Shalom,
Perlu diketahui Mazmur 148 termasuk salah satu Mazmur Halelulya (Mazmur 146 – 150) yang memerintahkan kita untuk menyerukan “Haleluya”. Ketika meneriakkan “takbir” Haleluya, kita meletakkan segala persoalan di bawah kaki Tuhan dengan penuh kerendahan hati.
Siapa yang harus memuji Tuhan menurut Mazmur 148?
- Seluruh ciptaan-Nya di jagat raya termasuk kita harus memuji Tuhan (ay. 1-7).
Mengapa segala ciptaan-Nya, termasuk benda mati diperintahkan untuk memuji Tuhan? Ia memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar agar semua ciptaan-Nya memuji Dia secara intensif, terus menerus dan sungguh-sungguh tidak peduli apa pun keadaannya (dalam suka maupun duka) karena Ia bersemayam di atas puji-pujian umat-Nya (mzm. 22:4). Buktinya, tembok Yerikho yang kukuh nan kuat runtuh bukan karena senjata tetapi karena prajurit Israel bersama tujuh imam meniup sangkakala mengelilingi kota sekali selama enam hari dan di hari ketujuh mengelilingi tujuh kali maka runtuhlah tembok itu (Yos. 6).
Sungguh Tuhan tidak pernah mempersulit umat ketebusan-Nya untuk memuji Dia! Ia malah menawarkan siapa pun yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya sebab Ia akan memberi kelegaan kepadanya (Mat. 11:28). Oleh sebab itu di tengah kesukaran dan keterpurukan, jangan lupa perintah untuk memuji Tuhan! Ingat moto: “If you lose your money, you lose something; if you lose your character, you lose everything but if you lose Alleluia, you are nothing”.
Ilustrasi: di tahun 1970an, keong sawah atau kreco menjadi musuh utama petani karena merusak tanaman padi. Namun seiring berjalannya waktu, kreco ini sekarang dikumpulkan orang dan mempunya nilai jual lumayan tinggi karena menjadi konsumsi makanan yang cukup digemari. Demikian pula dengan kondisi lama kita yang penuh dosa kejahatan dan kenajisan padahal Allah tidak pernah menanami benih-benih kejahatan tersebut. Akibatnya, kita menginjak-injak hukum Taurat dan berlakulah hukuman mati. Kemudian Allah memikirkan satu-satunya cara bagaimana manusia yang memusuhi Sang Pencipta menjadi kehidupan yang berharga. Diberikannya Putra Tunggal-Nya, Yesus, mati disalib demi penebusan dosa dan manusia dilahirkan baru menjadi kehidupan berharga yang dapat memuji Sang Pencipta. Terbukti manusia yang diperanakkan dalam kesalahan dan dikandung ibu dalam dosa (Mzm. 51:7) sehingga merusak gambar dari Sang Pencipta mengalami kelahiran kembali melalui air dan darah “rahim” Allah di atas Golgota menjadi jemaat kebenaran. Heran, Allah yang transenden (mahakuasa, mahatinggi, dll.) tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia sekaligus imanen menghampiri kehidupan manusia yang hina nista untuk dilahirbarukan sehingga dapat memuji-Nya serta menaati ketetapan-ketetapan yang telah digariskan oleh-Nya. Waspada, jangan dengan sengaja menyalibkan Yesus untuk kedua kalinya sebab tidak lagi ada pengampunan! Sebaliknya, serahkan hidup kita untuk digarap oleh kuasa Firman dan Roh Kudus-Nya menjadi prajurit kebenaran mengenakan segenap perlengkapan senjata Allah. Ingat, Iblis tidak pernah melakukan gencatan senjata; dia selalu mengaum-aum mencari mangsa kepada siapa pun untuk dipengaruhi dengan uang, kedudukan, pendamping hidup, persoalan, agar jatuh kembali ke dalam dosa. Untuk itu tetaplah memakai seluruh perlengkapan senjata Allah, jangan ada yang tertinggal!
Bayangkan sesibuk apa pun untuk urusan perang melawan musuh dan orang-orang yang mengkhianatinya, Raja Daud tetap memuji Tuhan tujuh kali sehari (Mzm. 119:164) untuk menjaga relasi intim dengan-Nya.
Introspeksi: seberapa sering dalam sehari kita memuji Tuhan? Apakah realsi kita dekat dengan Tuhan dan rindu mengharapkan kehadiran-Nya? Ingat Paulus dan Silas yang melayani Tuhan tanpa mendapatkan upah yang layak melainkan penjara dan sengsara? Namun dalam penderitaan dipenjara, mereka tidak dapat mengunci mulutnya untuk tidak memuji Tuhan (Kis. 16:25) dan Tuhan membebaskan mereka dengan cara-Nya di luar akal manusia (ay. 26).
