhan menuntun kita agar kita tetap dekat dalam pelukan kasih setia-Nya. Amin.