Shalom,
Ternyata kesatuan sangatlah mahal hari-hari ini, buktinya ada banyak perpecahan, perceraian dalam kehidupan nikah, dalam organisasi sekuler maupun organisasi gereja (yang katanya berdasarkan satu Alkitab).
Kalau begitu bagaimana penerapan dan pelaksanaan dari tema “Satu dalam Kristus: Jemaat orang-orang Kudus” dalam kehidupan kita?
- Setiap dari kita harus tergabung dalam jemaat tertentu (ay. 2a).
Jemaat tertentu di sini bukan berarti jemaat asal-asalan yang tidak ada namanya atau malah terdengar sangat keren. Bukankah kita juga termasuk jemaat tertentu dengan nama GKA – Gereja Kristus Ajaib – di Jl. Johor 47, Surabaya?
Kalau begitu apa kriteria dari jemaat tertentu itu? Jemaat Allah yang tidak mengultuskan manusia (Kis. 18:7-8) – jemaat yang berpusat pada Allah dan Kristus – yang mempunyai identitas dan lokasi tetap bukan jemaat yang mondar-mandir ke gereja sini-sana kalau malas join di YouTube. Kristen mondar-mandir berakibat arah tujuannya juga tidak menentu. Perhatikan, hamba Tuhan sehebat apa pun harus melakukan tugas pelayanan kepada jemaat milik Tuhan, umat-Nya (ay. 9-10).
Saat itu orang-orang Yahudi melawan Paulus dan membawanya ke pengadilan dengan tuduhan meyakinkan jemaat di Korintus beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat (ay. 12-13). Sesungguhnya, jemaat milik Allah beribadah kepada Allah bukan berdasarkan hukum Taurat. Mengapa? Hukum Taurat itu sendiri baik dan kudus (Rm. 10:5), masalahnya ialah mereka melakukan segala sesuatu berdasarkan Hukum Taurat kemudian menjadi sombong dan memandang rendah kepada orang yang belum melakukan hukum Taurat yang berisikan kasih kepada Allah dan kepada sesama (bnd. Luk. 18:10-14 tentang perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai).
Aplikasi: hendaknya kita beribadah kepada Allah dan saling menghargai satu sama lain siapa pun dan apa pun keadaannya. Jangan memandang rendah jemaat baru atau kita merasa lebih rajin beribadah dibandingkan yang lain! Jangan pula menjadi jemaat milik Taurat sebab Taurat sudah digenapkan oleh Yesus Kristus (Rm. 10:4). Perhatikan, kita beribadah bukan untuk dibenarkan atau dinilai oleh manusia tetapi kita sudah dibenarkan dalam Yesus Kristus maka kita patut beribadah dan melayani Dia dengan penuh ucapan syukur.
Hati jemaat Allah bagaikan ladang yang ditaburi benih Firman Tuhan melalui hamba-hamba-Nya (Paulus, Akwila, Priskila, Silas, Timotius).
Kenyataannya, tidak semua dari mereka menerimanya (Kis. 18:5-6); ada yang menerima (ay. 7-8) tetapi ada pula yang menolak, memusuhi dan menghujat. Yang penting, bukan berapa lama menjadi orang Kristen tetapi cara mendengar dan menerima benih Firman agar iman bertumbuh teguh (Luk. 8:11-15).
Introspeksi: bagaimana sikap hati kita dalam menerima taburan Firman Tuhan? Ia sangat mengenal hati kita dalam menerima Firman-Nya. Jika telah banyak mengomel dan mengkritik penampilan pemimpin pujian dan hamba Tuhan yang menyampaikan Firman, mintalah ampun kepada Tuhan dan perbaiki diri. Jangan menentukan ibadah berdasarkan kehendak dan kepentingan diri sendiri sebab Paulus dipanggil menjadi rasul atas kehendak Allah. Tahukah setiap peristiwa yang kita alami – dukacita-sukacita, kekurangan-diberkati dll. – seizin Tuhan untuk menguji apakah benih Firman Tuhan hidup dan bertumbuh. Apa pun pergumulan hidup yang dihadapi, tetaplah teguh menunaikan tugas pelayanan dan pangilan hidup menjadi lebih dari pemenang. Mintalah Roh Kudus menolong cara kita mendengarkan Firman Tuhan agar tidak dipengaruhi kenyamanan, penampilan, suasana hati manusiawi.
- Setiap dari kita dikuduskan bukan sendirian tetapi dalam persekutuan jemaat tertentu itu (ay. 2b).
Ternyata menjadi orang kudus adalah panggilan individual bukan ikut-ikutan komunitas tetapi tergantung apakah kita mau mendengar dan menanggapi panggilan tersebut.
Tidakkah kita rindu menjadi orang kudus oleh sebab dikuduskan? Kita boleh menyandang status “orang kudus” karena percaya kepada Tuhan tetapi sudahkah perkataan dan berperilaku hidup kita mencerminkan orang kudus?
