Shalom,
Percayakah siapa pun yang dibaptis di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus diberi jaminan hidup kekal? Karena Si Pemberi janji adalah Allah yang kekal dan Ia setia pada janji-Nya.
Bagaimana kita beroleh hidup baru bersama Tuhan seperti yang dijanjikan-Nya? Efesus 2:1, 4-6, 10 menuliskan:
Kita dahulu mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita. Namun Allah yang kaya dengan rahmat dan kasih-Nya yang besar menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus. Oleh kasih karunia, kita diselamatkan dan Ia membangkitkan kita serta memberikan tempat bersama-sama dengan-Nya di Surga. Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau supaya kita hidup di dalamnya.
Yakinkah hidup kita baru bersama Tuhan? Ilustrasi: kita sangat senang ketika mempunyai HP baru tetapi setelah beberapa bulan kemudian HP tersebut tidak baru lagi dan kita sudah bosan dengannya. Namun orang yang dibaptis itu mati bersama Kristus kemudian dibangkitkan untuk memiliki kondisi pribadi Yesus yang mati dan bangkit untuk kita.
Pertanyaan: bagi mereka yang dibaptis hari ini, apakah sungguh-sungguh hidup baru bersama Tuhan? Atau satu bulan lagi sudah tidak beribadah karena bukan baru lagi?
Pembaruan apa yang kita terima di dalam Tuhan?
- Ada perubahan hidup sebab di dalam Allah ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia (Yoh. 1:1-6). Bukankah terang sangat dibutuhkan menghadapi kegelapan?
Yohanes Pembaptis diutus Allah untuk menyaksikan terang supaya semua orang menjadi percaya. Dia mengaku bukan terang itu; dia hanya membaptis dengan air tetapi tidak layak membuka tali kasut-Nya Dia yang akan datang (Yoh. 1:26-27).
Aplikasi: hendaknya kita menyaksikan Pribadi Yesus yang adalah terang. Kita diberi kesempatan menjadi terang dunia agar orang-orang di sekitar melihat terang itu.
Tahukah terang sudah ada di hari pertama penciptaan untuk menerangi langit dan bumi beserta isinya dari hari ke hari selama 6 hari dan tidak ada satu pun yang jelek? Semuanya baik. Dengan kata lain, tanpa terang kita akan kesandung, jatuh, kecewa dan gagal.
Rasul Yohanes menuliskan bahwa Firman itu Allah (Yoh. 1:1) dan Allah itu terang (1 Yoh. 1:5). Jadi Firman Allah sanggup menerangi hati kita. Bila mata kita melihat perkara-perkara yang jelek, cepat mintalah terang Firman Tuhan untuk merubah pandangan kita karena kita manusia berdosa sering tidak beres dengan hati dan pikirannya.
Jelas sekarang baptisan dimulai dengan menyaksikan terang yang mana Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Kalau pikiran kita digelapkan oleh kondisi dunia yang makin tidak menentu ini, peganglah terang Firman Allah yang berkuasa menghalau kegelapan yang menutupi pikiran kita.
Keesokan harinya Yohanes Pembaptis melihat Yesus datang kepadanya (Yoh. 1:29), menunjukkan ada waktunya Allah mendatangi kita secara personal untuk menerangi hati yang gelap. Bukankah Allah datang mencari Adam-Hawa yang jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:9)? Gereja harus membuktikan adanya terang dengan tidak adanya kebohongan dan kemunafikan dari hari ke hari bukan hanya pada hari Minggu saja. Terang kita peroleh dengan senantiasa mendengarkan Firman Tuhan baik saat beribadah komunal (di gereja) maupun perenungan pribadi di rumah. Jangan mendengarkan sembarang khotbah di YouTube apalagi khotbah AI yang tidak dapat mengubah hati!
- Yesus, Anak domba Allah, memberikan keselamatan dan pemuridan.
Awalnya Yohanes (Pembaptis) hanya mengaku dia diutus Allah untuk meluruskan jalan Tuhan dan membaptis dengan air serta tidak layak membuka tali kasut Yesus. Esok harinya dia melihat Yesus datang kepadanya kemudian dia mengatakan, "Lihatlah Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
Sesudah terang membuka hati dan pikiran kita, kita perlu dibaptis karena kita membutuhkan terang abadi, Allah, mendiami hati kita supaya kita tidak “menabrak” sini-sana menyalahkan orang lain karena gelap. Oleh sebab itu jangan menolak Anak Domba Allah yang menghapus dosa manusia dan diharapkan banyak orang mendengar serta melihat terang itu. Kita membutuhkan terang itu sepanjang umur hidup kita. Setelah diselamatkan, kita tidak boleh menghina mereka yang masih hidup dalam kegelapan dan belum diselamatkan. Sebaliknya, kita yang hidup dalam terang patut menolong mereka.
Yesus memperkenalkan diri sebagai terang dunia (Yoh. 9:5) dan Ia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa manusia.
Aplikasi: hendaknya kita suka bersaksi tentang keselamatan yang kita terima dan pengalaman keubahan hidup dalam terang oleh Firman Allah yang menciptakan langit dan bumi serta mengampuni dosa manusia. Firman Allah juga memberikan janji hidup kekal kepada kita yang percaya kepada-Nya.
