Shalom,
Masihkah kita semangat memuji Tuhan di ibadah minggu terakhir dari tahun 2025 ini? Kita akan merenungkan Mazmur terakhir (150) dengan tema “Allah Sebagai Pusat Pujian”. Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu (Mzm. 147:1).
Perlu diketahui sejak awal, pemazmur menyatakan: “Berbahagialah orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan dan merenungkannya siang dan malam.” (Mzm. 1:3) Kemudian pemaparan demi pemaparan Mazmur berikutnya membawa kita ke pelbagai aspek kehidupan – bagaimana memiliki relasi yang baik dengan Tuhan, menyembah dan mengagungkan Dia, menghadapi tantangan dan persoalan hidup bersama-Nya hingga puncaknya (Mzm. 150) di mana segala pujian dan hormat hanya layak diperuntukkan bagi-Nya.
Kita akan mendekati Mazmur 150 dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memahami bagaimana pemazmur telah menjadikan Allah sebagai pusat pujian.
- Apa yang dikerjakan oleh pemazmur (ay. 1-6)?
Pemazmur memuji Tuhan. Tertulis “Pujilah Dia!”, “Pujilah Allah”, hingga 10 kali kata “pujilah” dari ayat 1-5 dilanjutkan dengan ‘biarlah segala yang bernapas memuji Tuhan” (ay. 6).
Introspeksi: apakah kita sudah dan sedang memuji Tuhan? Sering kita tidak sadar saat memuji Tuhan kita sedang melakukan kegiatan ritual yang mulia nan kudus ditujukan kepada Tuhan. Tahukah ketika kita melakukan sesuatu tanpa berpikir atau tidak menyadari apa yang dikerjakan, sesungguhnya aktivitas semacam ini tidak ada nilainya. Misal: memuji dan menyanyi sambil acuh tak acuh tanpa ada pemikiran apa yang kita kerjakan itu bagi Tuhan maka sesungguhnya kegiatan ini tidak ada nilainya. Singkatnya, segala sesuatu yang dilakukan tanpa kesadaran tidak akan ada arti/nilainya.
Alangkah baik dan indahnya bermazmur, memuji serta memuliakan Tuhan! Sama seperti pasangan suami-istri yang merasa bahagia ketika satu sama lain saling menyapa dan memuji penuh kasih (Kid. 1:15-17). Demikianlah hubungan kita dengan Tuhan, pujian kita bukanlah kata-kata kosong atau sekadar menyanyi karena lirik dan melodinya enak didengar di telinga tetapi karena hasil relasi intim kita dengan-Nya.
- Siapa yang dipuji oleh pemazmur? Memuji Allah, Tuhan, Pencipta alam semesta, melalui Firman-Nya (Ibr. 11:3) sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk.1:37).
Aplikasi: kita layak memuji Tuhan sebab Ia senantiasa hadir baik dalam pergumulan hidup ketika tidak ada jalan keluar, Ia sanggup membuka jalan. Bahkan kita dibebaskan dari dosa yang membawa kita pada hukuman kekal untuk beroleh keselamatan. Perhatikan, segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36).
- Di mana Tuhan dipuji oleh pemazmur? Di tempat kudus-Nya, dalam cakrawala-Nya yang kuat. (ay. 1)
Kita patut bersyukur dapat bermazmur dan memuji Tuhan di tempat yang tepat (gereja) namun kita seharusnya juga ikut prihatin karena ada banyak orang percaya tidak dapat beribadah (dengan tenang) oleh sebab bencana alam atau masalah politik yang menghambat pengikutan mereka kepada Kristus.
Kita dapat memuji Tuhan di bait-Nya yang kudus dan menyerukan Nama-Nya di segala tempat. Di zaman Israel, (Perjanjian Lama), Bait Allah menjadi pusat ibadah. Mereka mempersembahkan aneka macam kurban di sana. Hal ini untuk menggenapi janji Tuhan bahwa bahwa keselamatan datang dari Yerusalem (bangsa Yahudi) di mana Sang Juru Selamat (Mesias) tampil (Yoh. 4:22). Bukankah Yesus, Juruselamat, lahir di kota Daud, di Bethlehem, di tanah Yudea? Namun Ia tidak hanya menjadi monopoli orang-orang Yahudi tetapi Nama-Nya besar sampai di luar daerah Israel (Mal. 1:5).
Selain dipuji di bait-Nya yang kudus, Tuhan juga patut dipuji di cakrawala-Nya (bhs. Ibr. raqiya = extended surface = membentang, meluas) yang kuat. Jadi, Nama Tuhan harus dipuji terus sampai ke ujung bumi sebagaimana tercantum dalam Amanat Agung Yesus Kristus bahwa Injil harus diberitakan dimulai dari Yerusalem, seluruh Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi (Mat. 28:19; Kis. 1:8). Semua tempat harus dijangkau oleh Injil Tuhan agar pujian kepada-Nya membentang luas bagaikan cakrawala.
Aplikasi: kita patut memuji Tuhan di mana pun dan kapan pun tidak terbatas di dalam rumah Tuhan saja. Ingat, sekali mengikut Tuhan, hendaknya kita terus mengikut Dia berlanjut dengan melayani serta bersaksi bagi kemuliaan-Nya. Kita menjadi suara pujian di mana pun kita berada, sekarang kita adalah bait Allah (1 Kor. 3:16) sekaligus anggota tubuh Kristus (Ef 5:29-30). Oleh sebab itu hendaknya pujian yang kita nyanyikan keluar dari lubuk hati yang telah dipercik oleh darah Anak Domba Allah yang menyucikan agar berkenan di hadapan-Nya (Ibr. 9:14) seperti mulut bibir najis Yesaya disucikan dengan bara api oleh Serafim (Yes. 6:4-7).
- Mengapa pemazmur memuji Tuhan? Ay 2, Karena keperkasaan dan kebesaran-Nya yang hebat.
Karena perbuatan Tuhan yang besar dan ajaib memilih dan menjadikan kita imamat rajani dan umat kepunyaan Alla sendiri (1 Ptr. 2:9-10). - Bagaimana pemazmur memuji Tuhan? Ay. 3-5, Dengan alat-alat musik seperti gambus, kecapi, rebana, seruling dan tari-tarian. Alangkah indahnya bila alat musik gesek, pukul, petik, tiup, dimainkan dengan aransemen bagus dan menyatu secara harmonis di dalam memuji Tuhan!
Aplikasi: hendaknya pemain musik yang dikaruniai talenta oleh Tuhan memainkan alat musiknya dengan baik untuk memuji dan memuliakan Tuhan.
- Siapa yang harus memuji Tuhan? Ay. 6, Segala yang bernapas hendaknya memuji Tuhan.
Hanya oleh karena kemurahan Tuhan, kita masih dapat bernapas hingga detik ini. Tahukah manusia sekaya dan sehebat apa pun tidak dapat menambahkan sehasta jalan hidupnya (Mat. 6:27; Luk. 12:13-21)? Oleh sebab itu hendaknya kita berjaga-jaga dan waspada terhadap ketamakan sebab hidup kita tidak tergantung pada kekayaan.
Marilah kita menyanyi dengan penuh kesadaran dan menjadikan Allah sebagai pusat pujian sepanjang napas masih ada serta melayani Dia sebagai ucapan syukur kepada-Nya. Biarlah segala kepujian, hormat kita persembahkan hanya kepada Bapa Surgawi di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus. Amin.