Apa saja yang harus dikuduskan?
-
- Kesombongan.
Kota Korintus sangatlah strategis dan menjadi kota perdagangan dengan adanya dua pelabuhan. Bangunan gedung-gedungnya modern dan artistik membuat penduduknya sombong dan merasa lebih utama dari yang lain.
- Kesombongan.
-
- Pikiran dengan hikmat dunia.
Di dalam kota Korintus terdapat banyak pemikir dan filsuf yang dikuasai hikmat dunia, membuatnya merasa lebih pandai dari yang lain. Oleh sebab itu banyak yang tidak dapat menerima pemberitaan hikmat Allah itulah Injil salib Kristus.
- Pikiran dengan hikmat dunia.
Aplikasi: hendaknya ilmu pengetahuan tinggi bahkan pengetahuan teologi sekalipun tidak sekadar untuk memperkaya wawasan ilmu tetapi melalui pengetahuan itu hidup kita dikuduskan, iman kita makin teguh, relasi vertikal dengan Allah juga relasi horizontal dengan sesama makin kuat. Tuhan menguduskan kita dari rasa diri lebih pandai dan lebih tahu dari orang lain.
-
- Pola hidup hedonis – gaya hidup berfokus pada kesenangan dan kenikmatan duniawi.
Kota Korintus sebagai kota perdagangan memungkinkan banyak barang mewah masuk menjadikan orang-orang Korintus hidup bermewah-mewahan merasa paling kaya kemudian memandang rendah kaum marginal.
- Pola hidup hedonis – gaya hidup berfokus pada kesenangan dan kenikmatan duniawi.
Aplikasi: hendaknya kita hidup berpadan dengan apa yang kita miliki. Gunakan berkat Tuhan sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan untuk memperkaya atau mempercantik diri.
-
- Dosa seks bebas.
Kota Korintus terkenal dengan praktik pelacuran dan percabulan. Seperti Tuhan menguduskan jemaat Korintus, Ia juga mau menguduskan kita dari keterikatan dengan pornografi, pornoaksi, percabulan, pelacuran dll. Ingat, kita, jemaat Allah, sudah ditunangkan dengan Tuhan Yesus Kristus dan siap menjadi mempelai wanita-Nya. Kita sedang diproses untuk hidup dalam kekudusan melalui berbagai peristiwa kesukaran, penderitaan, tantangan dan pencobaan. Untuk itu jangan gampang gugur hanya karena kesinggung, sakit hati kemudian mundur dari pengikutan kepada Tuhan.
- Dosa seks bebas.
- Setiap dari kita harus saling menyatu dalam tubuh Kristus (ay. 2c).
Tidak ada orang kudus hidup sendirian sebab kekudusan kita adalah untuk tergabung dengan gereja-gereja lain yang juga berseru kepada Nama Tuhan Yesus Kristus dalam kesatuan Tubuh Kristus yang kudus. Jadi jangan berpikiran sempit bahwa Tuhan bekerja hanya di dalam GKA dan GKG tetapi di pelbagai belahan bumi, di setiap tempat di mana Nama Tuhan diserukan, Allah bekerja mnguduskan jemaat-Nya.
Kita semua berjuang dalam kekudusan. Apa pun dosa masa lalu yang terus mengejar kita, Tuhan sanggup menolong kita untuk kelepasan yang terjadi secara progresif sampai tuntas. Perlu diketahui Tuhan memanggil kita tidak menjadi kudus sendiri tetapi kesucian dalam kebersamaan.
Kekudusan dimulai dari kehidupan nikah seperti dialami oleh pasangan Akwila dan Priskila. Mereka menjadi teladan bagaimana hidup nikah dalam kekudusan. Untuk apa kekudusan itu? Melayani Tuhan melalui pelayanan antartubuh Kristus. Contoh: suami-istri saling melayani dalam kekudusan; antaranggota keluarga saling menyemangati, juga orang-orang kudus dalam bidang-bidang pelayanan saling menyemangati dst. Tuhan membawa kita ke dalam kesatuan Tubuh Kristus yang berpusat pada Allah (Teosentris) dan Kristus (Kristosentris).
Firman Tuhan mengajak kita tidak hanya fokus pada gereja lokal tempat kita beribadah atau menjadi jemaat tidak menentu/mondar-mandir atau orang Kristen tanpa pertobatan tetapi menengok pula dunia kekeristenan global yang juga berseru kepada Nama Tuhan Yesus Kristus untuk hidup dalam kesatuan tubuh Kristus. Tentu semua ini diawali dengan makin menyatunya kita di gereja setempat, dikuduskan dalam penaburan Firman oleh hamba-hamba Tuhan dan hidup dalam penggembalaan untuk bersama-sama melayani Tuhan hingga makin banyak orang diselamatkan dan dikuduskan. Betapa sukacita dan berbahagianya bila seluruh umat Tuhan di muka bumi menyerukan Nama Tuhan Yesus Kristus! Amin.