Perlu diketahui gereja di Indonesia terdiri dari banyak sinode dan denominasi dengan liturgi, doktrin dan kebijakannya masing-masing yang mungkin berbeda satu sama lain. Lalu bagaimana kita menghadapi masalah-masalah yang membuat kita jauh dari kesempurnaan ini? Apakah kita terus mempertahankan kelemahan ini dan tidak mau disempurnakan? Ilustrasi: kita ingin menyekolahkan anak ke sekolah dengan mutu (ter)baik agar mereka beroleh pendidikan dan ilmu yang bagus. Bagaimana gereja mendapatkan kesucian yang diakui oleh Tuhan bukan oleh manusia yang mempunyai penilaian berbeda-beda?
Bagaimana menjadi jemaat kudus menurut surat 1 Korintus 1:2? “kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.”
Perhatikan, kita harus dapat merasakan penyertaan Tuhan bukan sekadar perasaan daging (jasmani) bukan pula dengan penglihatan tetapi oleh iman (Rm. 1:17; 2 Kor. 4:18). Mengapa? Kaena penglihatan hanya bersifat sementara dan relatif – masing-masing mempunyai nilai beda satu sama lain. Contoh: Paulus, orang Farisi dan rasul, dan Sostenes, kepala rumah ibadat orang Yahudi yang sebelumnya berseberangan dengan Paulus dapat bekerja sama dan menjadi satu setelah sama-sama dikuduskan.
Saat itu Paulus sebagai rasul tidak menggembalakan jemaat Korintus tetapi hadir untuk mengembangkan jemaat namun dalam perkembangannya ada kekeliruan. Ternyata dalam kondisi tidak nyaman pun (dipenjara, dipukuli dll. disalahkan karena mereka membenci kebenaran) Paulus selalu mengawali tulisannya kepada beberapa gereja juga perorangan (Timotius, Titus, Filemon → 1 Tim. 1:2; 2:2; Tit. 1:4; Fil. 1:3), “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai kamu.” Kenyataannya, setelah Yesus bangkit dari kematian dan mau naik ke Surga, bersama 11 murid-Nya naik ke bukit Ia berpesan dan berjanji, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.....ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28;19-20)
Berbicara tentang jemaat Korintus termasuk Sostenes yang dikuduskan melalui sebuah proses sebab tidak ada seorang pun kudus dengan sendirinya. Perhatikan, sesungguhnya manusia di luar Yesus adalah kotor/berdosa dan segala sesuatu yang tidak kudus tidak mungkin masuk Yerusalem baru. Itu sebabnya Yesus berdoa kepada Bapa-Nya supaya orang-orang percaya menjadi satu sama seperti Dia dan Bapa-Nya (Yoh. 17:11). Tak lama setelah itu Ia ditangkap, diadili dan disalib. Di atas kayu salib Ia berseru kepada Bapa untuk mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya sebab mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya (Luk. 23:34). Darah-Nya tertumpah untuk menebus dosa manusia. Dampaknya, salah satu penjahat di sebelah Yesus percaya Ia akan datang sebagai Raja (ay. 42-43). Juga kepala pasukan, non-Yahudi, percaya dan mengaku bahwa Yesus sungguh Anak Allah (Mat. 27:54; Mrk. 15:37-39). Ini menunjukkan bahwa Allah dapat memakai siapa saja untuk menyatakan kebenaran.
Siapa yang mampu menyucikan dosa manusia?
- Darah Yesus.
Kita yang hidup dalam terang bersekutu seorang dengan yang lain dan darah Yesus, Anak-Nya, menyucikan kita dari segala dosa (1 Yoh. 1:7).
- Yesus dan Nama-Nya.
