Shalom,
Memang, ada “ketegangan” di dalam Mazmur 147, bagaimana Allah itu besar tetapi juga dekat. Bukankah pada umumnya yang besar agak berbahaya untuk didekati? Contoh: saat kita mengendarai sepeda motor kemudian di depan kita ada truk besar maka lebih baik kita menjaga jarak tidak terlalu dekat karena rawan kecelakaan sebab supir truk tidak melihat kendaraan kecil berada di belakangnya dan hal ini bukan niat si supir truk untuk sengaja menyakiti yang kecil. Oleh sebab itu mendekati sesuatu yang besar itu tidak sembarangan. Demikian pula bangsa Israel sempat hancur karena hidup serampangan di dekat Allah yang besar itu.
Yerusalem dan Bait Allah di dalamnya, runtuh dan hancur karena selama ratusan tahun Israel hidup tidak senonoh di hadapan Allah yang besar itu. Mereka murtad sehingga dihukum Allah habis-habisan (babak belur) dari kepala sampai telapak kaki tidak ada lagi tempat untuk hukuman berikutnya (Yes. 1:5-6). Namun setelah waktu penghukuman selesai, Allah mendekat kembali kepada umat perjanjian-Nya. Apa yang dilakukan-Nya? Apakah mendekat untuk mengolok-olok karena telah memberontak kepada-Nya? Atau masih dalam kegeraman dan mau menghabisi mereka? Apakah Allah seperti itu? Mazmur 147 menunjukkan apa yang Allah yang besar itu lakukan saat Ia mendekat.
Beberapa ahli mengatakan suasana di Mazmur 147 sesuai dengan situasi bangsa Israel kembali dari pembuangan di Babel, setelah mereka menyelesaikan pembangunan Bait Allah serta tembok Yerusalem (oleh Nehemia). Ternyata saat Allah yang besar mendekat kepada umat-Nya, Pemazmur menulis:
- Allah memulihkan hidup kita (ay. 1-6).
Di ayat 2, Allah menunjukkan kebesarannya memulihkan kota Yerusalem (juga bangsa Israel) dari kehancuran di tahun 586 SM, tetapi di ayat selanjutnya menunjukkan kedekatan-Nya pada setiap individu yang “kecil”. Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka mereka. Tuhan yang besar tidak hanya mendekat kepada orang banyak tetapi sampai kepada perorangan.
Ayat 4 dan 5 kembali pada kebesaran Allah yang luar biasa. Ia menentukan jumlah bintang dan menyebut nama mereka semuanya. Artinya, Ia adalah Penguasa atas benda-benda itu. Allah mahabesar, mahakuasa dan mahahikmat.
Tepat ayat selanjutnya, Allah kembali digambarkan sangat peduli dan dekat dengan menegakkan orang-orang yang tertindas dan merendahkan orang-orang fasik. Tentu saat menyanyikan mazmur ini, bangsa Israel teringat bagaimana nasib orang Babel yang kalah ditaklukkan oleh orang Persia dan Raja Nebukadnezar yang membanggakan diri jatuh menjadi orang gila seperti binatang. Tuhan memang memulihkan dan menegakkan orang-orang Israel yang tertindas.
Introspeksi: apakah kita saat ini dalam keadaan tertindas dan berantakan hidup nikah, bisnis, profesi dan studi kita? Ingat, Tuhan yang mahabesar mau dekat untuk memulihkan hidup kita. Allah yang mengatur galaksi dan alam semesta mau membungkuk dekat kepada kita yang kecil dan lemah ini.
Pemulihan oleh Allah ini menjadi alasan bagi kita untuk bermazmur bagi Allah. Sebab itu Pemazmur memulai dengan ayat 1:
“Haleluya! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu.”
Ini menunjukkan saat kita memuji dan memuliakan Tuhan, semuanya dimulai dari pikiran, hati, jiwa, dapat menilai bahwa Allah itu memang layak dipuji. Pikiran, hati, jiwa kita sepakat dengan pujian yang kita nyanyikan.
Saat kita menyanyikan betapa hebatnya kuasa Tuhan, pertanyaannya adalah: apakah kita benar-benar pernah mengalami kuasa itu? Bagaimana Tuhan menyatakan kuasa-Nya dalam hidup kita? Dan bagaimana rasanya ketika kuasa itu bekerja secara pribadi bagi kita? Jika kita sungguh-sungguh mengalami kuasa Tuhan, pujian kita tidak akan pernah menjadi kata-kata kosong.
Namun kita perlu berhati-hati. Banyak lagu pujian zaman sekarang tidak memberi ruang bagi umat untuk merenungkan alasan kita memuji Tuhan. Liriknya sering hanya diulang-ulang dengan musik yang emosional sehingga kita mudah hanyut dalam suasana seperti “trance,” yang terasa rohani padahal belum tentu menyentuh relasi kita dengan Tuhan. Yang kita butuhkan bukan sekadar “pengalaman spiritual” yang bersifat sesaat tetapi pengalaman relasional dengan Allah yang mahabesar namun begitu dekat dengan umat-Nya.