Kemudian Yohanes membaptis Yesus atas permintaan-Nya. Yohanes menyaksikan Roh Kudus turun dari langit seperti burung merpati dan tinggal di atas-Nya (Yoh. 1:32). Yohanes teringat dia diutus untuk membaptis dengan air tetapi Orang yang dihinggapi Roh Kudus di atas-Nya adalah Anak Allah yang membaptis dengan Roh Kudus (ay. 33-34).
Terjadi peningkatan dimulai dari pengenalan akan terang yang menghapus kegelapan – Anak domba Allah yang menghapus dosa manusia – Yesus adalah Anak Allah.
Apa yang terjadi pada hari berikutnya? Yohanes bersama dua muridnya melihat Yesus, anak Domba Allah, lewat kemudian murid-muridnya mengikut Yesus sebagai Guru mereka (Yoh. 1:35-37). Yohanes kehilangan dua muridnya tetapi dia tdak kecewa. Kenyataannya, murid-murid Yesus lebih banyak daripada murid Yohanes (Yoh. 4:1). Beda dengan gereja-gereja sekarang yang berlomba-lomba mencari jemaat untuk mendapatkan banyak kolekte bahkan tidak malu-malu antargereja bertengkar karenanya.
Lihat, Yesus, Anak domba Allah, yang menghapus dosa manusia untuk beroleh keselamatan kini meningkat memberikan pendidikan. Buktinya dua murid Yohanes menjadi murid Yesus untuk dididik dan dibaptis. Mereka kemudian mengajak yang lain untuk menjadi murid Yesus.
Aplikasi: seseorang yang dibaptis dalam Nama Tuhan Yesus Kristus hendaknya menerima Yesus untuk menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12) dan memberi diri digembalakan oleh Anak Domba Allah (Why. 7:9-17).
- Dipersiapkan menjadi mempelai Anak Domba Allah (Yoh. 3:22-24; 4:1-2).
Di akhir pelayanan sebelum dipenjara, Yohanes mengaku bahwa dia bukan Mesias tetapi diutus untuk mendahului-Nya. Dia bersukacita menjadi sahabat mempelai laki-laki yang empunya mempelai perempuan (ay. 27-30). Ternyata ini merupakan nubuat yang akan digenapi di Kitab Wahyu 17, 19, 21-22 di mana Rasul Yohanes mendengar hari perkawinan Anak domba Allah tiba dan pengantin perempuan-Nya telah siap sedia (Why. 19:7).
Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa Yesus, Anak domba Allah, harus makin besar sementara dia makin kecil (Yoh. 3:30). Siapa harus lebih besar? Mempelai laki-laki itulah Yesus bukan Yohanes Pembaptis dan 12 murid/rasul menyaksikan puncak pernikahan rohani.
Gereja akan memuncak pada pernikahan Anak Domba Allah. Untuk itu dalam masa pertunangan dengan mempelai Pria Surga, kita harus menjaga kesucian hidup seperti diperingatkan oleh Rasul Paulus (2 Kor. 11:2-3). Jangan kesetiaan kita disesatkan oleh “ular” dengan kelicikannya sebab Iblis dapat menyamar sebagai malaikat terang (ay. 14) untuk memperdayai kita. Gereja (sebagai istri) harus tunduk kepada Tuhan (suami) yang mengasihi jemaat (Ef. 5:22,25).
Rasul Yohanes yang diasingkan di Pulau Patmos melihat seorang serupa Anak Manusia berjubah panjang, rambut-Nya putih, mata-Nya bagaikan nyala api, wajah-Nya bersinar bagaikan matahari terik menyatakan diri sebagai Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Hidup (telah mati tetapi hidup sampai selama-lamanya). Kemudian Ia menyuruh Rasul Yohanes untuk menulis kepada tujuh jemaat (di Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, Laodikia) tentang kondisi mereka masing-masing dan apa yang harus diperbaiki untuk menjadi pemenang (Why. 2 – 3).
Aplikasi: hendaknya kita mempertahankan hidup dalam kekudusan dalam mempersiapkan diri menjadi mempelai perempuan Tuhan. Dan jangan pernah meninggalkan kasih mula-mula seperti terjadi pada jemaat Efesus karena akan berakibat fatal (Why. 2:4-5)!
Perlu diketahui Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan terang mengubah kehidupan manusia berdosa yang hidup dalam kegelapan. Yesus, Anak Domba Allah, berkuasa menyelamatkan dan mereka yang bertobat perlu dibaptis dalam kematian-Nya untuk dibangkitkan dalam hidup yang baru (Rm. 6:4). Selanjutnya Anak Domba Allah mengajar kita untuk tetap hidup dalam kekudusan agar tidak disesatkan oleh tipu daya Iblis yang berusaha menggagalkan pernikahan gereja dengan Anak Domba Allah, mempelai Pria Surga.
Baptisan air untuk beroleh hidup baru di dalam Tuhan tidak mengenal usia; di hari pertama Pentakosta 3.000 orang yang dibaptis tentu tidak dikenakan batasan umur; pasti ada anak muda remajanya juga. Bagi orang Yahudi, umur 12 tahun sudah dianggap dewasa. Beberapa hari kemudian 5.000 orang dibaptis dst. dan mereka dibaptis di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, nama dari Anak Domba Allah.
Hidup baru bersama Tuhan melalui baptisan air membuat kita hidup dalam terang (Firman Allah), hidup dalam penggembalaan oleh Anak Domba Allah dan puncaknya kita bersanding dengan Anak Domba Allah, Mempelai Pria Surga, untuk hidup berbahagia bersama-Nya selamanya di Yerusalem Baru. Amin.