Yesus yang setia dan adil akan mengampuni serta menyucikan kita dari segala kejahatan bila kita mau mengaku dosa (1 Yoh. 1:9). Sebaliknya, jika kita berkata tidak berdosa, kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Paulus mengaku bahwa di dalam dirinya tidak ada yang baik walau dia berkeinginan untuk berbuat baik namun yang diperbuat malah yang jahat (Rm. 7:18-19). Padahal dia orang Parisi yang tidak bercacat dalam menaati hukum Taurat (Flp. 3:6). Heran, waktu dia ketemu Yesus, hidupnya berubah total.
- Tenyata orang yang dikuduskan bukan hanya jemaat di Korintus tetapi meluas mencakup semua orang di segala tempat yang berseru kepada Nama Yesus Kristus Kristus. Bukankah keselamatan ada di dalam Nama-Nya (Kis. 4:12)? Jadi, kalau kita berdoa di dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, kita adalah milik-Nya dan setiap orang yang menyebut Nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan (2 Tim. 2:19). Oleh sebab itu jangan menyebut Nama Tuhan dengan sembarangan.
- Firman Allah.
Yesus memohon kepada Bapa-Nya agar Ia memelihara murid-murid-Nya yang masih di dunia dan menguduskan mereka dalam kebenaran Firman-Nya (Yoh. 17:11,17).
Introspeksi: apakah kita mencintai Firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati untuk dipraktikkan dalam keseharian hidup? Tuhan sangat mengenal hati manusia (1 Sam. 16:7) yang lebih licik dari segala sesuatu (Yer. 17:9). Maukah hati kita dikoreksi untuk disucikan? Yakinlah Firman Allah berkuasa membereskan hidup kita yang sudah rusak dari semula akibat perbuatan dosa Adam dan Hawa yang melanggar perintah Firman Allah. Kita harus menjaga apa yang keluar dari mulut bibir berasal dari hati yang menajiskan (Mat. 15:18-19).
- Roh Kudus yang Tuhan berikan kepada kita.
Roh Kudus menyucikan kita (1 Kor. 6:11) dan saat merenungkan Firman, Roh Kudus mencelikkan mata rohani kita sebab hukum tertulis itu mematikan tetapi Roh menghidupkan (1 Kor. 3:6).
- Air kehidupan.
Dalam persoalan hidup nikah, suami diminta mencintai istrinya seperti Kristus mencintai sidang jemaat-Nya dan menyucikannya dengan air dan Firman (Ef. 5:25-26).
Kita rindu mempunyai sumber air yang terbaik itulah Allah. Ingat, Yesus adalah Gembala baik yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya yang mengenal-Nya (Yoh. 10:14-15). Siapa domba-domba yang mengenal Dia? Bangsa Israel dan orang kafir (“domba-domba’ yang lain).
Aplikasi: hendaknya kita bersedia digembalakan oleh Gembala Agung untuk beroleh air kehidupan yang memuaskan dan hidup menyatu dalam penggembalaan.
Jangan lupa, Yesus berdoa hingga tiga kali menginginkan kesatuan dalam kebersamaan kita hidup (Yoh. 17:11, 21-23). Untuk apa? Supaya di mana Ia berada, kita berada bersama-Nya (ay. 24). Apa penyebab keterpisahan/pemisahan kita dengan-Nya? Dosa dan kejahatan kita (Yes. 59:1-2).
Aplikasi: jangan kita main perasaan sendiri sebab apa yang kita lihat dan rasakan belum tentu dirasakan oleh Allah. Oleh sebab itu jadilah serupa dengan Tuhan dengan menaati perintah Firman-Nya!
Jujur, kita tidak dapat bersatu dan menyatu karena natur manusiawi kita yang berdosa. Kita lebih mementingkan ego ketimbang kepentingan orang lain. Namun Tuhan berkuasa mengucikan kita dengan darah-Nya, Firman-Nya, air kehidupan, Roh Kudus sehingga kita dapat bersatu/bersekutu satu sama lain juga dengan Dia untuk menikmati damai sejahtera dari-Nya. Amin.