- Allah memelihara kita (ay. 7-11).
Allah yang besar datang mendekat kepada Israel dengan janji pemeliharaan. Ia tidak memulihkan untuk kemudian meninggalkan begitu saja tetapi melanjutkan pemulihan itu dengan pemeliharaan.
Bila di ayat 1 undangan untuk memuji Tuhan dimulai dari pikiran dan hati yang sepakat dengan pujiannya maka di ayat 7, Pemazmur mengajak untuk aktif “bernyanyi” dan “bermazmur” bagi Tuhan dengan penuh syukur.
Oleh karena itu dalam kesempatan beribadah apa pun kondisinya – tidak ber-AC, tidak lengkap alat musiknya, sound system-nya bermasalah, song leader dan backing vokal-nya tidak profesional – tetaplah bernyanyi memuji Tuhan bukan untuk menyukakan diri sendiri tetapi ini perintah yang diperkenan Tuhan. Kita tetap bernyanyi baik maupun tidak baik waktu, tempat, dan kondisinya. Kita menyanyi bersumber dari hati, pikiran, jiwa yang sudah mengalami Tuhan, bukan dari pengaruh eksternal seperti musik yang hebat, sound system yang luar biasa dll.
Dalam ayat 8-9 Pemazmur kembali menunjukkan alasan mengapa kita harus bernyanyi dan bermazmur bagi Allah yang besar namun dekat ini: Allah memelihara ciptaan-Nya.
Dalam kebesaran-Nya, Ia menutupi langit dengan awan-awan, menyediakan hujan bagi bumi, membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput. Namun Allah yang besar itu dekat dengan ciptaan-Nya, Ia memberi makanan kepada hewan yang tidak berarti, bahkan memberi makan anak burung gagak yang kecil dan najis pula.
Ayat 10: Ia tidak tertarik pada kegagahan kuda dan kaki laki-laki. Kuda menggambarkan kekuatan militer (bnd. Ul. 17:16) seperti raja Israel yang memelihara banyak kuda agar menang perang. Juga laki-laki/orang untuk menjalankan kuda tersebut, itulah hikmat dunia: untuk sukses, seseorang harus mengandalkan kekuatannya sendiri.
Sebaliknya, di ayat 11, Tuhan senang kepada orang-orang yang takut akan Dia dan orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya. Sungguh kasih setia Tuhan tiada berkesudahan! Hanya Dia satu-satunya yang dapat kita harapkan dan andalkan! Kita mungkin perlu “kuda dan orang” saat sakit, kita berharap pada dokter dan obat tetapi kesembuhan total tetap berada di tangan Tuhan. Bukankah kuda dan manusia tidak mampu menjaga Israel supaya tetap utuh? Kuda dan manusia juga tidak dapat memulihkan Yerusalem kecuali kasih setia Allah?
Orang yang mengandalkan kasih setia Allah akan sadar bahwa dari dalam dirinya tidak ada sesuatu pun yang baik. Ini tepat seperti Daud yang hanya mengandalkan kasih setia-Allah untuk pengampunan (Mzm. 51:3). Itu sebabnya kita perlu berharap dan mengandalkan kasih setia-Nya serta senantiasa bermazmur memuliakan Nama-Nya.
- Ia menyatakan diri (ay. 12-20).
Di ayat 13-20 kita melihat bahwa Allah yang besar itu mendekat pada ciptaan-Nya untuk menyatakan diri-Nya. Ada beberapa cara Allah menyatakan diri:
-
- Ia menyatakan diri melalui “Pembalikan Keadaan” (ay. 13-14).
Perlu diketahui, Nehemia membangun tembok Yerusalem sepanjang ± 4.500 m, tebalnya sedikitnya 2 meter dan tingginya 6-12 meter. Nehemia dan orang-orangnya membangun di tengah-tengah rongrongan dan ancaman orang-orang yang menentang pembangunan kembali tembok itu (Neh. 4). Namun proyek itu selesai dalam waktu 52 hari (Neh. 6:15). Ini sangat luar biasa, dan tidak mungkin dikerjakan oleh manusia saja. Bahkan musuh-musuh Israel pun “sadar” bahwa Allah campur tangan dalam proyek ini (Neh. 6:16).
- Ia menyatakan diri melalui “Pembalikan Keadaan” (ay. 13-14).