Aplikasi: di tengah problema apa pun yang menyesakkan dada – kesulitan pekerjaan, mencari nafkah, kesulitan dalam studi dst. jangan lupa “halleluya” hilang dari mulut kita. Kita boleh kehilangan uang, kesehatan dimakan usia, kekuatan makin merosot dll. tetaplah memuji Tuhan sebab tubuh kita adala bait Roh Kudus (1 Kor. 3:16). Jangan menjerit meminta pertolongan-Nya setelah masalah datang!
Seperti doa adalah napas hidup orang percaya, memuji Tuhan merupakan garis orbit hidup orang percaya. Tanpa memuji Tuhan, kita bagaikan keluar dari orbit ketetapan-ketetapan-Nya berakibat kehancuran semata. Bukankah kita juga ranting dari pokok anggur (Yesus)? Bila ranting tidak tinggal pada pokok alias lepas dari-Nya, ranting itu siap dikumpulkan untuk dibakar karena tidak berbuah (Yoh. 15:1-6). Hendaknya kita menghargai kemurahan Allah yang begitu besar, tanpa-Nya kita tidak dapat berbuat apa-apa. Yesus telah bekerja keras sampai titik darah penghabisan di atas kayu salib untuk melahirkan jemaat dan tentara kudus.
- Kita layak memuji Tuhan karena Nama-nya tinggi luhur dan keagungan-Nya mengatasi alam semesta (ay. 13-14).
Orang yang memuji Tuhan layak membuang perkara-perkara yang jahat nan kotor dari mulut yang berasal dari hati. Perhatikan, orang bermulut kotor lebih banyak mengedepankan emosinya ketika ada masalah. Berbeda dengan orang yang hidup dalam ketetapan Allah, dia memprioritaskan memuji Tuhan dan tenang menghadapi masalah betapapun berat dan sulitnya persoalan itu. Dia tidak grusa-grusu menangani masalah yang merugikannya sebab penyelesaian masalah seperti ini malah menambah besarnya masalah. Tentara-tentara kebenaran akan mengedepankan kuasa puji-pujian seperti dilakukan oleh Paulus dan Silas saat berada di dalam penjara.
Aplikasi: kita bagaikan berada di putaran terakhir di arena balapan di penghujung tahun 2025 ini memasuki pergantian tahun baru 2026. Dengan tuntunan Roh Kudus, kita harus mengerahkan energi dan pikiran untuk fokus pada target garis akhir di depan dan menyelesaikan semuanya dengan Haleluya, memuji Tuhan sebab Nama-Nya tinggi luhur dan keagungan-Nya mengatasi bumi dan langit.
Tuhan yang tinggi luhur menjadi dekat bahkan rela darah-Nya tercurah demi keselamatan kita supaya kita memegang satu-satunya Nama Yesus Kristus. Kita dididik untuk menjadi mempelai perempuan-Nya tanpa cacat cela untuk memuji kebesaran-Nya. Dan dalam masa penantian menjelang kedatangan-Nya hendaknya kita mengabaikan hal-hal tidak penting yang merusak kehidupan rohani kita. Ilustrasi: seorang ibu yang normal tidak mungkin meninggalkan anak yang pernah dilahirkan apalagi Tuhan kita, Yesus Kristus, yang rela menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib demi kita, orang berdosa. Selain itu Ia memiliki ketetapan Firman dan kuasa-Nya mengatasi langit.
Masalah kita boleh setinggi langit dan besarnya mengisi ruang pikiran kita namun duduklah memuji Tuhan dan rasakan kehadiran Pribadi-Nya yang mendengar keluhan kita untuk ditolong-Nya. Jangan tidak memuji Tuhan karena sibuk memakai akal sendiri untuk mengatasi persoalan karena bukannya persoalan selesai tetapi malah bertumpuk-tumpuk menahun lamanya.
Marilah kita, umat kepunyaan Allah, senantiasa memuji Dia yang melahirkan kita dan serahkan problem kita kepada-Nya yang kuasa-Nya mengatasi langit dan bumi. Ingat, Tuhan hadir di atas pujian umat-Nya supaya mereka mendapatkan ketenteraman, kedamaian dan sukacita. Orang yang bergembira/bersukacita akan “awet muda” terpancar dari raut wajahnya sebab percaya segala perkara dapat ditanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan. Bukankah Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya (Rm. 8:28)? Pujilah Tuhan yang telah melahirkan kita kembali supaya kita tidak dipenjara oleh kematian kekal tetapi dibebaskan dari kuasa maut. Ia juga melahirkan kita baru untuk dapat melayani Dia dan memuji serta memuliakan Nama-Nya selama-lamanya. Amiin.