Hebat, Allah menyatakan diri dengan membalikkan keadaan dari Jerusalem yang tadinya runtuh dan pintu gerbangnya tenggelam (Rat. 2:9) kini berdiri kukuh kembali. Allah juga memberkati anak-anak dan bayi yang sebelumnya pingsan bahkan mati kelaparan (Rat. 2:11-12)
Saat kita mengalami “pembalikan keadaan,” ingat: Allah ada di dalamnya. Jangan merasa diri hebat, pintar bernegosiasi dan melobi untuk mencari klien, mempunyai “kuda dan orang” untuk berhasil. Ingat bahwa keberhasilan kita disebabkan karena Allah yang besar itu berkenan mendekat menyatakan diri di dalam karya kita.
-
- Ia menyatakan diri melalui alam semesta (ay. 15-18).
Ternyata siklus alam yang terjadi adalah karya Firman Allah. Inilah “penyataan umum” (general revelation) dari Allah kepada seluruh umat manusia, seperti dikatakan oleh Rasul Paulus dan Barnabas: Ia menyatakan diri dalam berbagai kebajikan dengan menurunkan hujan dari langit, memberikan musim-musim subur, memuaskan hati dengan makanan dan kegembiraan (Kis. 14:17).
Apakah kita peka bahwa alam semesta ini menceritakan tentang Allah yang besar?
-
- Ia menyatakan diri secara khusus kepada Israel, umat-Nya (ay. 19-20).
Allah menyatakan diri dan Firman-Nya secara khusus kepada Israel. Penyataan ini menuntut respons yang tepat. Namun Israel dahulu telah menganggap remeh penyataan ini berujung pada pemberontakan terang-terangan kepada Allah.
- Ia menyatakan diri secara khusus kepada Israel, umat-Nya (ay. 19-20).
Ini juga terjadi pada Adam dan Hawa. Dalam Kejadian, Allah menyatakan diri secara khusus kepada Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang Ia ciptakan. Allah datang ke mereka face to face. Namun apa yang terjadi saat Adam dan Hawa mengabaikan bahkan menyelewengkan Firman Allah? Ujungnya adalah pemberontakan terhadap Firman.
Apa akibat pemberontakan terhadap Firman penyataan Allah ini? Adam dan Hawa dikutuk mati di tempat yang seharusnya penuh dengan berkat dan kehidupan.
Waspada, dimulai dari meremehkan dan merendahkan Firman Tuhan yang khusus disampaikan karena merasa sudah tahu hingga pada saatnya kita menghadapi situasi pertanyaan ular yang membuat kita tidak dapat menjawab dengan tegas dan benar ketika melihat buah dosa yang tampak enak sekali. Akibatnya kita berbalik melawan Firman, menjadi mati dan terkutuk di gereja, tempat yang seharusnya penuh dengan kehidupan dan berkat.
Bagaimana seharusnya kita merespons Allah yang besar, yang sudah berkenan mendekat untuk menyatakan diri-Nya ini? Di ayat 12 Pemazmur sudah menyatakannya: megahkanlah dan pujilah Allah. Megahkan artinya “besarkan”, “banggakan”. Ini bicara tentang kesaksian sebagai pujian kepada Allah yang besar itu. Jangan biarkan penyataan diri Allah berhenti pada kita saja namun kita lanjutkan penyataan kebesaran Allah ini kepada orang-orang lain agar mereka juga mengenal dan menikmati Allah yang besar dan dekat itu.
Bagi kita sekarang, Allah yang besar itu telah sempurna mendekat dan menyatakan diri-Nya di dalam Anak-Nya, Yesus, yang menopang segala yang ada dengan Firman-Nya (Ibr. 1:1-3).
Sudahkah kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat? Karena di dalam Yesus Kristus, kita mengalami Allah yang besar itu dekat dengan kita. Jangan gagal paham, Yesus bukan manusia yang menjadi Allah tetapi Allah yang menjadi manusia untuk mendekat pada dunia manusia.
Ia Imanuel – Allah menyertai kita (Mat. 1:23) – kapan pun dan di mana pun sehingga kita tidak perlu takut menghadapi apa pun. Kiranya seiring pertumbuhan iman kita, kita makin mengerti bahwa Tuhan tidak hanya menyertai kita tetapi kemana pun Ia pergi, kita mengikut Dia dan berjalan di jalan-Nya.
Kita sekarang mengerti bahwa Allah yang besar juga dekat dengan kita untuk memulihkan kita menjadi ciptaan baru, memelihara kita dengan kepastian keselamatan kekal itulah hidup kekal bersama-Nya (Yoh. 10:28). Ia juga menyatakan diri melalui ciptaan-Nya, secara khusus kepada umat pilihan-Nya dan secara sempurna di dalam Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus. Oleh sebab itu kita patut memuliakan Dia dari hati yang penuh syukur, dengan bermazmur dan memuji-Nya sepanjang masa melalui mulut bibir dan kesaksian hidup kita. Amin.